MEDAN (Waspada.id): Kesenjangan antara teori dan praktik masih sering terjadi dalam dunia pendidikan, kondisi ini membuat persoalan di tengah masyarakat kurang teratasi karena minimnya peran para akademisi dalam memecahkan persoalan-persoalan yang nyata di sekitarnya.
Karenanya, Rektor Universitas Sumatera Utara Prof. Dr. Muryanto Amin berpesan kepada para wisudawan setelah lulus untuk terus belajar tanpa henti dalam memahami banyak hal, berani mengambil keputusan, dan secara berkelanjutan meningkatkan potensi konstruksi berpikir sistematis tentang pengetahuan teori yang diselaraskan dengan keterampilan teknis untuk menjawab permasalahan yang ada.
“Seorang yang terdidik dan lulusan dari perguruan tinggi selalu diharapkan memiliki dua kemampuan itu yang tidak terpisahkan. Atas dasar itulah, tema wisuda hari ini yang disampaikan adalah From Theory to Action: Mengatasi Kesenjangan dan Membentuk Nilai Baru dalam Transformasi Peradaban,” ujar Prof. Mury di hadapan 1.843 wisudawan yang mengikuti prosesi pelantikan, Jumat (14/2) di Auditorium USU.
Rektor menjelaskan, perubahan dunia kerja saat ini tidak hanya terlihat dari munculnya teknologi baru, tetapi juga dari perubahan keterampilan apa yang paling dibutuhkan. Keterampilan inti yang paling dibutuhkan di masa depan bukan semata-mata kemampuan teknis, melainkan kemampuan manusia dalam berpikir, bersikap, dan bertindak.
“Dunia kerja tidak hanya mencari individu yang cerdas secara akademik, tetapi mereka yang mampu berpikir jernih, beradaptasi dalam tekanan, memimpin, bekerja dengan orang lain, serta memahami diri dan lingkungannya,” katanya. Dunia kerja membutuhkan lulusan yang tidak hanya tahu, tetapi mampu mengambil keputusan dan bertindak secara nyata agar tidak ada lagi kesenjangan antara teori dan praktik.
Prof. Mury mencontohkan penerapannya pada Starbucks, sebuah perusahaan global dengan ribuan gerai yang tersebar di seluruh dunia dan setiap hari menetapkan jutaan keputusan kecil yang menentukan keberlangsungan bisnisnya.
“Ketika Starbucks menghadapi tekanan besar, pertumbuhan yang melambat dan tantangan operasional yang semakin kompleks, mereka mengambil langkah yang pada saat itu terasa masuk akal. Perusahaan menunjuk seorang CEO dengan latar belakang konsultan strategi global yang sangat kuat dalam analisis dan perumusan arah bisnis,” katanya.
Setiap berada di ruang rapat selalu terlihat arah perusahaan yang jelas, strategi yang tersusun rapi, indikator ideal, serta lini masa yang teratur. Namun persoalan Starbucks tidak berada di ruang rapat, melainkan di gerai, di antrean pelanggan, dan di ritme kerja sehari-hari. Proses layanan melambat dan pelanggan menurun di seluruh gerainya.
“Keputusan yang sangat logis di tingkat strategi ternyata tidak sepenuhnya menjawab masalah yang langsung dialami oleh setiap gerai. Bukan karena strateginya salah, tetapi karena jarak antara pengambil keputusan dan realitas lapangan terlalu jauh,” urainya.
Prof. Mury mengatakan nilai perusahaan mengalami penurunan yang signifikan dalam waktu singkat. Peristiwa itu membuat Starbucks belajar bahwa pada fase tertentu organisasi tidak hanya membutuhkan pemikir yang cerdas, tetapi juga pemimpin yang memahami lapangan.
Starbucks kemudian menyadari bahwa kepintaran saja tidak cukup. Organisasi membutuhkan pemimpin yang tidak hanya berpikir, tetapi juga berani mengeksekusi keputusan dan bertanggung jawab atas dampak yang terjadi.
Menurut Prof. Mury, cerita tersebut mengajarkan bahwa banyak kegagalan bukan terjadi karena kurangnya teori, melainkan karena kesalahan dalam mengubah teori menjadi tindakan. Strategi yang baik membutuhkan keberanian untuk dijalankan, dan kepemimpinan yang kuat diuji bukan di ruang presentasi, tetapi di lapangan.
Teori tanpa pengalaman lapangan, imbuhnya, akan kehilangan daya geraknya. Sebaliknya, pengalaman tanpa keberanian mengambil keputusan juga tidak akan membawa perubahan. Bagi para wisudawan, pesan ini sangat relevan.
“Dunia kerja tidak selalu menunggu kita siap dengan jawaban yang sempurna. Sering kali kita dituntut untuk berani mengambil keputusan dalam keterbatasan dan bertanggung jawab penuh untuk melaksanakannya. Inilah makna sesungguhnya dari From Theory to Action, mengubah pengetahuan menjadi tindakan, dan tindakan memberi nilai yang bermanfaat untuk kesejahteraan,” tutupnya.
Di kesempatan itu, rektor juga mengungkapkan capaian program internasionalisasi yang dilakukan Universitas Sumatera Utara. (Wsp.id)











