Kritik Penguasa, Anak Wiji Thukul Bacakan Puisi “Momok Hiyong”

  • Bagikan
Kritik Penguasa, Anak Wiji Thukul Bacakan Puisi “Momok Hiyong”
Fajar Merah, anak Wiji Thukul-- penyair dan aktivis hak asasi manusia. (Ist)0

JAKARTA (Waspada): Fajar Merah, anak dari penyair dan aktivis hak asasi manusia (HAM), Wiji Thukul menggetarkan Panggung Rakyat bertajuk “Bongkar” bergemuruh.

Fajar Merah terlihat ekspresif dan penuh semangat membacakan puisi ciptaan sang ayahanda berjudul ‘Momok Hiyong’.

Diketahui, puisi ‘Momok Hiyong’ karya Wiji Thukul mengkritisi keras kekuasaan, penyalahgunaan kekuasaan, serta pengorbanan rakyat dan lingkungan alam.

Awalnya, aktivis HAM Usman Hamid menyampaikan pengantar dalam pembukaan acara Panggung Rakyat bertema Bongkar yang diikuti puluhan seniman, budayawan, dan aktivis di Stadion Madya Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, pada Sabtu (9/12/2023).

Setelah itu, Usman mengundang Fajar Merah naik ke atas panggung utama untuk membacakan puisi.

“Kita panggil, putra dari aktivis HAM Wiji Thukul, Fajar Merah. Dia akan membacakan puisi,” ucap Usman.

Fajar yang tampak mengenakan kaus putih bergambar wajah Wiji Thukul, langsung naik ke atas panggung.

Fajar kemudian membacakan puisi berjudul ‘Momok Hiyong’.

Momok hiyong si biang kerok,
Paling jago bikin ricuh,
Kalau situai keruh,
Jingkrak-jingkrak ia.

Bikin kacau dia ahlinya,
Akalnya bulus siasatnya ular,
Kejamnya sebanding nero,
sefasis Hitler sefeodal raja kethoprak.

Luar biasa cerdasnya,
Di luar batas culasnya,
Demokrasi dijadikan bola mainan,
Hak asasi ditafsir semau gue.

Emas doyan hutan doyan,
Kursi doyan nyawa doyan,
Luar biasa,
Tanah Air digadaikan.

Masa depan rakyat digelapkan,
Dijadikan jaminan hutan.

Momok hiyong momok hiyong,
Apakah ia abadi,
Dan tak bisa mati?

Momok hiyong momok hiyong,
Berapa ember lagi,
Darah yang ingin kau minum?

30 September 1996

Ribuan penonton yang hadir di lokasi pun tampak begitu terpukau dengan puisi yang dibacakan Fajar tersebut. Mereka tak lupa merekam momen Fajar membacakan puisi dengan ponsel.

Selepas puisi ditutup oleh Fajar, ribuan penonton pun riuh bertepuk tangan meriah.

Usman pun berteriak untuk para korban pelanggaran HAM yang hilang, seperti Wiji Thukul dan para tokoh lainnya.

“Hidup korban, hidup rakyat,” teriak Usman diikuti ribuan penonton.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan mendengarkan sejumlah lagu-lagu perjuangan seperti ‘Kaisar Sambo’ hingga perlawanan terhadap kekuasaan yang korup.

Sebagai informasi, acara akan diisi dengan orasi beberapa tokoh seperti aktivis HAM seperti Usman Hamid, budayawan Goenawan Mohamad, pakar politik Ikrar Nusa Bhakti, seniman Inayah Wahid, mantan petinggi KPK Laode Muhammad Syarif, hingga ekonom Faisal Basri serta Rhenald Kasali.

Sosok seperti Zoemrotin K. Soesilo, Neng Rukka Sombolingi, Encep Arif Afandi, Yuniyanti Chuzaifah, Erry Riyana Hardjapamekas, Zenzi Suhadi, Karlina Supelli, A. Alex Junaidi, Surya Anta Ginting, Andreas Harsono, Danang Widoyoko, Ririn Sefsani, Neng Dara Affiah, Alif Nurlambang, Melki Sedek Huang, Muhammad Suhud, M. Roni Syamsuri, Abdullah Riansyah, Arya Dewi Prayetno, dan Ahmad Tomi Wijaya juga akan berorasi di acara yang sama.

Selain orasi, acara juga diisi musisi tenar seperti Kotak, PAS Band, The Black Stones Band, Anto Baret & Andi Malewa, Iwa K, Young Lex & Friends, Tony Q, Marjinal, Endank Soekamti, Jamrud dan Horja Bius. (irw)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *