Visi-Misi Isu Kesehatan Para Capres Dan Cawapres Masih Belum Menggaung

  • Bagikan
Visi-Misi Isu Kesehatan Para Capres Dan Cawapres Masih Belum Menggaung

MEDAN (Waspada): Meski sudah tertuang di masing-masing visi dan misi para calon presiden (Capres) dan calon wakil presiden (cawapres) terkait isu kesehatan, namun sayangnya sampai saat belum ini belum begitu menggaung. Padahal bagi para pakar, isu kesehatan ini sangat penting dan krusial.

Seperti yang diungkapkan Pakar Kesehatan Sumatera Utara (Sumut) dari Universitas Sumatera Utara (USU), Dr. dr. Delyuzar M.Ked(PA), Sp.PA(K), ia melihat isu kesehatan ini masih belum menggaung dari ketiga pasangan capres dan cawapres, yakni Anis-Muhaimin, Ganjar-Mahfud, dan Prabowo-Gibran.

Ia menilai mengapa isu kesehatan belum menggaung dari ketiga pasangan capres itu, karena adanya ketidakfahaman atas isu kesehatan saat ini.

“Harusnya tim suksesnya harus belajar lebih banyak tentang isu-isu kesehatan masyarakat. Supaya kedepan mereka (capres dan cawapres) bisa menyelesaikan persoalan yang menyangkut kesehatan masyarakat yang masih banyak lagi yang harus ditangani seperti penyakit menular, dan tidak menular. Saya masih melihat belum begitu paham para calon presiden kita atas persoalan kesehatan jadi harus belajar lagi,” jelas Delyuzar pada Selasa (26/12).

Delyuzar megatakan banyak isu kesehatan yang harusnya menjadi sangat penting untuk perhatian para capres dan cawapres, namun katanya apakah ini karena belum ada topik khusus untuk isu kesehatan atau ada alasan lain, namun ia menilai sejauh ini masih belum komprehensif tawaran tentang isu kesehatan.

“Apa karena mungkin topik kesehatan belum dibahas secara khusus padahal kalau kita lihat isu yang menyangkut tantangan penyakit kedepan yang bisa menghancurkan ekonomi kita itu masih belum dipahami lebih dalam, isu soal bagaimana mencegah stunting belum begitu komprehensif, isu terkait misalnya persoalan bagaimana preventif, promotif belum menjadi isu yang fokus karena masih banyak yang menyelesaikan persoalan kesehatan secara instan, harusnya ada proses-proses,” terangnya.

Atau katanya lagi mungkin tidak terlalu menarik bagi para capres dan cawapres bahasan isu kesehatan padahal dampaknya sangat penting seperti pada masa pandemi beberapa tahun kemarin, negara sebutnya kalangkabut menghadapinya.

Karena, jelas Delyuzar pertama, masyarakat tidak terbiasa menghadapi pencegahan penyakit menular sehingga kondisinya babak belur dibandingkan banyak negara yang mengalami hal yang sama.

Kedua persoalan kebugaran, kalau banyak negara kebugarannya lebih baik dari Indonesia, sehingga dampaknya lebih jadi lebih berat kalau ada emerging disease ataupun yang terjadi.

Kemudian disorotinya persoalan pola hidup yang harus juga menjadi isu yang penting, sehingga preventif dan promotif itu menjadi bahagian yang harus dikerjakan.

Kalau tidak, hanya pelayanan kesehatan yang menghadapinya dan itu biayanya akan lebih tinggi padahal banyak yang bisa dicegah dan itu katanya yang harus dipahami para capres dan cawapres.

Belum Menggaung

Hal yang sama juga diungkapkan Sekretaris Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Medan, dr. Galdi Walfi, M.Ked(An),Sp.An bahwa ia melihat
Isu kesehatan belum menggaung.

Padahal akunya harusnya menjadi hal penting karena berhubungan dengan masalah kesehatan yang terjadi beberapa tahun belakangan ini seperti pandemi Covid-19.

Apalagi katanya saat ini juga mulai mendengar ada kenaikan kasus Covid-19 dan harusnya ini menjadi perhatian bagi para calon pemimpin negara ini.

Galdi Walfi mengatakan bahwa di visi misi para capres sudah ada tentang kesehatan hanya saja tidak sebesar masalah yang lain seperti infrastruktur, ekonomi dan lainnya.

Tetapi ia melihat ada beberapa masalah kesehatan yang sering dibahas hanya masalah stunting padahal banyak isu lain terutama tentang kebijakan pemerintah yang bukan hanya masalah stunting.

“Sangat penting sekali ketiga capres dan cawapres membahas isu kesehatan terutama lagi terkait alokasi pendanaan,” bebernya.

