JAKARTA (Waspada.id): Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, menegaskan bahwa praktik keberagamaan tidak boleh berhenti pada ritual semata. Menurutnya, agama harus menghadirkan dampak nyata bagi kehidupan sosial, ekonomi, dan spiritual masyarakat.
Hal itu disampaikan Kamaruddin dalam acara buka puasa bersama media massa di Jakarta, Rabu (11/3/2026). Hadir dalam kesempatan itu Staf Khusus Menteri Agama Ismail Cawidu, Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik (HKP) Kemenag, Thobib Al Asyhar dan Kabag Strategi Komunikasi dan Hubungan Kelembagaan Biro HKP Mohammad Khoeron.
“Beragama harus berdampak secara sosial. Secara ekonomi memberdayakan dan secara spiritual mencerahkan. Itulah dampak yang harus hadir agar keberagamaan umat menjadi bermutu,” ujar Kamaruddin.
Ia menjelaskan, paradigma tersebut menjadi dasar Kementerian Agama dalam merumuskan berbagai agenda prioritas. Program-program Kemenag, menurutnya, merupakan turunan dari Asta Cita Presiden yang kemudian menjadi cantolan arah kebijakan kementerian.
Salah satu contohnya adalah program pemberdayaan ekonomi umat melalui instrumen keagamaan seperti zakat.
Kamaruddin menyinggung pernyataan Menteri Agama tentang zakat yang sempat menjadi perhatian publik. Menurutnya, zakat pada dasarnya adalah bentuk kedermawanan minimal dari umat Islam.
“Kalau hanya zakat yang kita lakukan, sebenarnya itu bentuk kedermawanan yang paling minimal. Padahal potensi kedermawanan umat bisa jauh lebih besar untuk membantu fakir miskin, anak yatim, dan kelompok rentan lainnya,” katanya.
Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa tantangan sosial di Indonesia masih besar. Saat ini terdapat sekitar 24 juta orang miskin di Indonesia, termasuk sekitar 4 juta yang masuk kategori miskin ekstrem.
Menurutnya, kondisi tersebut seharusnya bisa diatasi jika solidaritas sosial umat beragama berjalan optimal. Apalagi Indonesia memiliki sekitar 100 juta penduduk kelas menengah yang berpotensi membantu kelompok masyarakat miskin.
“Kewajiban mengentaskan kemiskinan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga siapa pun yang memiliki kemampuan,” katanya. Karena itu, Kementerian Agama mendorong transformasi praktik keberagamaan agar lebih menekankan kesalehan sosial.
“Praktik-praktik agama yang mengutamakan kesalehan sosial seperti inilah yang ingin kita transformasikan sebagai penyempurnaan ibadah harian kita,” ujar Kamaruddin.
Ia bahkan menegaskan bahwa mengabaikan kewajiban zakat berarti mengabaikan hak orang lain.
“Kalau tidak mengeluarkan zakat, sebenarnya kita sedang melakukan korupsi. Orang yang benar-benar beragama, ketika melihat fakir miskin, pasti hatinya tersentuh dan ingin membantu,” pungkasnya.
Ia juga menekankan makna spiritual dari ibadah puasa di bulan Ramadan. Menurutnya, puasa merupakan latihan spiritual yang sangat mendasar untuk merasakan kehadiran Tuhan setiap saat.
“Puasa adalah training untuk merasakan kehadiran Tuhan setiap saat. Ini ibadah yang paling pribadi antara manusia dan Allah. Di dalamnya ada kepasrahan total,” jelasnya.
Kamaruddin menambahkan bahwa puasa juga menjadi nutrisi bagi jiwa manusia agar lebih peka terhadap nilai-nilai ketuhanan.
“Puasa itu nutrisi jiwa yang membuat kita lebih sensitif menangkap sinyal-sinyal ketuhanan,” ujarnya.

















