MEDAN (Waspada.id) : Semangat warga Desa Mekar Sawit pascabencana terlihat nyata melalui kolaborasi dengan dunia akademisi. Tim Mahasiswa Berdampak dari Himpunan Mahasiswa Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (HIMAGRI FP UMSU) bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Agroteknologi (HIMAGRO) dan Himpunan Mahasiswa Teknologi Informasi (HIMATIF) menyerahkan bantuan peralatan pemulihan bencana kepada warga setempat.
Keterangan yang diperoleh di Medan, Selasa (7/4), menyebutkan, prosesi serah terima dilakukan secara simbolis oleh perwakilan tim mahasiswa kepada pengurus desa dan mitra, disaksikan perangkat desa, tokoh masyarakat, dan warga. Ketua tim pelaksana, Dr. Aflahun Fadhly Siregar, S.P., M.P., menyatakan bantuan ini bertujuan mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat sistem mitigasi bencana, khususnya menghadapi risiko banjir. “Kami berharap alat ini menjadi bagian dari solusi berkelanjutan untuk meningkatkan ketahanan dan taraf hidup desa,” ujarnya.
Bantuan yang diserahkan mencakup perangkat pembuat biobriket sebagai energi ramah lingkungan, kelengkapan alat untuk UMKM Lidi, serta sarana mitigasi sederhana yang dapat langsung dimanfaatkan warga dalam kondisi darurat maupun kegiatan sehari-hari. Semua bantuan disiapkan berdasarkan identifikasi kebutuhan riil masyarakat melalui pendekatan partisipatif.
Perwakilan mitra desa, Zulkarnain, Ketua Karang Taruna Desa Mekar Sawit, menyampaikan apresiasi. “Bantuan ini tidak hanya menyediakan fasilitas fisik, tetapi juga transfer ilmu dan pendampingan teknis yang sangat membantu kami mempersiapkan diri menghadapi bencana serta mempercepat pemulihan ekonomi keluarga,” ujarnya.
Kegiatan ini menunjukkan peran mahasiswa sebagai agen perubahan, aktif mencari solusi atas persoalan sosial melalui gotong royong dan kolaborasi lintas disiplin ilmu. HIMAGRI FP UMSU berharap program serupa dapat terus berkembang dan menginspirasi desa-desa lain, menegaskan komitmennya mendukung pembangunan desa yang tangguh, mandiri, dan berkelanjutan.
Selain itu, program ini juga membuka peluang bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah secara nyata di lapangan. Pendekatan interdisipliner yang diterapkan memadukan aspek agribisnis, teknologi informasi, dan agroteknologi sehingga solusi yang diberikan lebih tepat sasaran dan berdampak jangka panjang bagi masyarakat.
Para mahasiswa juga melakukan pendampingan berkelanjutan pascabantuan, termasuk pelatihan penggunaan peralatan dan strategi mitigasi risiko bencana. Langkah ini memastikan warga tidak hanya menerima bantuan fisik, tetapi juga kemampuan praktis yang dapat meningkatkan kemandirian dan kesiapsiagaan desa menghadapi bencana di masa depan. (rel)










