Medan

Jemaah Kloter 09 KNO Terharu Usai Laksanakan Ibadah Haji

Jemaah Kloter 09 KNO Terharu Usai Laksanakan Ibadah Haji
Jemaah haji Kelompok Terbang (Kloter) 9 KNO larut dalam tangisan dan haru ketika mereka telah menyelesaikan ibadah haji secara Tamattu'. Waspada/ist
Kecil Besar
14px

MAKKAH (Waspada): Jemaah haji Kelompok Terbang (Kloter) 9 KNO larut dalam tangisan dan haru ketika mereka telah menyelesaikan ibadah haji secara Tamattu’, Selasa (10/6).

Tampak di antara mereka saling berpelukan dan bersalam salam untuk saling bermaaf – maafan bahkan melakukan sujud syukur kepada Allah SWT.

Hal ini disampaikan oleh ketua kloter 9 KNO Sumut H. M.Lukman Hakim Hasibuan melalui pesan WhatsApp, Lukman mengatakan, rasa syukur karena Allah masih memberikan kepada hambanya pintu rezeki sehingga Allah memberikan kesempatan kepadanya untuk memenuhi panggilanNya melalui pelaksanaan ibadah haji, yang tidak semua umat Islam dapat melakukannya.

“Harta yang banyak dan fisik yang kuat belum tentu membuat orang terdorong untuk berhaji,  sebab hanya kekuatan spiritual  yang membuat  seseorang berhaji. Tidak heran, walau dengan fisik yang lemah karena usia lanjut, duduk diatas kursi roda, menggunakan kaki palsu datang jauh jauh ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji, walau nyawa taruhannya,” ungkapnya.

Kepala KUA Medan Amplas itu mengatakan, berdasarkan data dari  Sistem Komputerisasi Haji terpadu kesehatan  Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH)  Arab Saudi tahun 2025, mencatat ada 178 jemaah haji Indonesia yang yang wafat terdiri 173 jemaah haji reguler dan 5 orang jemaah haji khusus. Banyak faktor penyebabnya, diantaranya adalah  beratnya Medan pelaksanaan puncak ibadah haji saat Arafah, Muzdalifah dan Mina ( Armuzna), terlebih lebih lagi ketika cuaca panas yang bisa mencapai 45 derajat cecius.

Menurutnya, wajar jika dalam kajian fikih, Haji adalah ibadah murakkabah dimana semua aspek terlibat di dalamnya, bukan saja kemampuan materi tapi juga kemampuan fisik, peranan fisik amat penting dalam ibadah haji.

Lukman mengungkapkan, itulah sebabnya, pemerintah Indonesia berusaha meminimalisir jumlah kematian jemaah haji saat berhaji, melalui program istitho’ah yang dikeluarkan oleh dinas kesehatan setempat setelah jemaah melakukan Medical Check Up ( MCU). Tentunya jika fisik sehat kemampuan beribadah akan semakin maksimal.

Situasi psikologis inilah yang membuat  para jemaah haji kloter 9 KNO Sumut tenggelam dalam keharuan dan tangisan, membuat  jemaah haji lain  dari  jazirah Arab, Afrika Turki bahkan Askar Mesjidil haram ikut terharu sembari mengatakan mabrur ya hajj.

“Fenomena kebahagiaan massal ini memang lumrah dilihat, bahkan kemarin, sesaat jemaah KNO 9 Sumut selesai melaksanakan lontar jumroh untuk Nafar awwal, saya melihat dari atas jembatan layang, para supir dan kernet bus yang berjejer, berteriak teriak mabrur..mabrur takbiir..takbiir sambil melambai lambaikan tangan kegirangan saat jemaah keluar  dari terowongan mina  untuk kembali menuju tenda,” ujar Lukman.

Lukman juga  menambahkan, satu jemaahnya atas nama Sri Sukenti (65) penduduk jl. Padang Letda Sujono Medan Tembung yang dalam keadaan  sakit terbaring di rumah sakit King Abdul Aziz saat puncak Armuzna, telah  diikutkan program badal haji.

Itu karena mengingat fisik yang bersangkutan sangat lemah dan tergantung pada alat medis, sehingga tidak memungkinkan baginya ikut Safari Wukuf dan saat sekarang sudah mulai membaik dan tengah berada di klinik Tim Kesehatan Haji Indonesia ( TKHI)  dan akan diikutkan program Tanazul.(m22)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE