Psikolog Nilai Pelaku Begal Minim Sentuhan Peran Ayah dan Alami Gangguan Kepribadian

  • Bagikan
DIREKTUR Minauli Consulting Medan Dra Irma Minauli, MSi. Waspada/Ist
DIREKTUR Minauli Consulting Medan Dra Irma Minauli, MSi. Waspada/Ist

MEDAN (Waspada): Belakangan ini tindakan Kejahatan jalanan atau begal menjadi momok di Kota Medan. Bahkan pelaku begal tak-tanggung melakukan aksi bejatnya hingga menghilangkan nyawa korbannya. Seperti pembegalan mahasiswa UMSU dan beberapa kasus lainnya.

Melihat hal ini, Irna Minauli (foto), Psikolog Direktur Minauli Consulting mengatakan sangat prihatin dan ia menyayangkan bahwa masalah penegakan hukum saat ini dinilainya masih terlalu lembek, khususnya bagi pelaku yang masih di bawah umur. Hal inilah yang meresahkan masyarakat karena dianggap kurang sesuai dengan kejahatan yang mereka lakukan.

“Masih lembek penindakan hukum yang dilakukan aparat hukum, ini jugalah yang membuat keresahan di masyarakat kita saat ini,” tegasnya kepada Waspada, Jumat (30/6).

Ia juga menjelaskan Begal yang terjadi saat ini adalah suatu tindak kejahatan yang lebih berpeluang menimbulkan trauma bagi korban karena dilakukan secara mendadak dan langsung berhadapan dengan pelaku yang sering disertai tindak kekerasan yang bahkan dapat mengancam nyawa korban. Hal ini sedikit berbeda dengan pencurian sepeda motor yang hanya menyebabkan kehilangan kendaraannya semata.

Katanya pelaku begal yang disertai kekerasan seringkali dibawah pengaruh narkoba sehingga mereka memiliki keberanian dan berkurang empatinya. Mereka tidak memiliki belas kasihan dan hanya mementingkan keinginannya untuk segera mendapatkan hasil.

Bahkan motif ekonomi sering melatarbelakangi terjadinya pembegalan. Akan tetapi hal ini diperkuat oleh adanya masalah gangguan kepribadian (conduct disorder) pada pelaku pembegalan yang berusia di bawah 18 tahun. Gangguan perilaku inilah yang membuat mereka seringkali melakukan tindakan melanggar hukum. Itu sebabnya gangguan ini sering disertai masalah kecanduan narkoba.

Jika ditinjau dari penyebabnya, umumnya para pelaku kejahatan seperti pembegalan adalah mereka yang tidak mendapatkan sentuhan peran ayah (fatherless) dalam kehidupannya. Saat ini, Indonesia menduduki posisi tertinggi dalam masalah ketiadaan peran ayah (fatherless) ini. Hal ini dikhawatirkan akan menjadi pemicu maraknya kejahatan.

“Tiadanya peran ayah menyebabkan anak kurang memiliki disiplin dan tidak menghargai figur otoritas lain seperti guru atau orang dewasa lain. Secara emosional menjadi labil dan impulsif,” jelasnya lagi.

Itu sebabnya sebut Irna Minauli penegakan disiplin dan aturan serta norma-norma agama menjadi sangat penting dalam penanganan remaja yang sudah memperlihatkan kejahatan yang di luar batas. Jika tidak ditangani dengan baik, dapat melahirkan para psikopat yang dengan kejam dapat melakukan kejahatannya. (cbud)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *