Nusantara

Mau Diculik hingga Dikuntit Orang Asing, Ketua BEM UGM Diteror Usai Kritik MBG

Mau Diculik hingga Dikuntit Orang Asing, Ketua BEM UGM Diteror Usai Kritik MBG
Kecil Besar
14px

JAKARTA (Waspada.id): Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) Tiyo Ardianto menerima rentetan teror dan intimidasi, termasuk ancaman penculikan dari nomor berkode Inggris serta penguntitan orang asing, setelah mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tak hanya dirinya, ibunya juga menjadi target teror pada 14 Februari.

Pemerintah membantah terlibat dalam teror tersebut. Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai menyatakan tudingan yang mengaitkan pemerintah dengan intimidasi merupakan bentuk penggiringan opini. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi juga menyatakan Istana tidak mengetahui siapa pelaku teror, sekaligus mengimbau agar kritik disampaikan dengan etika dan adab.

Teror dan intimidasi mulai muncul empat hari setelah Tiyo mengirim surat kepada United Nations Children’s Fund (UNICEF) untuk meminta pengawasan terhadap tata kelola anggaran pendidikan yang disebutnya dipangkas untuk mendanai MBG. Langkah ini dipicu oleh kasus siswa kelas empat berinisial YBS di Nusa Tenggara Timur yang ditemukan meninggal dunia diduga bunuh diri, dikabarkan karena tidak mampu membeli buku dan alat tulis.

Dalam konferensi pers bersama Kaukus Indonesia Kebebasan Akademik pada 17 Februari, Tiyo menyebut program MBG sebagai “Maling Berkedok Gizi” yang menyedot anggaran pendidikan hingga 223 triliun rupiah. Menurutnya, hal itu berdampak pada terbatasnya akses pendidikan tinggi dan nasib guru honorer. Dia juga menyatakan dengan Rp180 triliun, negara seharusnya mampu menggratiskan biaya pendidikan di seluruh perguruan tinggi negeri, swasta, dan keagamaan Islam negeri.

“Presiden bodoh, kita sedang dipimpin oleh orang bodoh yang tidak sadar bahwa dirinya bodoh. Karenanya tak pernah mau belajar, tapi justru memilih menularkan kebodohannya kepada yang lain,” ujar Tiyo. Ia juga menambahkan, “Ajaibnya orang pintar di sekelilingnya rela-rela saja dibuat bodoh dan dengan bangga menjunjung kebodohan pimpinannya.”

Intimidasi terungkap setelah Tiyo mengunggah tangkapan pesan singkat ibunya yang menyatakan “Ibu takut, gus” ke media sosial pribadi. Menurutnya, hal itu menandai tekanan yang dialaminya telah meluas ke keluarga.

“Rezim hari ini memang kita kenal sebagai rezim yang pengecut sejak awal bahkan sebelum rezim ini berdiri. Karena sejatinya siapa pun yang mengkritik motivasinya cuma satu kepedulian pada bangsa supaya bangsa ini tidak hancur lebur karena kesalahan kelola,” katanya pada 17 Februari.

Selain ancaman melalui pesan WhatsApp yang juga menuduhnya sebagai agen asing dan mencari panggung, Tiyo mengaku pernah dikuntit oleh dua orang di sebuah kedai sehari setelah menerima ancaman. “Mereka memotret dan bergegas pergi,” katanya kepada Tempo.

Sebagai lulusan UGM dan pernah aktif di BEM, Prasetyo Hadi mengatakan menyampaikan kritik sah-sah saja dilakukan, namun perlu mengedepankan tanggung jawab, etika, dan adab ketimuran. “Hindarilah menggunakan kata-kata yang tidak sopan atau kurang baik, ini berlaku untuk siapapun,” imbuhnya di Gedung DPR Senayan, Jakarta, Rabu (18/2/2026).

Sejumlah organisasi masyarakat sipil menyoroti pentingnya jaminan rasa aman bagi warga yang menyampaikan pendapat, mencakup kebebasan akademik, kebebasan berpendapat, serta kepastian hukum. Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari aparat penegak hukum terkait pihak yang bertanggung jawab atas dugaan teror tersebut.(red)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE