#Tegaskan Literasi Cetak Harus Berdampingan Dengan Digital
MEDAN (Waspada.id): Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan, Ketua Pengurus Badan Koordinasi Pembangunan Masyarakat Pantai Timur (Badko PMPT) Sumatera Utara, Syarifuddin Siba, menegaskan bahwa buku cetak tetap memiliki posisi strategis dalam membangun peradaban dan kualitas sumber daya manusia.
Penegasan itu disampaikannya saat membuka Pagelaran dan Pameran Buku bertajuk “Buku Tak Pernah Lapuk”, Selasa (27/1/2026), di Aobi Cave Siba, Jalan Singgalang No.1 Medan.
Pagelaran literasi yang berlangsung hingga 29 Januari 2026 tersebut dihadiri Ketua SATUPENA Sumatera Utara Shafwan Hadi Umry, tokoh Melayu Nisful Khair, para penulis, akademisi, pegiat literasi, komunitas buku, serta puluhan undangan dari berbagai kalangan. Kegiatan ini menjadi ruang temu lintas generasi untuk membahas masa depan literasi di tengah perubahan zaman.
Dalam sambutannya, Syarifuddin Siba mengapresiasi terselenggaranya pagelaran buku tersebut. Menurutnya, kemajuan sebuah bangsa tidak pernah terlepas dari budaya membaca dan menulis yang kuat. Buku, kata dia, bukan sekadar kumpulan teks, melainkan rekam jejak pemikiran manusia yang membentuk nilai, karakter, dan arah peradaban.
“Kita bisa maju karena buku. Ada kesan dan pesan yang berbeda antara menulis dengan kreativitas manusia dibandingkan kreasi berbasis kecerdasan buatan. Buku lahir dari proses berpikir, perenungan, dan pengalaman yang panjang,” ujar Syarifuddin.
Ia mengakui bahwa teknologi digital dan kecerdasan buatan telah memberikan kemudahan dalam mengakses informasi. Namun, kemudahan tersebut tidak boleh menggeser peran buku cetak sebagai sarana pendalaman ilmu dan pembentukan nalar kritis. Menurutnya, literasi cetak dan literasi digital harus berjalan berdampingan, saling melengkapi, bukan saling meniadakan.
Sebagai bentuk komitmen, Syarifuddin menyatakan kesiapan menjadikan Aobi Cave Siba sebagai knowledge and art café, ruang kreatif yang mendorong diskusi intelektual, pertukaran gagasan, serta kegiatan seni dan literasi. Ia berharap ruang tersebut dapat menjadi titik temu penulis, akademisi, pelajar, dan masyarakat umum.
“Ke depan, kegiatan literasi seperti ini perlu digelar secara rutin, minimal tiga bulan sekali. Kita ingin membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial,” tegasnya.
Tokoh Melayu Nisful Khair dalam kesempatan tersebut menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pagelaran buku. Ia menilai kegiatan ini relevan dengan kondisi sosial saat ini, di mana masyarakat semakin terbiasa berbicara dan berkomentar, tetapi semakin jarang membaca dan menulis secara mendalam.
Ia menyebut fenomena tersebut sebagai kondisi “pandai bercakap, tetapi tak pernah berkitab”. Menurutnya, arus informasi yang deras di ruang digital justru membuat sebagian masyarakat menjauh dari tradisi membaca buku sebagai sumber pengetahuan yang utuh.
“Di tengah derasnya teknologi informasi, kita justru melupakan buku. Padahal buku telah mengantarkan banyak orang menjadi pejabat, pemimpin, dan tokoh masyarakat,” ujarnya.
Nisful yang juga dosen mengaku prihatin terhadap kondisi akademik saat ini. Ia menilai karya ilmiah mahasiswa, seperti skripsi, semakin mudah dibuat melalui praktik copy paste berbasis kecerdasan buatan, tanpa pendalaman substansi dan tanggung jawab ilmiah yang memadai.
Sementara itu, Ketua Panitia yang juga Ketua SATUPENA Sumatera Utara, Shafwan Hadi Umry, menegaskan bahwa Pagelaran dan Pameran Buku “Buku Tak Pernah Lapuk” bertujuan menegaskan kembali relevansi literasi cetak di tengah dominasi budaya digital instan.
“Literasi cetak tidak boleh tersingkir. Ia harus berjalan berdampingan dengan literasi digital agar masyarakat memiliki kedalaman berpikir, kepekaan intelektual, sekaligus kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman,” ujar Shafwan.
Ia juga mengungkapkan keprihatinannya setelah lebih dari 42 tahun mengabdi sebagai dosen Fakultas Hukum UISU. Menurutnya, kemampuan membaca dan menulis mahasiswa cenderung menurun akibat budaya serba instan yang ditawarkan teknologi digital.
“Dulu pembaca mencari buku, sekarang buku yang harus mencari pembaca,” katanya.
Rangkaian kegiatan dalam pagelaran ini meliputi diskusi literasi bertema “Masa Depan Literasi Cetak Berdampingan dengan Literasi Digital” yang menghadirkan narasumber Fosad/Sulaiman Sambas, Dr. M. Ali Pawiro, dan Syarifuddin Siba. Selain itu, digelar pameran buku dari berbagai penerbit dan komunitas literasi, antara lain Toko Buku Walisongo, Balai Bahasa Sumatera Utara, Pusat Dokumentasi T. Luckman Sinar, serta karya para penulis SATUPENA Sumut.
Kegiatan ini juga melibatkan siswa-siswi SMP dan SMA di Kota Medan sebagai upaya menumbuhkan minat baca sejak dini. Kehadiran pelajar diharapkan menjadi jembatan regenerasi literasi agar budaya membaca tidak terputus oleh perubahan teknologi.
Pagelaran dan Pameran Buku “Buku Tak Pernah Lapuk” terbuka untuk umum dan direncanakan ditutup oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sumatera Utara, Desni Maharani Saragih, pada 29 Januari 2026.
Acara pembukaan pagelaran buku tersebut diakhiri dengan pembacaan puisi karya Shafwan Hadi Umry yang menggugah refleksi tentang makna buku, kata, dan ingatan peradaban. Suasana kegiatan kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah antara penulis, pegiat literasi, akademisi, pelajar, serta para undangan yang hadir, menandai semangat kebersamaan dalam merawat budaya baca dan tulis di Sumatera Utara. (red)










