JAKARTA (Waspada.id): Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memperpanjang pelatihan petugas haji 2026. Pelatihan bagi petugas haji biasanya berlangsung antara satu sampai 2 minggu, tetapi tahun ini mencapai hampir satu bulan. Tujuannya untuk memastikan seluruh petugas benar-benar berorientasi pada pelayanan jamaah, bukan sekadar kesempatan menunaikan ibadah haji.
“Banyak kritik dari publik dan jamaah terkait komitmen pelayanan. Karena itu kami ingin memastikan orientasi utama semua petugas haji adalah melayani jamaah, bukan nebeng naik haji,” ujar Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak saat doorstop Training of Trainer (ToT) fasilitator petugas haji, Kamis (8/1/2026).
Pelatihan tahun ini diawali dengan Training of Trainer (ToT) fasilitator selama lima hari, yang selanjutnya akan melatih para petugas haji selama tiga minggu ke depan.
Menurut Dahnil, Tahap awal ini difokuskan untuk meluruskan niat, terutama bagi petugas yang belum pernah menunaikan ibadah haji.
Selain orientasi pelayanan, aspek integritas, kedisiplinan, dan kekompakan tim menjadi perhatian utama. Ia menilai berbagai persoalan penyelenggaraan haji pada tahun sebelumnya banyak dipicu lemahnya kerja tim dan koordinasi di lapangan.
“Pelayanan di Madinah dan Makkah itu kerja tim. Tahun lalu kita koreksi, kerja timnya bermasalah, disiplin dan koordinasi juga bermasalah. Itu yang ingin kita perbaiki,” tegasnya.
Untuk memperkuat kerja tim, Kemenhaj mengadopsi metode pelatihan berbasis nilai-nilai militer. Dahnil menegaskan pendekatan ini bertujuan menanamkan disiplin dan kekompakan.
“Kalau ada yang menyebut ini militerisme, iya. Karena kami ingin mengadaptasi nilai kedisiplinan dan kerja tim yang kuat dari militer,” ujarnya.
Materi pelatihan meliputi simulasi pelayanan di Masyair, Tanah Haram, hingga pelatihan fisik dan pelatihan baris-berbaris (PBB). Menurut Dahnil, sekitar 90 persen tugas petugas haji merupakan kerja fisik dengan intensitas tinggi.
“Kerja petugas haji itu 25 jam, tidak berhenti. Siap-siap lari-lari, bisa turun 10 kilo,” katanya.
Dahnil juga menegaskan hanya petugas yang siap dengan waktu pelatihan panjang dan dedikasi penuh yang dapat mengikuti seleksi.
“Kalau alasannya tidak siap karena pekerjaan lain, ya tidak usah jadi petugas haji. Yang mau antre jadi petugas itu jutaan orang,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Dahnil mengungkapkan adanya penambahan jumlah petugas haji dari unsur TNI dan Polri hingga dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
Penambahan ini merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto berdasarkan evaluasi kinerja yang dinilai baik.
“Evaluasi setiap tahun menunjukkan petugas dari unsur TNI Polri itu kerjanya bagus, disiplin dan bertanggung jawab. Ini juga bentuk apresiasi,” katanya.
Kementerian Haji dan Umrah juga menyiapkan sistem penghargaan bagi petugas berprestasi. Petugas dengan dedikasi dan kinerja terbaik akan diprioritaskan untuk kembali bertugas pada tahun berikutnya, termasuk bagi petugas Media Center Haji (MCH).
“Ukuran bagusnya jelas, dedikasi terhadap jamaah dan pelayanan. Yang berprestasi akan kami beri kesempatan lebih besar di tahun-tahun berikutnya,” pungkas Dahnil.

















