MEDAN (Waspada.id): Ketua Umum DPP Asosiasi Depo Kontainer Indonesia (Asdeki) periode 2023-2028, Khairul Mahalli menyampaikan reposisi depo dalam tata kelola kota pelabuhan: mengakhiri paradoks ‘tukang gali’ dengan sub judul: ikhtiar kedaulatan logistik di tengah reruntuhan liberalisme.
Khairul Mahalli menyampaikan itu dalam Variety Talkshow “Utalk” – URadio, Sabtu, 7 Maret 2026. Sebelumnya ia menyapaikan visi misi Asdeki (landasan ideologis).
- Visi: Mewujudkan kemajuan organisasi usaha depo peti kemas bersama pelaku ekonomi lainnya yang bermanfaat bagi anggotanya.
- Misi Utama:
Memperjuangkan dan melindungi hak serta kepentingan anggota, menjalin kerjasama pemerintah dan internasional dan meningkatkan profesionalisme memacu kinerja depo. - Core Value: Kedaulatan, Kemandirian, dan Keadilan Sosial (Sila Kelima Pancasila).
Realitas Pahit Tanjung Priok (Data & Fakta) - Volume Logistik: Rata-rata 2.500 truk/hari; melonjak hingga 5.000–7.000 truk saat sistem pelabuhan gagal.
- Dampak Sosial: Kemacetan parah di ruas jalan kota pelabuhan yang juga menjadi ruang hidup warga.
- Krisis Keselamatan: Ratusan kecelakaan per tahun dengan puluhan korban jiwa, melibatkan truk kontainer berat.
Target: Mengubah logistik dari “Biaya Sosial” menjadi “Nilai Tambah”.
Mengakhiri Paradoks “Tukang Gali”
- Definisi Paradoks: Kaya sumber daya (volume), namun miskin nilai tambah (value-added).
- Hegemoni Global: Perlawanan terhadap sistem neoliberal
(WTO/IMF) yang memaksa negara berkembang hanya menjadi penyedia bahan mentah murah. - Hilirisasi Jasa: Depo bukan sekadar tempat “parkir” kotak besi, melainkan pusat integrasi nilai tambah.
Strategi Ekonomi Makro ASDEKI
- 1. Strategi BOP (Balance of Payments):
o Efisiensi operasional depo = Menekan denda demurrage asing.
o Hasil: Menambal kebocoran devisa negara. - 2. Strategi ATR (Asset to Revenue):
o Optimalisasi aset lahan yang ada melalui teknologi.
Hasil: Kemandirian finansial tanpa ketergantungan utang luar negeri.
Menuju Tata Ruang yang Manusiawi
- Kritik Tata Ruang: Maraknya depo/garasi yang tidak sesuai peruntukan memaksa truk masuk ke pemukiman.
- Komitmen ASDEKI:
o Standarisasi lokasi depo agar tidak merusak zonasi warga.
o Mendukung kontrol sosial dari masyarakat sipil (AJUM).
o Menempatkan keselamatan warga sebagai prioritas utama.
Ada 7 Pilar Kepemimpinan Asdeki dibawah kepemimpinan Khairul Mahalli (2023-2028) yakni:
- Kedaulatan Tuan Rumah: Pemain utama di pelabuhan sendiri.
- Integrasi Tanpa Sekat: Menyatukan ekosistem Sabang-Merauke.
- Harkat & Martabat Anggota: Perlindungan hak dari penindasan sistem liberal.
- Standar Dunia, Kekuatan Lokal: Profesionalisme berjiwa nasionalis.
- Kemandirian Ekonomi: Penguatan struktur modal domestik.
- Sinergi Strategis Pemerintah: Mitra Asta Cita Presiden Prabowo.
- Digitalisasi Berdikari: Keamanan data logistik nasional
Diakhir talkshow itu, Khairul Mahalli menyampaikan kesimpulan dan pernyataan sikap:
- Pesan Kunci: “Negara, operator, dan pelaku usaha tidak boleh saling lepas tanggung jawab.”
- Closing Quote: “Hak atas kota bukan sekadar akses, tapi hak untuk mengubah kota menjadi lebih manusiawi.” (David Harvey).(id96)












