MEDAN (Waspada.id): Simpang siur dan santernya pemberitaan terkait mobil listrik yang terbakar dan dikaitkan dengan Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menunjukkan adanya persoalan transparansi sebagai pejabat publik.
‘’Seharusnya Bobby Nasution transparan saja, bukan reaktif. Menyuruh orang mengecek, sebagai pejabat publik bisa menjelaskan posisi dengan jelas,’’ ucap pengamat publik, Elfenda Ananda kepada Waspada.id, Jumat (9/1/2026).
Gubernur Bobby, kata Elfenda, harus klarifikasi apakah mobil tersebut miliknya atau tidak, atas nama siapa. ‘’Jangan bersifat ambigu. Kalimat ambigu justeru memperpanjang spekulasi,’’ cetusnya.
Elfenda pun prihatin, terlalu banyak masyarakat sekarang ini dibuat bingung oleh para pejabat publik yang pernyataannya bertolak belakang dengan fakta sesungguhnya. ‘’Sulit menemukan sikap kejujuran, tanggungjawab dan transparansi serta integritas yang tinggi,’’ ungkapnya.
Dari sisi media, kata Elfenda, sebenarnya pihak media sudah melakukan kros chek berdasarkan data sistem administrasi manunggal satu atap Samsat Medan Provinsi Sumatera Utara bahwa mobil listrik yang terbakar berplat BK 1373 AFV.
Tahun perakitan mobil tersebut 2024 dengan masa berlaku pajak kenderaan hingga 15 februari 2026 dan masa berlaku STNK hingga 15 Februari 2030 atas nama PT. Wirasena Cipta Reswara beralamat Komp. Tasbi Setia Budi Square No.28 Kelurahan Tanjung Sari Kec. Medan Selayang.
Tercatat dalam laporan Indonesia Corruption Watch (ICW) pernah (2024) melaporkan Bobby Nasution merupakan komisaris PT.Wirasena Cipta Reswara. Ia memiliki saham senilai Rp9,3 Miliar. Salah satu proyek PT. Wirasena Cipta Reswara ialah pembangunan perumahan bersubsidi Sukabumi Sejahtera Satu yang bekerja sama dengan pemerintah dan BTN di Cikembar dan Perusahaan ini juga ekspansi ke sektor tambang dengan menanam saham Rp5,7 Miliar di PT. Sambas Minerals Mining.
Elfenda mengatakan, untuk mengungkap kebenaran atas kasus mobil terbakar yang diduga milik Bobby Nasution ini, aparat kepolisian seharusnya tidak boleh hanya bersandar pada data administratif semata.
‘’Kepemilikan kendaraan dan penyebab kebakaran harus dibuktikan secara ilmiah dengan melakukan audit forensik kenderaan serta menegakkan hukum melalui olah TKP yang serius, terbuka, dan melibatkan para ahli,’’ cetusnya.
Tanpa langkah ini, kata Elfenda, publik berhak curiga bahwa ada fakta yang disembunyikan. Data Samsat memang penting, tetapi itu bukan satu-satunya alat bukti. Penyelidikan harus diperluas dengan pemeriksaan lapangan, analisis forensik, dan pendapat ahli hukum agar tidak ada ruang bagi spekulasi maupun rekayasa kesimpulan.
Sebelumnya, Gubernur Sumut Bobby Nasution kepada wartawan, Kamis (8/1/2026), malam, membantah spekulasi yang beredar.
Orang nomor satu di Sumatera Utara ini meminta pihak-pihak terkait untuk melakukan verifikasi data kepemilikan secara terbuka melalui identitas kendaraan yang ada.
Menantu mantan Presiden Jokowi ini mempersilakan publik maupun awak media untuk menelusuri nomor polisi atau plat kendaraan tersebut guna membuktikan kebenaran kepemilikannya.
“Bukan (mobil Hyundai Ioniq 5N yang terbakar) dicek saja, itukan terbuka. Enggak ada ditutup-tutupin platnya apa silakan di cek saja. Dicek aja, itu plat mobilnya ada ada semua silakan di cek aja,” jelas Bobby Nasution usai menghadiri sebuah kegiatan perayaan Natal di Kantor Gubernur Sumut pada Kamis (8/1/2026) malam.
Sebelumnya, Waspada.id memberitakan dugaan satu unit mobil listrik yang terbakar di salah satu lahan bangunan mirip bengkel yang berisi puluhan mobil di Jl. Sei Asahan, Medan, Rabu (7/1/2026) pagi, ternyata benar milik Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Bobby Nasution.
Data yang diperoleh wartawan dari online Samsat Keliling Medan Selatan 2, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Kamis (8/1/2026), mobil listrik merek Hyundai IONIQ 5 N dengan nomor plat BK 1373 AFV tersebut tercatat atas nama sebuah perusahaan.
Perusahaan real estate itu bernama PT. Wirasena Cipta Reswara dengan beralamat di Komp. Tasbi Setiabudi Square No.28, Kel. Tanjungsari, Kec. Medan Selayang, Kota Medan, dipastikan milik Gubsu Bobby Nasution.
