MEDAN (Waspada.id): Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. meninjau progres pembangunan Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) di Desa Saintis, Kecamatan Percut Sei Tuan, Deliserdang, Rabu (28/1).
Pada kunjungan tersebut, Wamen Diktisaintek didampingi Rektor UMSU, Prof. Dr. Agussani, M.AP, Wakil Rektor I UMSU, Prof. Dr. Muhammad Arifin Gultom, S.H., M.Hum., Wakil Rektor II UMSU, Prof. Dr. Akrim, M.Pd serta pimpinan Fakultas.
Pada kesempatan itu, Prof. Fauzan menyampaikan bahwa pembangunan Auditorium dan Sport Hall kampus terpadu UMSU menunjukkan perkembangan yang signifikan. Perubahan pada kawasan serta akses masuk kampus menjadi indikator nyata adanya progres pembangunan.
Menurutnya, pembangunan kampus terpadu UMSU dapat dikategorikan sebagai pembangunan yang aktif dan berkelanjutan. Dia menyebut konsep tersebut sebagai pembangunan “Hidup Sehat” yakni pembangunan yang terus menunjukkan kemajuan dari waktu ke waktu.
“Ini namanya pembangunan hidup. Ada pembangunan mati, setengah mati, hidup, dan hidup sehat yang ini kategorinya pembangunan hidup sehat, artinya selalu menunjukkan progres dari hari ke hari, dari bulan ke bulan,” jelasnya.
Wakil Menteri Diktisaintek itu juga mengapresiasi komitmen pimpinan UMSU dalam percepatan pembangunan auditorium berkapasitas 7000 orang dan sporthall yang mampu menampung 2500 pengunjung. Menurut Prof. Fauzan, Kampus Terpadu UMSU ditargetkan siap sepenuhnya pada awal tahun 2027 guna mendukung pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah.
“Saya kira ini komitmen yang luar biasa, karena harapannya di awal tahun 2027 ini sudah bisa 100 persen siap untuk kegiatan Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah,” ujarnya.
Lebih lanjut, dia menyoroti posisi strategis kampus terpadu UMSU yang berada di kawasan industri. Meski Sumatera Utara dan UMSU telah dikenal luas, keberadaan gedung mampus terpadu ini dinilai masih perlu diperkenalkan lebih jauh kepada publik.
“Kalau Sumatera Utara sudah banyak yang kenal, kemudian UMSU juga banyak yang kenal, tetapi gedung ini belum banyak yang kenal. Padahal posisinya sangat strategis di kawasan industri,” ungkapnya.
Menurut Prof. Fauzan, kampus terpadu UMSU menjadi satu-satunya perguruan tinggi Muhammadiyah di Indonesia yang memiliki kawasan pembangunan di area industri. Kondisi tersebut dinilai sangat mendukung penguatan pembelajaran sekaligus kemitraan dengan dunia industri.
“Kampus ini juga akan difungsikan sebagai kampus pembelajaran, sehingga kemitraan dengan industri akan semakin kuat. Fakultas-fakultas yang ada di sini nantinya adalah fakultas yang keahliannya dekat dengan industri yang sudah ada di lingkungan sekitar,” jelasnya.
Selain fungsi akademik, dia juga menyinggung keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta lahan pertanian di kawasan Kampus Terpadu UMSU. Hal tersebut dinilai sebagai bentuk diversifikasi yang baik bagi perguruan tinggi swasta.
“Ini ciri khas perguruan tinggi swasta, bagaimana memperoleh pendanaan tidak semata-mata dari iuran mahasiswa, tetapi dari usaha-usaha yang dikembangkan ke depan. Tentu saja usaha-usaha berbasis riset perlu terus ditingkatkan,” katanya.
Dia menilai keberadaan berbagai unit usaha tersebut menunjukkan bahwa UMSU merupakan kampus inovatif yang tidak hanya menjalankan fungsi pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga pembelajaran berbasis pengalaman dan kewirausahaan.
“Kampus ini menjalankan fungsinya tidak hanya sekadar pembelajaran di kelas, tetapi juga pembelajaran alamiah berbasis entrepreneurship,” pungkasnya.(wsp.id)











