MEDAN (Waspada.id): Sebanyak 10.000 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat resmi dilepas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) untuk terjun langsung mendukung pemulihan wilayah terdampak bencana di Sumatra. Prosesi dilakukan secara simbolis, di hadapan ribuan mahasiswa yang hadir di Auditorium Universitas Negeri Medan, Sumatera Utara, Rabu (28/1).
Dalam program ini Unimed dapat terbanyak dari Provinsi Sumatera Utara dibangingkan dari Perguruan Tinggi lain, berdasarkan data penerima dari Kemendiktisaintek, Unimed 7 Proposal, Universitas Sari Mutiara 5 proposal, USU 4 proposal, Institut Kesehatan Deli Husada, UMSU, dan Universitas Satya Terra Bhineka masing-masing 3 proposal, IBKI, POLMED, UNPRI, 2 proposal dan STIK Mitra Sejati, STIKES Siti Hajar, UNIVA, Universitas Deli Sumatera, UISU, Universitas Mahkota Tricom Unggul, UMN, UNPAB, dan Universitas Tjut Nyak Dhien masing-masing 1 proposal. Semua proposal ada 50 orang mahasiswa dan 3-4 orang dosen pendamping.
Program bertajuk “Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemulihan Dampak Bencana di Sumatra”, menjadi langkah strategis pemerintah dalam menjawab tantangan pemulihan pascabencana yang bersifat kompleks dan berkepanjangan. Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Sumatra di penghujung tahun 2025 meninggalkan dampak serius terhadap kondisi sosial ekonomi, dan kebutuhan dasar masyarakat.
Selama ini, penanganan pascabencana kerap terfokus pada fase tanggap darurat. Di sinilah mahasiswa diposisikan sebagai aktor kunci. Dengan kemampuan adaptasi tinggi, pendekatan sosial yang lentur, serta bekal pengetahuan lintas disiplin, mahasiswa dinilai mampu mengisi celah antara respons darurat dan pemulihan jangka panjang berbasis kapasitas lokal.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang), Fauzan Adziman menekankan bahwa keterlibatan mahasiswa juga merupakan bagian dari proses pembelajaran yang utuh, bukan sekadar kegiatan kemanusiaan jangka pendek.
Setiap kelompok mahasiswa didampingi oleh tim dosen pembimbing yang memiliki kompetensi riset dan inovasi, sehingga penerapan teknologi di lapangan tetap berbasis kajian ilmiah dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Selanjutnya, ia menyampaikan “Kita menyesuaikan kebutuhan daerah terdampak dengan jumlah mahasiswa yang diturunkan. Penyebaran mahasiswa terbanyak di Aceh yakni di Kabupaten Aceh Tamiang, sementara di Sumatra Utara ada di Kabupaten Tapanuli Selatan dan di Sumatra Barat adalah di Kabupaten Agam.
Salah satu kekuatan utama program ini adalah penerapan inovasi teknologi tepat guna. Inovasi yang dibawa mahasiswa merupakan hasil riset perguruan tinggi yang disesuaikan dengan kondisi riil masyarakat, bukan solusi generik yang sulit diterapkan di lapangan.
Bidang intervensi mencakup pemulihan ekonomi masyarakat, peningkatan akses layanan publik dan fasilitas umum, pemenuhan kebutuhan kesehatan, serta penguatan pengetahuan dan keterampilan warga pascabencana guna mendukung perekonomian mereka.
Dalam sektor pangan, mahasiswa mendorong ketahanan pangan berkelanjutan melalui diversifikasi pangan lokal, pertanian pascabencana, hingga pengembangan sistem hidroponik yang dapat diterapkan di lahan terbatas.
Pada bidang energi dan layanan dasar, mahasiswa mengimplementasikan teknologi penyediaan air bersih, pencahayaan berbasis tenaga surya, serta pemulihan akses listrik bagi fasilitas vital masyarakat.Sektor kesehatan juga menjadi perhatian utama, termasuk pemenuhan layanan kesehatan dasar, pendampingan psikososial, serta trauma healing bagi kelompok rentan yang terdampak bencana.
“Program ini mengadopsi pendekatan social impact challenge, yaitu metode pemberdayaan masyarakat berbasis tantangan nyata di lapangan yang diselesaikan melalui kolaborasi lintas disiplin antara mahasiswa dan dosen. Pendekatan tersebut memastikan bahwa setiap solusi yang diterapkan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat, bukan semata-mata memenuhi target administratif program. Secara hukum, program Mahasiswa Berdampak selaras dengan amanat Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, yang menekankan pentingnya menghasilkan lulusan berkarakter, peduli sosial, dan mampu berkontribusi nyata bagi masyarakat. Program ini menunjukkan bahwa kampus memiliki peran strategis dalam penanganan isu-isu kebencanaan nasional, tidak hanya melalui riset, tetapi juga aksi nyata di lapangan. Selain itu, program ini juga termasuk prioritas dari Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto yang mendorong generasi muda untuk membawa perubahan bagi kemajuan Indonesia,” ujar Dirjen Fauzan.
Pada sambutannya, Rektor Unimed Prof. Dr. Baharuddin, ST., M.Pd. menyampaikan, bagi Universitas Negeri Medan, kepercayaan ini sejalan dengan komitmen kami sebagai kampus berdampak, yang menempatkan pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian integral dari Tridarma Perguruan Tinggi.
“Kami memandang kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial, tetapi sebagai upaya memastikan keberlanjutan kolaborasi, dan manfaat nyata bagi masyarakat terdampak. Pada tahun 2026 ini, program mahasiswa berdampak ini melibatkan 18 perguruan tinggi di Sumatera Utara dengan kurang lebih 2.000 mahasiswa dari berbagai latar belakang keilmuan,” katanya.
Keterlibatan universitas negeri dan swasta, politeknik, serta institusi kesehatan menunjukkan bahwa upaya pemulihan bencana membutuhkan kolaborasi lintas institusi dan pendekatan multidisipliner, mulai dari pendidikan, kesehatan, teknologi, hingga pemberdayaan sosial masyarakat.”
Prof. Baharuddin pun berpesan kepada para mahasiswa peserta, “jadikan kegiatan ini sebagai ruang belajar kehidupan. Hadirlah di tengah masyarakat dengan sikap rendah hati, semangat empati, dan kerja kolaboratif, sehingga kehadiran adik-adik mahasiswa benar-benar memberi arti dan harapan bagi proses pemulihan.
Akhir kata, atas nama Universitas Negeri Medan, kami menyampaikan terima kasih kepada Kemendiktisaintek, seluruh perguruan tinggi peserta, mitra kebencanaan, serta semua pihak yang telah berkontribusi dalam terselenggaranya program ini.
Semoga Program Mahasiswa Berdampak dalam Pemulihan Dampak Bencana di Sumatera Utara Tahun 2026 berjalan lancar dan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat.(wsp.id)