Saat ditelusuri profil PT. Wirasena Cipta Reswara di laman antikorupsi.org, Indonesia Corruption Watch (ICW), disebut bahwa Bobby Nasution merupakan komisaris diperusahaan tersebut. Ia memiliki saham senilai Rp9,3 miliar.
Salah satu proyek PT. Wirasena Cipta Reswara adalah pembangunan perumahan bersubsidi Sukabumi Sejahtera Satu yang bekerja sama dengan pemerintah dan Bank BTN di Cikembar, Sukabumi, Jawa Barat.
Perusahaan itu juga memperluas ekspansi ke sektor tambang, dengan menanam saham Rp5,7 miliar di PT. Sambas Minerals Mining.
Sementara sumber Waspada.id yang merupakan mantan pejabat yang namanya tidak ingin disebutkan mengatakan tidak hanya mobil, lahan dan bangunan mirip bengkel tempat terbakarnya mobil listrik tersebut juga milik Bobby Nasution.
‘’Bangunan mirip bengkel punya Bobby itu. Iya, dia punya itu waktu masih Wali Kota Medan,’’ kata sumber tersebut kepada Waspada.id melalui pesan whatsapp.
Waspada.id yang terus berupaya mengkonfirmasi persoalan tersebut kepada Gubernur Sumut Bobby Nasution belum juga berhasil. Berulang kali di telpon dan kirim pesan, tidak direspon. Pesan whatsapp yang dikirim centang dua tanda dibaca, namun tidak dibalas. Begitu juga saat ditelpon tidak diangkat.
Kronologi
Satu unit mobil listrik mewah yang diduga milik Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution (Bobby Nasution) musnah terbakar saat parkir di salah satu tempat di Jl. Sei Asahan, Medan, Rabu (7/1/2026), sekira pukul 10.23 WIB.
Belum diketahui pasti penyebab terbakarnya mobil listrik merek Hyundai IONIQ 5 N tersebut. Namun dugaan sementara dikarenakan baterai mobil bermasalah.
Dua unit mobil damkar milik Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Medan dan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Sumut turun ke lokasi.
Plt Kepala Dinas (Kadis) DPKP Kota Medan, Wandro Abadi Agnellus Malau kepada wartawan mengatakan, mobil listrik tersebut terbakar saat berada di dalam bengkel. Penyebab kebakaran diduga berasal dari aliran listrik pada baterai mobil.
‘’Kebakaran diduga dari aliran listrik baterai mobil sehingga mengakibatkan kebakaran,” ujarnya seraya menambahkan saat proses pemadaman, petugas tidak hanya menyemprotkan air, tetapi juga menggunakan cairan khusus busa (foam).
Wandro mengungkapkan bahwa pemilik mobil listrik tersebut tak diketahui. Pasalnya petugas hanya fokus melakukan pemadaman api. “Untuk kepemilikannya belum diketahui karena anggota fokus melakukan pemadaman,” katanya.
Namun sebelumnya, Wandro menjelaskan soal dihapusnya informasi terbakarnya satu unit mobil listrik di bengkel Jalan Sei Asahan, Kecamatan Medan Selayang.
Menurut Wandro, postingan yang ada di grup Whatsapp itu dihapus lantaran adanya permintaan salah seorang warga di lokasi. Dikatakannya, saat melakukan pemadaman api, petugas Damkar lainnya yang turun ke lokasi sempat mengambil foto dan video sebagai dokumen untuk pelaporan.
“Dari pengakuan anggota, mereka dilarang mendokumentasikan kejadian itu. Kita kurang tau itu pemilik bengkel atau tidak, yang jelas orang itu ada di lokasi. Makanya tadi sempat dihapus informasinya,” ujarnya.
Wandro menegaskan tidak memiliki kepentingan apapun atas insiden tersebut.“Prinsipnya begitu, saat mendapat laporan ada kebakaran, kita langsung turun ke lokasi memadamkan api. Jadi ketika ada kejadian seperti ini (penghapusan informasi) tentu di luar kendali. Tadi anggota juga sempat saya tegur, karena belum ada komunikasi ke saya sehingga informasinya menjadi miss,” katanya.
Soal insiden kebakaran, Wandro mengaku api sudah berhasil dipadamkan 30 menit setelah kejadian. “Yang terbakar 1 unit mobil listrik. Tadi sudah kita padamkan pakai cairan foam. Beruntung tidak menyebar ke bangunan maupun mobil lainnya yang terparkir di sana,” katanya.
Sementara, informasi yang diperoleh dari kalangan ‘Media Bapak’ atau orang dekat Bobby bahwa mobil listrik yang terbakar tersebut memang milik Gubernur Bobby Nasution.
Terbakarnya mobil listrik tersebut jelas ditutup-tutupi dan telah dikondisikan agar tidak menyebut nama pemilik mobil. ‘’Wartawan dan pemilik media sosial yang ada dilapangan diberi sejumlah uang, agar nama pemilik lahan dan mobil tidak disebut,’’ ucap salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Saat peristiwa kebakaran mobil listrik tersebut terjadi, selain petugas pemadam kebakaran, lokasi juga dikawal orang-orang berpakaian preman dan puluhan anggota Satpol PP Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.(id96)











