Lima Titik Kritis Haji Jadi Perhatian PPIH

  • Bagikan
DIREKTUR Bina Haji Ditjen PHU Kementerian Agama RI, Arsyad Hidayat, menyampaikan arahan dalam apel Bimtek PPIH Arab Saudi 1444 hijriyah di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa (11/4). Waspada/Ist.
DIREKTUR Bina Haji Ditjen PHU Kementerian Agama RI, Arsyad Hidayat, menyampaikan arahan dalam apel Bimtek PPIH Arab Saudi 1444 hijriyah di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa (11/4). Waspada/Ist.

JAKARTA (Waspada): Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2023, diminta untuk memaksimalkan semua layanan, baik Daerah Kerja (Daker) Makkah, Madinah, dan Bandara. Hal itu penting agar jamaah haji merasa nyaman ketika beribadah di tanah suci.

“PPIH Arab Saudi, akan disebar ke seluruh daker. Tapi menjelang Armuzna sebagai puncak haji, seluruh petugas akan terkonsentrasi di Daker Makkah,” ujar Direktur Bina Haji Kementerian Agama RI, Arsyad Hidayat, dalam apel Bimtek PPIH Arab Saudi 1444 hijriyah di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa (11/4).

Dalam kesempatan itu, Arsyad mengingatkan petugas untuk memperhatikan titik-titik kritis setiap musim haji di Makkah, sehingga nantinya perlu kerjasama semua layanan untuk saling membantu para jamaah, terutama jamaah lanjut usia (lansia).

Titik kritis pertama adalah ketika jamaah gelombang pertama tiba di Bandara Madinah dan jamaah gelombang kedua mendarat di Jeddah.

“Disini, jamaah kita akan dihadapkan dengan dengan berbagai perbedaan, seperti suhu dan budaya masyarakat yang berbeda antara Indonesia dengan Arab Saudi,”ujar Arsyad.

Selain itu, jamaah haji Indonesia juga akan dihadapkan dengan orang-orang Arab, yang intonasi bahasa bicaranya tinggi dan keras, karena mereka menetap di padang pasir.

“Nah, disini terkadang jamaah haji kita menganggap orang Arab, marah. Sehingga tidak jarang jamaah haji kita syok dan stres,” tambah Arsyad.

Titik kritis kedua yang perlu diantisipasi petugas saat jamaah haji tiba di Madinah, dimana para jamaah biasanya akan memburu salat arbain di Masjid Nabawi. Begitu juga dengan jamaah haji ketika tiba di Makkah, akan melaksanakan umrah sunah setelah mereka melaksanakan umrah wajib.

“Jamaah haji sangat bersemangat dalam beribadah, baik di Madinah maupun di Makkah. Sebagian besar, mereka lupa melakukan orientasi atau menanda hotel sebagai tempat mereka menginap. Dampaknya, jamaah haji kita banyak yang tersesat,” timpa Arsyad.

Titik kritis ketiga, lanjutnya, jamaah haji gelombang pertama sehari setelah tiba di Makkah, akan melaksanakan umrah sunat menunggu dimulainya proses haji, 8 Dzulhijjah.

“Semangat yang dimiliki jamaah haji kita terkadang lupa memperhatikan kesehatan dan kondisi fisik. Dampaknya, saat dimulai proses haji sebagian besar jamaah tadi kondisi fisik menurun akibat kelelahan,” tuturnya.

Pihak sama sekali tidak melarang jamaah haji melaksanakan ibadah sunah di Masjid Nabawi dan umrah sunah di Makkah, namun hal tersebut layak terhadap jamaah haji yang kondisi kesehatan dan fisiknya kuat dan sehat.

“Namun, jamaah haji yang terkendala fisik dan kurang sehat, maka mohon dipertimbagkan untuk melaksanakan ibadah sunah sebelum armuzna,” katanya.

Kemudian, titik kritis keempat yang perlu mendapat perhatian petugas adalah ketika melakukan perjalanan Masyair, dimana jamaah haji dari Indonesia berpotensi kelelahan. “Nah, dalam puncak haji ini, jamaah akan berjalan kaki 7-10 kilometer. Berpijak ke data Kemenkes RI, bahwa angka kematian jamaah haji kita akan meningkat setelah proses di Masyair, karena jamaah akan melakukan beberapa prosesi ibadah,” kata Arsyad.

Terakhir, titik kritis yang perlu menjadi perhatian adalah ketika pelaksanaan thawaf ifadhah, dimana setiap tahun dipastikan suasana di Baitullah penuh dan sesak. Belum lagi sebagian jamaah sengaja mengambil tawaf ifadhah di tanggal 10 Dzulhijjah.

Oleh karenanya, Arsyad meminta petugas untuk mengatur dan mempersiapkan secara matang, sehingga proses haji akan berlangsung sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. “Kami juga minta petugas haji yang ditugaskan nantinya dapat memberikan edukasi dan pemahaman terhadap jamaah untuk dipatuhi setiap jadwal yang sudah diatur,” pinta Arsyad.

Ketika puncak haji, jamaah haji Indonesia diminta untuk menyelesaikan prosesi haji di Mina pada 11, 12, 13 Zulhijjah. Setelah kondisi fisik kuat dan rasa capek hilang, lalu dilanjutkan dengan thawaf ifadhah. “Kami berharap nantinya, seluruh layanan terutama Bimbingan Ibadah (Binbad) dan seluruh petugas kloter untuk terus mengingatkan jamaah haji kita agar melaksanakan tahapan haji sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan,” tandas Arsyad. (b11)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *