JAKARTA (Waspada): Danau Toba merupakan danau hasil letusan gunung berapi yang maha dahsyat pada puluhan ribu tahun lalu. Bahkan disebutkan, letusan Gunung Toba ini menjadi salah satu letusan gunung merapi terbesar di dunia yang menjadikan populasi manusia menurun drastis.
Letusan gunung berapi super atau disebut juga dengan istilah supervolcano itu memunculkan Danau Toba yang menebarkan keindahan alam mempesona.
Danau Toba yang terbentang di wilyah tujuh kabupaten, yakni Simalungun, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Dairi, Karo, dan Samosir merupakan potensi yang besar sebagai destinasi pariwisata berkelas dunia.
Sebagai obyek wisata, Pemerintah pun menetapkan kawasan Danau Toba sebagai salah satu destinasi pariwisata super prioritas.
Sejak penetapan 10 destinasi prioritas oleh Presiden Jokowi, perkembangan pembangunan di kawasan Danau Toba dari tahun ke tahun memang sudah terlihat, namun soal koordinasi antar pemerintah daerah belum dilakukan secara maksimal. Artinya pemerintah daerah di tujuh kabupaten masih jalan sendiri-sendiri.
Berbagai masukan dan tantangan untuk menjadikan Danau Toba sebagai destinasi wisata kelas dunia, sekaligus refleksi akhir tahun 2020, pemerhati dan pelaku pariwisata yang sangat vokal menyuarakan pariwisata Danau Toba yaitu Ir Sanggam Hutapea, MM, diwawancarai secara khusus, Rabu (21/12/2022) di Jakarta.
Sanggam Hutapea pun memaparkan berbagai pandangannya yang cukup mendasar untuk pengembangan dan pembangunan kawasan Danau Toba menuju wisata kelas dunia.
Menurutnya, pengembangan kawasan Danau Toba sebagai destinasi wisata internasional harus dilakukan secara terpadu dan terintegrasi di antara aspek pendukung lainnya.
Dia menilai akses ke Danau Toba di era pemerintahan Jokowi ini sudah sangat terbuka, karena pemerintah memberikan perhatian penuh dengan membangun jalan tol guna memperpendek jarak tempuh ke Danau Toba.
Demikian juga dengan pembangunan bandara Internasional Silangit di Siborong-borong, Tapanuli Utara, yang makin mendekatkan wisata langsung menikmati keindahan kawasan Danau Toba.
Selain itu, Sanggam Hutapea pun menilai akses transportasi di danau juga sudah membaik dan memadai, apa lagi dengan kehadiran beberapa kapal penyeberangan yang diluncurkan di beberapa lokasi, seperti kapal penyeberangan dari Tigaras Kebupaten Simalungun ke Samosir, penyeberangan dari Muara ke Samosir, penambahaan kapal penyeberangan dari Ajibata ke Ambarita, Samosir, serta ketersediaan kapal-kapal milik pengusaha lokal yang sudah memenuhi syarat laik berlayar.
Akan tetapi, sarana dan prasarana tidak serta merta mampu mendatangkan wisatawan, sebab kawasan Danau Toba sebagai obyek yang diandalkan menjadi daya tarik masih saja monoton hanya mengandalkan keindahan alamnya saja.
Sanggam Hutapea pun menyoroti salah satu penyebabnya yakni belum adanya produk wisata apa yang ditawarkan di Danau Toba.
Sejak pemerintah menetapkan Danau Toba sebagai salah satu destinasi wisata, sampai sekarang belum ada bentuk produk wisata di kawasan Danau Toba yang dimunculkan sebagai usaha memberikan nilai tambah,” kata Sanggam Hutapea.
Apa sebenarnya produk wisata Danau Toba, apakah keindahan alam, kuliner, budaya, atau yang lain? Kalau kita putuskan produk wisata Danau Toba adalah keindahan alam, maka dititik-titik mana wisatawan harus dibawa. Kalau produk wisata budaya, tentu budaya seperti apa yang akan kita tonjolkan.
