Jakarta (ANTARA) – Suara tendangan kaki anak-anak yang bermain bola terdengar dari jauh saat matahari sudah mulai rebah di ufuk barat. Sore itu sekitar pukul 16.30 WIB, kedua anak terlihat tengah menurunkan bendera yang kini menjadi aktivitas wajib mereka, sebelum kembali istirahat ke asrama.
Mereka adalah Lingga Ardiansyah (17) dan Olivia Dwi Lestari (17), dua remaja kelas X Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 9, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Di usia itu, mereka seharusnya sudah duduk di bangku kuliah, tetapi kehidupan memaksa mereka untuk berkompromi dengan pekerjaan dan hal-hal lain yang membuat hak-hak atas pendidikan baru bisa mereka dapatkan di tahun ini.
Olivia menjadi satu-satunya anak perempuan yang bersekolah di keluarganya. Sebagai anak kedua dari tujuh bersaudara, ia punya harapan besar untuk mengangkat perekonomian mereka yang selama ini terseok-seok.
Ayah Olivia bekerja sebagai buruh bangunan harian, sedangkan sang ibu merupakan ibu rumah tangga. Kakak laki-lakinya berusia 19 tahun, yang kini bekerja serabutan dan tidak bisa melanjutkan sekolah karena tuntutan ekonomi.
Olivia tak kuasa menahan air mata, ketika ditanya tentang pengalamannya mengalami perundungan di salah satu SMP bilangan Jakarta Timur. Pengalaman itu sangat pahit baginya, sehingga ia tak kuasa menceritakannya kembali kepada orang lain. Hal tersebut semakin memilukan, ketika permasalahan ekonomi menjadi salah satu faktor mengapa ia direndahkan oleh teman-temannya.
Namun, nyala di hatinya tidak meredup begitu saja. Hampir menyerah karena ia terlambat mendaftarkan diri ke SMA, sempat terbersit di kepala Olivia untuk mencari pekerjaan saja dan membantu keluarganya keluar dari jerat kemiskinan.
Keberuntungan rupanya masih berpihak pada remaja perempuan itu. Salah seorang tetangganya memberi kabar kepada petugas dinas sosial yang sebelumnya melakukan survei di lingkungan rumahnya bahwa Olivia punya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke Sekolah Rakyat.
Meski mengalami pengalaman perundungan yang cukup traumatis, motivasinya untuk tetap melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi tak lantas menurun. Ia ingin membuktikan bahwa setiap kata-kata yang merendahkan baginya justru menjadi anak panah yang akan ia lempar dengan busur untuk lebih berprestasi lagi.
Di Sekolah Rakyat, ia menemukan ruang aman itu. Teman-teman yang menyambutnya dengan tangan terbuka, pelukan hangat, dan para guru yang sabar mendengarkan ceritanya membuat ia merasa menjadi bagian penting dalam lingkungan pendidikan yang mendukungnya untuk belajar dengan tenang.
Hobi menari dan bermain pianika akhirnya dilihat sebagai potensi besar oleh guru-gurunya di SRMA 9. Ia menjadi salah satu siswa yang mewakili sekolahnya untuk bermain marching band di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, pada perayaan Hari Disabilitas Internasional 2025 di awal Desember lalu.
Berani bermimpi
Olivia bukan satu-satunya penyintas perundungan yang menemukan ruang aman di Sekolah Rakyat. Rahmat Junaidi (16), siswa asal Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat, juga menjadi korban perundungan yang berani membuktikan bahwa pengalaman traumatis tidak lantas membuat patah semangatnya.
Rahmat, bahkan melesat dengan dahsyat di Sekolah Rakyat. Ia berhasil menjadi salah satu peserta yang dipilih mengikuti forum ASEAN, sebuah forum simulasi rapat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau Model United Nations (MUN) yang bersaing dengan peserta-peserta lain dari sekolah-sekolah bertaraf internasional. Rahmat membuktikan bahwa menjadi siswa Sekolah Rakyat bukan berarti dirinya tidak bisa berprestasi dan bersaing dengan anak-anak dari sekolah lainnya.
Perundungan yang dialami Rahmat sudah terjadi terlampau lama, tepatnya, saat dia duduk di bangku sekolah dasar. Pengalaman tersebut cukup melekat dalam ingatan yang membuatnya sempat terpuruk dan tak ingin kembali ke sekolah. Bahkan, Rahmat sempat harus berjuang keras mencari teman atau komunitas lain agar ia bisa tetap waras.
Saat ditanya tentang mimpinya, Rahmat bahkan tidak berani mengungkapkannya. Sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara, sama seperti Olivia, ia bukan berasal dari keluarga yang berada.
Pengalamannya bertemu dengan anak-anak dari sekolah lain pada ajang MUN membuat Rahmat bermimpi ingin pergi karya wisata. Tempat-tempat, seperti museum, galeri, atau wisata yang mengandung unsur sejarah cukup menarik hatinya. Ia merasa anak-anak dari sekolah lain memiliki kesempatan itu. oleh karena itu, ia ingin siswa-siswa Sekolah Rakyat juga memiliki kesempatan yang sama.
Berbicara soal mimpi, kisah menarik juga datang dari seorang siswa bernama Linggar Ardiansyah (17). Ia sempat berhenti sekolah karena permasalahan ekonomi. Kerasnya kehidupan di bengkel sempat menjadi makanan sehari-harinya, selama dua tahun. Selama dua tahun berhenti sekolah, Linggar terus berganti-ganti profesi, mulai menjadi montir di bengkel, hingga tukang pel di salah satu mal.
Linggar rupanya punya mimpi menjadi seorang ekonom. Hal itu tertanam jauh di benaknya, semenjak ia melihat sosok Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Saat ditanya mata pelajaran favorit, tanpa ragu Linggar menjawab matematika dan fisika.
Ia memang tidak mengalami perundungan seperti Olivia atau Rahmat, tetapi, sama seperti keduanya, perekonomian yang sulit sudah cukup menempanya, dan Sekolah Rakyat menjadi salah satu ruang aman, sekaligus motivasinya untuk bisa lanjut ke bangku kuliah dan mewujudkan cita-citanya menjadi seorang ekonom.
Peran guru
Guru Informatika yang juga Wakil Kepala Sekolah bidang Kehumasan Annisa Fira Nindy Amalia mengatakan, beberapa anak di SRMA 9, bahkan belum pernah memegang ponsel atau laptop karena alasan ekonomi. Lulusan pendidikan dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, itu mengaku harus mengajari anak-anak untuk membuka aplikasi Microsoft satu-persatu, mulai dari Microsoft Word, Excel, hingga Presentasi (Ppt). Bahkan, untuk mengetik di ponsel atau komputer, anak-anak itu masih gagap.
Total terdapat 49 siswa yang ada di SRMA tersebut, dengan 16 guru yang mengajar. Sebelumnya, Annisa merupakan seorang guru honorer di SMP Negeri 255, Bulungan, Jakarta Selatan. Sejak mendaftarkan diri menjadi guru Sekolah Rakyat, statusnya telah berubah menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Annisa mengakui bahwa perannya, saat ini lebih dibutuhkan oleh anak-anak di SRMA 9. Mengajar di Sekolah Rakyat tentu berbeda dengan sekolah negeri konvensional, namun, menurutnya, pengalaman menjadi seorang guru lebih bermakna ketika ia bergabung di sekolah saat ini.
“Sebenarnya yang paling terlihat fasilitasnya sih di sini, karena semua dari negara kan. Jadi benar-benar difasilitasi, diperhatikan, dan dipantau pembelajarannya,” katanya.
Baginya, pengenalan karakter anak-anak Sekolah Rakyat terasa lebih dekat dan bisa lebih dalam, mengingat siswa yang ada lebih sedikit dari sekolah negeri konvensional.
Sekolah Rakyat yang diinisiasi Kementerian Sosial (Kemensos) membuktikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama, terlepas dari apapun profesinya. Selain memberikan ruang yang aman, para siswa juga dipetakan bakatnya, sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Sebagaimana pendidikan adalah hak segala bangsa, seperti yang diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945, Sekolah Rakyat menjadi gerbang pendidikan yang setara bagi semua orang, agar generasi di masa depan bisa memiliki masa depan yang lebih baik bagi keluarganya.











