MEDAN (Waspada.id): Pemko Medan dinilai lamban mengatasi dan menangani banjir besar melanda kota metropolitan tersebut yang terjadi sejak Selasa (25/11/2025). Mulainya dari lambannya proses evakuasi karena minimnya petugas maupun peralatan seperti perahu karet hingga suplai bantuan makanan serta minuman.
Seperti yang dialami korban banjir di Medan Marelan pada Sabtu (29/11/2025). Warga mengaku kelaparan karena ketiadaan bahan pangan dan tak bisa beraktifitas. Warga juga mengaku belum menerima bantuan dari Pemko Medan sejak 3 hari mengalami bencana banjir. Bantuan Wali Kota Medan Rico Waas tidak sampai ke tangan mereka.
“Ngapaianlah selfi sana sini, hilir mudik kesana kemari, tapi tak ada bantuan pangan dan obat-obatan yang diberikan,” ucap Eko, warga Lingkungan 13, Kelurahan Terjun ditemui wartawan di pinggir Sungai Bedera yang masih meluap.
Eko mengaku, tak ada bantuan yang mereka terima sejak banjir melanda pemukiman mereka berakibat dia dan keluarga bersama ratusan tetangga mengungsi karena air meluluh lantakkan rumah mereka. “Tidak ada efeknya mereka (Wali Kota Medan-red) datang kemari,” tuturnya.
Dia menyampaikan harapannnya ke Presiden Prabowo Subianto agar memerintahkan bawahannya agar segera membantu masyarakat terdampak banjir.
Hal senada juga disampaikan Mauliana Nasution. Warga Lingkungan 13, Kelurahan Terjun sempat mengejar Wali Kota Medan ke salah satu SPPG yang dikunjungi. Namun Mauliana kecewa ini tak bertemu Rico Waas, karena telah pergi. Ia mengaku belum menerima bantuan apapun dari Pemko Medan. Dia dan keluarga hanya makan mie instan dan telur saja karena tak memiliki uang lagi.
Teriakan lapar dan tak memiliki bahan pangan lagi juga disampaikan puluhan emak-emak warga Kelurahan Terjun di depan SMAN 16 Medan. Emak-emak ini mengaku kelaparan karena kehabisan stok makanan. “Kami lapar pak. Kerabat kami pun sakit. Banjir belum surut. Bantu kami pak,” jerit mereka.
Lambannya suplai pasokan sembako maupun evakuasi warga korban banjir ini mendapat respon dari anggota DPRD Medan. Wakil Ketua DPRD Medan Rajudin Sagala meminta Pemko Medan mendistribuskan makanan, pakaian dan obat-obatan.
“Setelah banjir parah melanda beberapa titik diantaranya Marelan, Deli, Marelan, Helvetia ini sudah memasuki hari ke-3, dari pengakuan warga setempat tak kunjung juga tiba bantuan dalam bentuk apapun, kondisi warga semakin memperihatinkan, diharapkan Pemko segera menyikapi terutama mendistribusikan makanan, pakaian serta obat-obatan,” kata Ustad Rajudin, Sabtu.
Sementara anggota DPRD Medan, Edwin Sugesti Nasution, Minggu (30/11/2025), mendesak Pemko Medan menyediakan sedikitnya dua unit perahu karet di setiap kecamatan yang tergolong rawan banjir. Menurutnya, ketersediaan sarana tersebut merupakan kebutuhan mendesak untuk menjamin keselamatan warga saat bencana melanda.
Edwin menyampaikan desakan itu setelah meninjau langsung kondisi masyarakat terdampak banjir di Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan. Ia menyebut banyak warga mengeluhkan lambannya proses evakuasi karena tidak tersedianya perahu karet, terutama untuk mengevakuasi lansia, anak-anak, dan kelompok rentan lainnya.
Politisi PAN itu menilai minimnya sarana evakuasi menjadi salah satu penyebab keterlambatan penanganan banjir di Medan. Ia menegaskan bahwa Pemko Medan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) harus segera menambah perahu karet, minimal dua unit untuk setiap kecamatan atau satu unit di setiap kelurahan rawan banjir.
Edwin menambahkan, perahu karet yang ditempatkan di titik-titik rawan bencana akan mempercepat waktu tempuh saat proses evakuasi. Dengan jarak yang lebih dekat, petugas dapat bergerak lebih cepat sehingga kepanikan warga dapat diminimalkan ketika banjir terjadi.
Selain sarana evakuasi, Edwin juga menyoroti akses kontak darurat yang sulit dihubungi warga. Ia menyebut banyak nomor layanan darurat, termasuk BPBD Medan dan BPBD Sumut, tidak merespons saat dibutuhkan, sehingga membuat warga semakin panik karena tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa.
Dalam situasi cuaca ekstrem dan ancaman bencana yang meningkat, ia menilai Pemko Medan tidak boleh lengah dan harus meningkatkan kesiapsiagaan. Edwin menekankan bahwa penyediaan alat evakuasi dan sumber daya manusia terlatih merupakan langkah penting untuk menyelamatkan nyawa masyarakat ketika kondisi darurat terjadi.
Edwin juga meminta Pemko Medan segera turun ke Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, yang hingga kini belum mendapat bantuan apa pun sejak 27 November 2025. Ia mengungkapkan bahwa warga semakin kesulitan akibat aliran listrik yang padam serta buruknya sinyal seluler, sehingga komunikasi dengan pihak pemerintah maupun keluarga terganggu. “Ini harus menjadi perhatian serius Wali Kota,” tandasnya.(id96)