Di kawasan Danau Toba juga belum ada tempat kuliner bagi wisatawan untuk menikmati suasana kawasan Danau Toba.
Dia mencontohkan di Bali ada Jimbaran tempat wisatawan makan malam di tepi pantai, dan pada saat makan malam, wisatawan disungguhi tari- tarian dan alunan lagu-lagu.
Fasilitas yang begini belum ada di kawasan Danau Toba. Padahal, tambah Sanggam Hutapea, banyak lokasi di kawasan Danau Toba yang bisa dibenahi sebagai tempat kuliner.
“Jadi perumusan prodak wisata Danau Toba ini harus dibicarakan seluruh pemerintah daerah supaya semua ambil bagian dan semua merasa memiliki. Begitu kita bicara produk maka masyarakat pasti terlibat, tandasnya.
Di berbagai tempat wisata yang saya kunjungi di Eropa, papar Sanggam Hutapea, hampir semua ada pengamen. Para pengamen itu dijadwalkan tampil di berbagai sudut kota.
Talenta masyarakat di kawasan Danau Toba yang rata-rata memilki sura merdu untuk menyanyi, sejatinya bisa ditampilkan. Potensi yang dimiliki masyarakat kawasan Danau Toba ini salah satu yang perlu dievaluasi,” tegasnya.
Sanggam Hutapea mengakui belum melihat banyak peran pemerintah daerah, khususnya Pemda di wilayah kawasan Danau Toba.
Demikian juga, keberadaan Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) sebagai wakil pemerintah pusat di kawasan Danau Toba hanya membuat konsep, sedang yang mengeksekusi produk-produk itu sejatinya adalah Pemda di kawasan Danau Toba itu sendiri.
Pemerintah, sebutnya, harus lebih kreatif karena salah satu kunci keberhasilan pariwisata adalah kreativitas, termasuk bagaimana mereka kreatif mengemas produk-produk lokal.
Salah satu contoh kreatif yang diutarakan Sanggam yakni bagaimana mengemas narasi untuk mengisahkan kawasan wisata Danau Toba
Dari sisi promosi, Sanggam mempertanyakan apakah promosi pariwisata Danau Toba dilakukan di luar negeri atau di dalam negeri. Kalau promosi dilakukan ke luar negeri, maka harus jelas sasarannya, apakah wisatawan Asia atau Eropah.
Sanggam Hutapea mengingatkan tidak mudah untuk mencapai tujuan Danau Toba sebagai wisata dunia. Pasalnya,sebelum Presiden Jokowi, sudah hampir 20 tahun Danau Toba tidak pernah lagi diperhatikan. Dengan demikian dapat dikatakan, sekitar 20 tahun juga agenda pariwisata dunia melupakan Danau Toba.
Mereka-mereka (20 tahun lalu) mengenal Danau Toba, tentu sudah pada tua. Jadi harus disadari karena sudah 20 tahun terputus maka diperlukan terobosan untuk mengenalkan pariwisata Danau Toba itu kembali ke pasar potensial.
Sebagai pelaku pariwisata aktif, Sanggam Hutapea berpandangan untuk promosi kawasan destinasi Danau Toba saat ini, penopangnya adalah pasar dalam negeri. Kalau pasar luar negeri (wisatawan manacanegara) butuh waktu.
Karenanya, Sanggam lebih mendorong promosi diintensifkan untuk pasar domestik dengan melakukan rekayasa-rekayasa mendatangkan wisatawan domestik ke Danau Toba.
Kata kuncinya tujuh pemerintah kabupaten yang berada di kawasan Danau Toba yakni, Kabupaten Samosir, Dairi, Pakpak Barat, Tanah Karo, Simalungun, Toba Samosir, Humbang Hasundutan dan Tapanuli Utara harus proaktif menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah di provinsi, kabupaten dan kota se-Indonesia, dan menawarkan kunjungan ke Danau Toba dengan memberikan berbagai kemudahan seperti diskon yang besar untuk penginapan. Kemudian menggencarkan kegiatan -kegiatan bagi pelajar dan mahasiswa.
