MEDAN (Waspada): Komisi D DPRD Sumatera Utara mengecam ketidakhadiran sejumlah pengembang dalam rapat dengar pendapat (RDP) lanjutan yang membahas persoalan banjir berulang di kawasan Jalan Meteorologi, Jalan Pancing hingga Jalan Bhayangkara Simpang BW, perbatasan Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang. Sikap mangkir tersebut dinilai sebagai bentuk ketidakseriusan pengembang dalam menyikapi keluhan masyarakat.
Anggota DPRD Sumut Abdul Rahim Siregar (ARS) secara khusus menyoroti sikap PT Citraland yang tidak menghadiri rapat meski telah diundang secara resmi oleh dewan.
Hal itu disampaikan politisi PKS tersebut dalam RDP bersama perwakilan masyarakat Perumahan Meteorologi I Medan dan Komplek Albarokah serta sejumlah instansi terkait, seperti Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Sumut dan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera II Medan, di ruang rapat dewan, Selasa (10/3).
Rapat dipimpin Wakil Ketua Komisi D DPRD Sumut Yahdi Khoir Harahap, didampingi anggota Victor Silaen, Jumadi, Abdul Rahim Siregar, dan Benny Harianto Sihotang.
Namun rapat tersebut tidak dihadiri para pengembang yang telah diundang, yakni Agung Sedayu Group, Citraland, dan Jewel Group. Sementara dari pihak dinas dan kementerian vertikal hanya diwakili pejabat setingkat kepala bidang.
Menyikapi ketidakhadiran itu, Abdul Rahim Siregar mengaku kesal. Menurutnya, PT Citraland terkesan tidak menghargai undangan DPRD Sumut karena tidak hadir tanpa memberikan pemberitahuan.
Selain itu, hingga kini pihak pengembang juga belum menindaklanjuti rekomendasi Komisi D dalam rapat sebelumnya pada 22 Februari 2026 agar dilakukan pelebaran drainase yang sempit di jalur penghubung dari Jalan Meteorologi menuju RS Haji Medan.
Menurut ARS, jika kondisi tersebut terus dibiarkan, banjir akan terus melanda Perumahan Meteorologi I, Komplek Albarokah, serta kawasan sekitarnya.
Banjir Terparah
Banjir besar yang terjadi pada 25 November 2025 lalu menyebabkan air meluap dan menggenangi dua kawasan perumahan di Jalan Meteorologi yang berada di wilayah perbatasan Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang.
Senny, warga Perumahan Meteorologi I, mengatakan banjir yang terjadi beberapa waktu lalu merupakan yang terparah dalam beberapa tahun terakhir. Ia menyebut sebelumnya kawasan tersebut tidak pernah mengalami banjir separah itu.
Menurutnya, kecilnya drainase di sepanjang Jalan Willem Iskandar atau Jalan Pancing diduga menjadi salah satu penyebab utama meluapnya air saat hujan deras berlangsung selama beberapa hari.
“Kami biasanya menunggu sekitar empat jam hingga air surut. Namun saat banjir terakhir, air baru surut setelah hampir 22 jam,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Milhan dan Yusri, warga Komplek Albarokah. Mereka menduga banjir terjadi akibat penyempitan drainase dari sekitar tiga meter menjadi hanya satu meter di jalur menuju Jalan Meteorologi.
Selain itu, mereka juga menilai adanya pembelokan saluran air di kawasan perumahan Citraland menyebabkan aliran air berubah arah sehingga genangan meluas ke permukiman warga.
Warga menyebut banjir dan genangan air yang terjadi pada akhir November hingga Desember 2025 lalu merupakan yang paling parah dalam 20 tahun terakhir dan mulai dirasakan sejak adanya pembangunan kawasan perumahan Citraland dan Agung Sedayu Group di sekitar wilayah tersebut.
Menyikapi berbagai keluhan warga, Wakil Ketua Komisi D DPRD Sumut Yahdi Khoir Harahap akhirnya menskors rapat dan akan menjadwalkan ulang pemanggilan para pengembang, termasuk PT Citraland, Agung Sedayu Group, dan Jewel Group.
Ia menegaskan, pemanggilan ulang tersebut juga akan melibatkan pihak penegak hukum, yakni Gakkum Dinas Lingkungan Hidup serta Direktorat Kriminal Khusus Polda Sumut, karena persoalan banjir tersebut dinilai berkaitan langsung dengan aktivitas pembangunan di kawasan tersebut.(id12)











