Orangtua Terduga Geng Motor Minta Kapolres Pelabuhan Belawan Peduli Terhadap Pendidikan Anaknya

  • Bagikan
Orangtua Terduga Geng Motor Minta Kapolres Pelabuhan Belawan Peduli Terhadap Pendidikan Anaknya

MEDAN (Waspada): Sejumlah orangtua dari anak-anak usia sekolah yang ditahan di Polres Pelabuhan Belawan karena dugaan terlibat geng motor meminta agar Kapolres Pelabuhan Belawan memberikan penangguhan tahanan luar kepada anak-anak mereka. Pasalnya, masa depan anak-anak terancam suram karena tidak bisa mengikuti pendidikannya dan gagal mendapatkan pekerjaan.

“Kami berharap agar Kapolres Pelabuhan Belawan memberikan penangguhan penahanan terhadap anak-anak kami sesuai mekanisme hukum yang berlaku. Apalagi, selama ini kami sebagai orangtuanya bersikap kooperatif,” ujar Rosleini beru Sembiring kepada sejumlah wartawan di Medan Deli, Rabu (12/7).
Saat itu, Rosleini beru Sembiring didampingi Ritawaty dan Suwardi.
Rosleini menyebutkan saat ini putranya berinisial DTN tidak bisa mengikuti pendidikannya di salah satu SMK swasta. Putra Ritawaty berinisial RS tidak bisa mengikuti perkuliahan sedangkan putra dari Suwardi berinisial DBP yang baru tamat dari SMK Penerbangan gagal mengikuti pendidikan dan latihan (Diklat) sebagai persyaratan untuk mendapatkan pekerjaan.
Tertuga geng motor berinisial DTN, RS dan DBP ditahan setelah foto-foto mereka melakukan latihan fisik di areal perkebunan tebu PTPN II Kebun Klumpang Kebun Kecamatan Hamparanperak Kabupaten Deliserdang, viral di media sosial.
“Seharusnya, Kapolres Pelabuhan Belawan memperhatikan nasib dan masa depan mereka dan bukan membuat masa depan mereka suram. Demi masa depan mereka, saya berharap pak Kapolres memberikan pertimbangan hukum dan memberikan status tahanan luar,” sebut Rosleini.
Selain itu, Rosleini juga merasa karena ‘ketua besar’ geng motor tersebut berinisial MSML sampai sekarang tidak ditangkap alias masih berkeliaran dan sedang mengikuti pendidikan S2 di salah satu perguruan tinggi swasta di Medan.
“MSML adalah ‘ketua besar’ dari geng motor tersebut namun sampai sekarang tidak pernah diperiksa polisi,” ujar Rosleini.

Hal senada juga dilontarkan oleh Suwardi.
Menurut Suwardi, penahanan terhadap anaknya hanya karena kegiatan anak-anak muda yang melakukan latihan fisik di areal kebun tebu menjadi viral di media sosial.
“Kelompok geng motor mereka tidak pernah melakukan tindakan anarkis. Mereka tidak pernah melakukan tindakan kriminal. Saya berharap agar bapak-bapak Polri memaafkan mereka. Saya tak mau masa depan anak saya jadi hancur,” ujar Suwardi.
Dijelaskan Suwardi, rencananya pada 17 Juli mendatang, anaknya berinisial DBP akan mengikuti diklat sebelum diterima bekerja.
“Karena anak saya ditahan, masa depannya terancam suram. Anak saya gagal mendapat pekerjaan. Padahal dia baru tamat SMK. Saya tak mau masa depan anak saya hancur gara-gara kasus ini,” tutur Suwardi lagi.
Suwardi mengaku, setelah tamat SMK Penerbangan, putranya ingin melanjutkan pendidikan/sekolah pilot di Yogyakarta namun namun sebagai orangtua dirinya belum mampu membiayai sekolah pilot tersebut sehingga dirinya merasa gembira karena anaknya diterima masuk diklat meskipun akhirnya gagal karena mendekam dalam sel Polres Pelabuhan Belawan.
Selain itu, Suwardi dan tiga lagi orangtua dari tiga terduga geng motor juga tidak menduga kalau anak mereka akhirnya ditahan di Polres Pelabuhan Belawan, apalagi dirinya bersama warga lainnya mengantarkan anak-anaknya yang terlibat geng motor ke Polres Pelabuhan Belawan.
“Selama ini, kami para orangtua sangat kooperatif. Kami yang membawa anak-anak kami ke kantor Kepala Desa Klumpang Kebun untuk menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Selanjutnya, dari kantor Kepala Desa Klumpang Kebun, anak-anak kami dibawa ke Polsek Hamparanperak. Oleh Kapolsek Hamparanperak, anak-anak kami dibawa ke kantor Polres Pelabuhan Belawan,” cerita Suwardi.
Singkat cerita, tambah Suwardi, anak-anak mereka akhirnya ditahan dengan tuduhan perekrutan orang dan pemukulan. Mereka ditahan setelah dilakukan rekonstruksi/reka ulang di areal perkebunan tebu tanpa disaksikan oleh orangtua anak.
“Saya terkejut, kok anak saya dan dua temannya malah ditahan dengan tuduhan melakukan perekrutan orang dan pemukulan setelah pelaksanaan rekonstruksi. Padahal, yang dipukul adalah teman mereka sendiri. Itupun sifatnya bukan pemukulan serius karena apa yang mereka lakukan adalah semacam plonco sesama mereka,” pungkas Suwardi lagi.(m27)

Waspada/Andi Aria Tirtayasa

Tiga orangtua dari tiga terduga tersangka geng motor meminta Kapolres Pelabuhan Belawan peduli terhadap kelanjutan pendidikan anak-anak mereka yang ditahan di Polres Pelabuhan Belawan.

  • Bagikan