Sanggam Hutapea pun menyarankan peran aktif Pemda mengimbau diaspora orang Batak yang banyak di perantauan, guna datang berwisata ke Danau Toba.
Jika tidak ada upaya dan kerja keras menggali potensi- potensi terpendam di kawasan Danau Toba, maka perubahan dan pembenahan yang bisa membuat wisatawan tertarik tidak akan terjadi. Kalau hanya andalkan keindahan alam Danau Toba maka akan sulit menjadikan Danau Toba sebagai tujuan utama wisatawan.
Menurut Sanggam Hutapea wisatawan yang berkunjung tidak akan betah berlama-lama sebab wisatawan paling dua atau tiga malam saja betah di Danau Toba.
Alumni pasca sarjana Universitas Gajah Mada itu mengharapkan tujuh kabupaten yang daerahnya bersentuhan langsung di kawasan Danau Toba di Tahun 2023 dapat menjalin kerja sama yang permanen dan sepakat membangun destinasi wisata di kawasan Danau Toba.
Artinya setiap daerah harus mampu melahirkan produk dan menghadirkan destinasi-destinansi yang menjadi daya tarik, sehingga wisatawan tidak monoton hanya menikmati keindahan alam Danau Toba.
” Produk yang dikemas pun hatus punya khas daerah masing-masing dan tidak saling berkompetisi, tukasnya.
Jujur, sebut Sanggam Hutapea, selain keindahan alam Danau Toba, masih banyak potensi yang layak jadi destinasi wisata seperti penenun Ulos di Toba, Jejak peninggalan Dinasti Sisingamangaraja di Bakkara Humbang Hasundutan, Istana Presiden Soerkanro di Parapat, dan ada danau diatas pulau Samosir yakni Danau Sidihoni. Sementara di Tapanuli Utara sangat potensial sebagai kawasan wisata rohani.
Bahkan, sebut Sanggam Hutapea,salah satu contoh kreatif yakni, bagaimana mengemas narasi untuk mengisahkan Tugu-Tugu Marga yang ada di Tapanuli menjadi obyek wisata menarik bagi wisatawan.
Tugu-tugu marga itu harus dinarasikan sebab kalau hanya sekedar tugu maka daya tariknya kurang. kreativitas, termasuk bagaimana kreatif mengemas produk produk lokal,”tandasnya.
“Jika Pemerintah daerah proaktif merangkul BUMN saya kira hal ini bukan hal yang susah. Perlu diingat bahwa untuk membangun pariwisata, pemerintah tujuh kabupaten di kawasan Danau Toba harus bekerja keras menggali dan mengembangkan potensi-potensi,” pungkas Sanggam Hutapea. (J05)












Tourism Planning Danau Toba tidak menyentuh kepada kebutuhan Dan minat wisatawan man can negara Diperlukan zonasi tourism planning di kawasan Danau Toba sesuai minat turis domestic Dan international Tourism Zonasi planning dikemas denfan bervariasi Dan tidak sama disetiap wilayah dengan demikian wisatawan man can negara dapat mrmilih sesuai minat Sangat diperlukan Inteligencia untuk marketing Semoga bisa kembali keperiode 80 – 90 an
Tidak ada master plan pariwisata yang menyentuh bagi wisatawan asing? Danau Toba itu Lucas sehingga diperlukan activities zone yang bervariasi Dana Toba tidak akan maju kalau hanya disentuh dengan kebutuhan domestic tourist Untuk itu activities zone diperlukan untuk menarik wisatawan asing sesuai minat Jangankan semua kabupaten mengemas products wisatawan yang sama diperlukan variations sesuai kaeakter bangsa2 yang akan beekunjung Inteligencia para pelaku tourism planning diperlukan tidak hanya sekeder hitam Putin diatasi kertas