Wisata Medis Dinilai Hanya Jargon, Setahun Dilaunching Tujuan Belum Tercapai

  • Bagikan
Wisata Medis Dinilai Hanya Jargon, Setahun Dilaunching Tujuan Belum Tercapai

MEDAN (Waspada): Program wisata medis telah lebih dari satu tahun sejak dicanangkan di Kota Medan tepatnya ketika dilaunching pada Agustus tahun 2022 lalu. Namun sejauh ini, progresnya masih belum terlihat signifikan dan euforianya juga seakan menurun begitu saja.

Padahal, semangat awal lahirnya program Medan Medical Tourism Board (MMTB) ini adalah untuk menurunkan angka warga Medan yang berobat keluar negeri.

Salah seorang warga Medan, Yudha, menilai jika pengobatan yang didapatkan di Penang, Malaysia, pelayanannya terbilang jauh lebih baik dari Tanah Air. Sebab, selain diagnosa dapat diketahui lebih cepat, juga penjelasan dokter sangat rinci dan akurat.

Hal ini kata dia, karena dokter yang bertugas di sana pelayanannya dibatasi untuk beberapa pasien saja setiap hari. Sehingga tidak ada lagi dokter yang praktek ke tempat lain.

“Tapi di sini masih terjadi (praktek lebih dari satu) karena gajinya kecil. Jadi kalau sudah diperbaiki standardisasi dokter, perawat, alkes dan pelayanannya, orang pasti akan datang berobat ke Medan tidak usah lagi hari pakai judul wisata medis,” katanya kepada wartawan, Senin (18/9).

Dia juga menyebutkan, jika pun seorang pasien harus melakukan wisata medis, tujuannya tentu bukan Kota Medan, karena destinasi wisata itu ada di Danau Toba bukannya di Medan. Selain itu, sambungnya, di Penang, pasien yang berobat juta bukan mikirin wisata tapi karena pelayanan yang bagus dan kepastian pengobatan yang jelas serta biaya terjangkau dan berbagai kemudahan lain

“Orang sakit nggak mikirin wisata. Sehat saja dia sudah syukur, jadi yang penting itu yang ada saat ini saja diperbaiki,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua MMTB Destanul Aulia menyatakan, selama setahun lebih program wisata medis, progresnya terbilang cukup baik dari sisi usaha rumah sakit untuk mempromosikan layanan unggulannya.

“Artinya, dengan adanya Medan Medical Tourism Board (MMTB) ini telah mengatur aktivitas wisata medis, sehingga yang berhubungan dengan pemasaran itu meningkat,” ungkapnya, Senin (18/9).

Dia menjelaskan, pada awal pembentukannya, pihaknya hanya berani tampil pada acara yang sifatnya sudah direncanakan seperti roadshow ke daerah. Hal ini, jelasnya untuk mempromosikan layanan unggulan rumah sakit layanan medis karena melihat banyak masyarakat sumut yang tidak berobat ke Medan.

“Di tahun pertama kita mengidentifikasi kota-kota yang masyarakatnya banyak pergi berobat. Disitu kita ajak 12 rumah sakit untuk mempromosikan layanan unggulannya,” ujarnya.

Adapun rumah sakit yang mendapat SK dari Kemenkes untuk wisata medis ini, sebutnya ada tujuh rumah sakit yaitu Royal Prima, Columbia Asia, Murni Teguh, Siloam, RS Adam Malik, Pirngadi dan Putri Hijau.

Kemudian bertambah karena dilihat ada beberapa rumah sakit yang berpotensi menjadi rumah sakit wisata, namun terbentur dengan syarat Kemenkes terkait Tipe, karena RS wisata medis ini harus tipe A dan tipe B.

“Jadi kita sudah melihat secara fisik sudah setara dengan standard, sehingga RS wisata medis menjadi bertambah saat ini menjadi 12,” terangnya.

Destanul mengaku, tujuan hadirnya wisata medis ini bagaimana agar masyarakat tidak berobat ke luar negeri dan mengajak masyarakat luar negri berobat disini belum tercapai. Namun dia mengakui hal itu belum tercapai.

“Saya pastikan belum, secara statistik itu tidak signifikan tetapi kita sudah memulainya karena di negara lain pun untuk membangun sebuah wisata medis itu perlu waktu,” sebutnya.

“Artinya harus meluncurkan banyak anggaran, kegiatan dan investasi serta juga merangkul semua orang untuk membangun medical tourism ini,” sambungnya.

Menurut Destanul, kenapa wisata medis tidak berjalan, karena adanya kekurangan dokter dokter spesialis. Untuk menghasilkan dokter ini membutuhkan waktu yang panjang dan sangat tergantung dengan universitas.

“Di Medan sendiri kondisinya kekurangan dokter jantung, bedah dan lainnya, sehingga para dokter berpraktek di tiga tempat. Padahal ini tidak profesional dalam wisata medis,” tuturnya.

Oleh karena itu, imbuh dia, inilah yang saat ini harus diperbaiki terutama mindset masyarakat untuk berobat di dalam negeri.

“Ini yang paling susah dan tantangan terbesar medical tourism. Kita juga harus memastikan bahwa rumah sakit kita setara pelayanannya dengan luar negeri,” tuturnya.

Selain itu, sambungnya, perangkat daerah, yakni Dinas pariwisata dan Dinas Kesehatan juga harus memberi penekanan terhadap medical tourism ini.

“Tapi yang kita lihat aktif itu hanya marketingnya yakni Dinas pariwisata nya. Sementara kita juga perlu anggaran untuk memperbaiki kinerja rumah sakit yang sudah terlibat dimana Dinkes Medan harus melatih dokter dokter supaya dia fokus. Ini juga untuk memastikan bagaimana kesiapan alkes, lingkungan sekitar, sehingga ini penting dilakukan Dinkes sebagai motor penggerak,” paparnya.

Destanul juga mengatakan untuk mewujudkan ini, pemerintah harus menyiapkan anggaran dan jangan hanya tergantung dengan swasta begitu juga sebaliknya.

“Terus terang jika dibandingkan dengan negara lain, MMTB tidak menerima anggaran. Untuk itu kita tetap memastikan bahwa program ini ada meski kita lihat Dinkes Medan belum bergerak,” pungkasnya.(cbud)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *