MEDAN (Waspada id): Kondisi Lapangan Merdeka Medan kembali menuai sorotan publik. Meski proyek revitalisasi besar-besaran telah rampung dan diresmikan pada awal 2025, dinilai perawatan salah satu ruang publik bersejarah di jantung Kota Medan itu belum sebanding dengan anggaran fantastis yang telah digelontorkan pemerintah.
Pemerhati Pembangunan Infrastruktur Sumatera Utara, Erick L Tobing, mengungkapkan kekecewaannya saat berkunjung bersama keluarga untuk berolahraga di kawasan tersebut. Menurutnya, Lapangan Merdeka bukan sekadar fasilitas umum, melainkan simbol kebanggaan masyarakat Kota Medan.
“Ini bukan sekadar lapangan biasa, tapi simbol kebanggaan warga Medan. Sudah dibangun dengan biaya mahal, tapi perawatannya terkesan kurang maksimal,” ujarnya pada Minggu (4/1).
Erick menyoroti persoalan kebersihan serta pemeliharaan fasilitas umum yang dinilainya masih luput dari perhatian pihak berwenang.
Ia menilai, tanpa perawatan yang serius, wajah baru Lapangan Merdeka akan cepat kehilangan nilai dan fungsinya sebagai ruang publik representatif.
Anggaran Revitalisasi Fantastis
Revitalisasi Lapangan Merdeka merupakan program strategis Pemerintah Kota Medan untuk mengembalikan fungsi kawasan tersebut sebagai ruang terbuka hijau, ruang publik, sekaligus kawasan cagar budaya. Proyek ini mulai dikerjakan sejak 2022 dan dilaksanakan dalam beberapa tahap besar.
Berdasarkan keterangan resmi Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang Kota Medan sebelumnya, total nilai kontrak revitalisasi mencapai sekitar Rp497 miliar dengan skema multiyears.
Anggaran tersebut mencakup pembangunan basement dua lantai, area parkir, museum, galeri seni, panggung rakyat, sistem drainase, tata cahaya, serta penataan ruang terbuka hijau di atasnya.
Realisasi anggaran dilakukan secara bertahap melalui APBD Kota Medan, dimulai dengan sekitar Rp91 miliar pada tahap awal untuk pekerjaan penggalian basement, lalu berlanjut hingga ratusan miliar rupiah pada tahun-tahun berikutnya.
Saat diresmikan pada 19 Februari 2025, bertepatan dengan akhir masa jabatan Wali Kota Medan saat itu, Bobby Nasution, revitalisasi Lapangan Merdeka disambut antusias. Kawasan ini diharapkan mampu menghidupkan kembali aktivitas sosial, budaya, sekaligus mendorong perekonomian lokal melalui fasilitas UMKM.
Namun seiring waktu, berbagai keluhan mulai bermunculan. Selain persoalan kebersihan dan perawatan fasilitas, warga juga menyoroti masih maraknya juru parkir liar serta minimnya pengawasan petugas, meski tarif parkir resmi telah diatur melalui peraturan daerah.
Erick Tobing menegaskan, Lapangan Merdeka seharusnya menjadi ruang publik yang nyaman, aman, dan membanggakan bagi warga, bukan justru mencerminkan lemahnya pengelolaan aset publik.
Ia berharap Wali Kota Medan saat ini, Rico Waas, dapat segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki sistem perawatan dan pengawasan kawasan tersebut.
“Nilai Sejarah dan Harapan Publik
Lapangan Merdeka memiliki nilai historis tinggi sebagai salah satu tonggak perjalanan kemerdekaan Republik Indonesia di Sumatera Utara. Selama puluhan tahun, kawasan ini menjadi pusat kegiatan masyarakat,” ungkapnya.
Warga berharap revitalisasi dengan anggaran ratusan miliar rupiah tersebut tidak berhenti pada pembangunan fisik semata, melainkan diiringi dengan pengelolaan dan perawatan yang berkelanjutan agar Lapangan Merdeka benar-benar menjadi ruang publik yang berdaya guna dan layak dinikmati generasi mendatang.(id20)











