Medan

Isra Mikraj Momentum Penguatan Iman Dan Keteladanan Spiritual Umat Islam

Isra Mikraj Momentum Penguatan Iman Dan Keteladanan Spiritual Umat Islam
M. Arif Tanjung. Waspada.id/ist
Kecil Besar
14px

MEDAN (Waspada.id): Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW tahun 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat keimanan dan memperdalam pemahaman spiritual umat Islam terhadap kebesaran Allah SWT.

Hal tersebut disampaikan Pemerhati Sosial dan Tokoh Masyarakat, M. Arif Tanjung, kepada wartawan di Medan, Jumat (16/6).

Menurut Arif Tanjung, peristiwa Isra Mikraj bukan sekadar perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW, melainkan sarat dengan nilai keteladanan spiritual yang menjadi fondasi utama kehidupan beragama umat Islam, khususnya dalam penetapan kewajiban sholat lima waktu.

“Isra Mikraj menguatkan keimanan atas kebesaran Allah SWT serta mengajarkan keteguhan dalam menjalankan sholat lima waktu sebagai inti dari ibadah seorang Muslim,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Isra Mikraj terjadi pada masa yang sangat berat dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW. Namun, dari kesedihan dan ujian itulah Allah SWT menghadirkan kemuliaan yang luar biasa, sebagai bukti bahwa setiap kesulitan pasti disertai kemudahan.

“Peristiwa ini mendidik umat Islam untuk bersabar dalam menghadapi ujian hidup dari segi apa pun. Kesabaran adalah jalan menuju pertolongan Allah,” tambahnya.

Arif Tanjung juga menekankan bahwa hikmah Isra Mikraj mengajarkan pentingnya kebersihan hati sebagai wujud kesadaran akan persatuan dan keadilan sosial. Menurutnya, hati yang bersih akan melahirkan sikap adil, toleran, dan mampu menjaga persaudaraan di tengah perbedaan.

Isra Mikraj sendiri merupakan peristiwa agung yang menjadi dasar ditetapkannya perintah sholat lima waktu, satu-satunya ibadah yang diperintahkan langsung oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW tanpa perantara malaikat. Peristiwa ini disebutkan dalam Al-Qur’an dan dikuatkan oleh sejumlah hadits shahih.

Lebih jauh, Isra Mikraj juga menunjukkan kekuasaan Allah SWT yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Perjalanan Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha, menegaskan bahwa keimanan tidak semata-mata bertumpu pada logika, tetapi pada keyakinan hati.

“Dalam urusan dunia, logika diperlukan. Namun dalam urusan akhirat, rasa dan keyakinan hati menjadi kunci utama,” jelasnya.

Selain itu, peristiwa Isra Mikraj menegaskan kemuliaan Masjidil Aqsa, kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul terakhir, serta menjadi ujian keimanan bagi umat Islam saat itu dan hingga kini. Kisah tersebut mengajarkan bahwa iman sejati adalah kepercayaan penuh kepada Allah dan Rasul-Nya, meski melampaui batas nalar manusia.

Melalui peringatan Isra Mikraj 2026, Arif Tanjung mengajak umat Islam menjadikan sholat sebagai sarana membangun kedisiplinan, tanggung jawab, serta hubungan langsung antara hamba dan Allah SWT.

“Sholat adalah simbol kedekatan paling hakiki antara hamba dan Rabb-nya. Dalam sujud, manusia berada pada posisi terdekat dengan Allah,” pungkasnya.

Peringatan Isra Mikraj diharapkan tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga menjadi sarana refleksi untuk memperbaiki kualitas iman, ibadah, dan kehidupan sosial umat Islam secara menyeluruh. (id23)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE