JAKARTA (Waspada.id): Direktur Utama (Dirut) PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman menyatakan pengunduran diri dari jabatannya. Pernyataan pengunduran diri tersebut disampaikan Iman di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (30/1/2026).
Pengunduran diri Iman menyusul anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara tajam dalam dua hari terakhir ini. Anjloknya IHSG memaksa otoritas bursa melakukan penghentian sementara perdagangan (trading halt).
“IHSG mengalami tekanan yang sangat dalam dalam dua hari terakhir dan situasi ini menuntut tanggung jawab kepemimpinan. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai Direktur Utama BEI, ini sebagai bentuk tanggung jawab saya, saya harap semua akan membaik,” kata Iman saat mengumumkan pengunduran dirinya, Jumat (30/1/2026).
IHSG tercatat turun signifikan sejak Rabu (29/1/2026) dan cukup menguat pada perdagangan Jumat pagi. Penurunan indeks yang melampaui ambang batas harian memaksa BEI menerapkan mekanisme trading halt pada Rabu dan Kamis untuk menjaga stabilitas pasar dan melindungi investor dari kepanikan berlebihan.
Data perdagangan menunjukkan tekanan jual terjadi secara masif, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar di sektor perbankan, energi, dan komoditas. Arus dana asing tercatat keluar dalam jumlah besar, memperparah pelemahan pasar saham domestik.
Salah satu faktor utama yang memicu sentimen negatif pasar adalah pengumuman terbaru dari Morgan Stanley Capital International (MSCI), terkait hasil konsultasi penilaian free float saham Indonesia.
Dalam pengumuman tersebut, MSCI menyoroti masih adanya kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia, meskipun mengakui adanya perbaikan dalam kualitas data.
Kekhawatiran tersebut memicu spekulasi bahwa bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI berpotensi tertekan ke depan, yang berdampak langsung pada keputusan investasi dana global berbasis indeks. Hal ini mendorong aksi jual besar-besaran oleh investor institusi asing dalam dua hari terakhir.
Menanggapi hal tersebut, Iman menegaskan bahwa BEI telah melakukan berbagai langkah mitigasi, termasuk koordinasi intensif dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pelaku pasar, dan pemangku kepentingan lainnya. Namun, tekanan eksternal yang kuat dinilai berada di luar kendali bursa.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat pagi dibuka menguat 88,88 poin atau 1,08 persen ke posisi 8.321,08. Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 11,59 poin atau 1,43 persen ke posisi 824,60.
Saham Gorengan
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menegaskan tekanan pasar dipicu guncangan sementara akibat penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI), bukan lemahnya fundamental ekonomi.
“Ini jelas shock sementara karena fundamental kita gak masalah. Kalau yang jatuh bursa saham-saham gorengan kan saya udah ingatkan dari dulu, bersihkan bursa dari saham gorengan,” ujar Purbaya di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kamis (29/1/2026).
IHSG pada Kamis pagi dibuka di level 8.027 poin dan dalam 20 menit terperosok ke 7.730 poin sehingga memicu trading halt selama 30 menit. Penurunan tersebut menjadi syarat pertama dilakukannya trading halt dalam dua hari perdagangan berturut-turut.
Purbaya menilai reaksi pasar dipicu kekhawatiran berlebihan terhadap potensi penurunan status Indonesia di indeks global. Ia menegaskan pemerintah tidak melihat risiko tersebut sebagai cerminan kondisi ekonomi nasional.
Menurut Purbaya, sejumlah catatan yang disampaikan MSCI justru menjadi dorongan perbaikan tata kelola pasar. Ia menyebut otoritas pasar modal akan menindaklanjuti persoalan transparansi yang disorot investor global.
“Nanti kekurangan-kekurangan yang disebutan MSCI akan diperbaiki oleh Pak Mahendra (Ketua Dewan Komisioner OJK). Nanti Pak Mahendra akan bicara di bursa mungkin siang hari ini,” jelas Purbaya.
Ia menilai tekanan justru lebih banyak menghantam saham-saham non-fundamental, sementara saham berkapitalisasi besar masih relatif memiliki ruang pergerakan. “Tapi yang besar-besar kan masih ada, yang saham-saham yang blue chip itu kan naiknya belum terlalu tinggi. Kalau ada yang takut, lari aja ke situ,” katanya.
Purbaya juga menegaskan pemerintah tengah memperkuat fondasi fiskal guna menjaga stabilitas ekonomi. Diantaranya, merombak jajaran Bea Cukai sebagai salah satu aparatur penerimaan negara dan pekan depan giliran institusi pajak. (Id88)