Visi-Misi Isu Kesehatan Tiga Capres

Sementara itu, berdasarkan informasi dari berbagai sumber, ini visi-misi ketiga capres terkait isu kesehatan, Anies-Muhaimin, yaitu mewujudkan manusia Indonesia yang sehat, cerdas, produktif, berakhlak, serta berbudaya.

Selain itu, Anies-Muhaimin juga akan memperbaiki fasilitas kesehatan, yakni puskesmas hingga rumah sakit kelas A di setiap daerah.

Dalam agenda misi kesehatannya, Anies-Muhaimin berjanji memberikan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang andal atau dapat dipercaya.

Hal itu dilakukan dengan memastikan masyarakat terlindungi oleh program JKN, hingga mewujudkan dan memperkuat pelayanan sistem rujukan yang mudah didukung dengan bantuan teknologi informasi.

Pasangan calon ini juga berfokus pada kesehatan ibu, bayi dan tumbuh kembang anak dengan menargetkan angka stunting dari 21,6% pada 2022 menjadi 11% sampai 12,5% pada 2029.

Anies-Muhaimin juga berjanji akan menekan angka kematian ibu dan bayi dengan penguatan peran posyandu dan puskesmas, ditambah pemenuhan gizi yang seimbang serta terjangkau untuk ibu hamil dan anak usia 0-8 tahun.

Kemudian, Anies-Muhaimin juga akan memperhatikan kesehatan mental masyarakat dengan memberikan edukasi tentang pentingnya kesehatan mental hingga menyediakan layanan pengaduan 24 jam yang terintegrasi ke rumah sakit dan rumah aman.

Dalam agenda selanjutnya, pasangan calon ini akan memastikan keseimbangan tata kelola tenaga kesehatan, yaitu tercukupinya tenaga kesehatan dan medis di setiap daerah. Bahkan, mereka juga akan mengajak masyarakat untuk menerapkan pola hidup dan lingkungan yang sehat.

Terakhir, Anies-Muhaimin berjanji akan menyiapkan langkah sebagai kesiapan dan daya tahan terhadap pandemi, yaitu dengan mempercepat penghapusan penyakit menular hingga meningkatkan kesadaran masyarakat terkait ancaman pandemi berikutnya.

Kemudian, Ganjar-Mahfud, visi misi yang membahas tentang kesehatan, yaitu kesehatan jiwa dan raga. Ganjar-Mahfud memiliki program kerja satu desa satu puskesmas hingga satu dokter atau tenaga kesehatan.

Selanjutnya, Ganjar-Mahfud berjanji akan memberikan layanan Konsul Keliling (Koling), yang dilakukan oleh tenaga kesehatan berkeliling dari pintu ke pintu untuk memberikan pelayanan kesehatan. Keduanya juga mendukung program ibu dan anak sehat dengan memberikan gizi hingga akses layanan kesehatan selama masa kehamilan dan menyusui.

Terakhir, pasangan calon ini juga peduli pada kesehatan mental dengan menyediakan nomor darurat 24 jam selama seminggu penuh tanpa dipungut biaya. Mereka juga berjanji untuk memberikan kemudahan dalam mengakses layanan kesehatan.

Sementara Prabowo-Gibran memiliki program pemberian makan siang dan susu gratis di sekolah dan pesantren. Mereka juga peduli terhadap kesehatan ibu hamil dan anak balita dengan memberikan bantuan gizi untuk meningkatkan kesehatan. Program ini ditargetkan mencapai lebih dari 80 juta penerima manfaat pada 2029.

Prioritas Utama

Pasangan calon ini juga memiliki prioritas utama untuk enyelenggarakan pemeriksaan kesehatan tanpa dipungut biaya serta memiliki target menurunkan kasus tuberkulosis (TBC) menjadi 50% dalam lima tahun, serta membangun rumah sakit yang lengkap dan berkualitas di kabupaten. Prabowo-Gibran juga akan melanjutkan dan menambahkan program kartu kesejahteraan sosial, termasuk Kartu Indonesia Sehat (KIS).

Selanjutnya, dalam delapan misi asta cita, mereka juga berjanji untuk memperkuat sistem kesehatan nasional, yang dilakukan dengan memperkuat sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), kartu anak sehat, dan mencegah terjadinya stunting pada anak Indonesia dengan melakukan gerakan Emas (Emak-Emak dan Anak-Anak Minum Susu).

Terakhir, Prabowo-Gibran juga berjanji akan memperkuat program gerakan masyarakat hidup sehat, meningkatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas, dan memperbaiki tata kelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Terakhir, mereka ingin memperbaiki kualitas air bersih dan meningkatkan program keluarga berencana (cbud)

teks foto

Para capres dan cawapres. Waspada/ist

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *