Nusantara

Sektor Industri Agro Diandalkan Untuk Capai Target Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Sektor Industri Agro Diandalkan Untuk Capai Target Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Diskusi Dialektika Demokrasi yang digelar KWP bersama Biro Pemberitaan DPR RI , Kamis (12/3/), di Jakarta. (Waspada.id/Ramadan Usman)
Kecil Besar
14px

JAKARTA (Waspada): Pemerintah menempatkan sektor industri agro sebagai salah satu motor utama untuk mendorong target pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen. Meski menghadapi tekanan global dan sejumlah kendala struktural, sektor ini masih menunjukkan kinerja kuat, baik dari sisi perdagangan, investasi, maupun penyerapan tenaga kerja.

Merrijantij mengatakan industri agro masih menjadi penopang utama sektor manufaktur nasional. Pada 2025, pertumbuhan industri agro tercatat sebesar 4,95 persen, sedikit menurun dibandingkan 5,20 persen pada 2024.

Menurut dia, perlambatan tersebut dipengaruhi kondisi ekonomi global yang turut berdampak pada permintaan dan rantai pasok industri.

Meski demikian, kinerja sektor ini tetap menunjukkan kontribusi signifikan terhadap perekonomian. Neraca perdagangan industri agro mencatat surplus 57,54 miliar dolar AS pada 2025. Angka tersebut bahkan melampaui surplus industri pengolahan nonmigas secara keseluruhan yang mencapai 37,86 miliar dolar AS.

“Industri agro memberikan kontribusi sebesar 52,09 persen terhadap total industri pengolahan nonmigas,” kata Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian, Merrijantij Punguan Pintaria, dalam diskusi Dialektika Demokrasi yang digelar Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP) bersama Biro Pemberitaan DPR RI , Kamis (12/3/), di Jakarta.

Dari sisi investasi, sektor ini juga menunjukkan daya tarik yang kuat. Sepanjang 2025, nilai investasi industri agro mencapai Rp191,73 triliun atau sekitar 35,84 persen dari total investasi di sektor industri pengolahan.

Investasi tersebut terdiri dari penanaman modal asing sebesar Rp91 triliun dan penanaman modal dalam negeri sekitar Rp100 triliun. Menurut Merrijantij, angka tersebut mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek industri agro Indonesia.

Selain menjadi penyumbang devisa, sektor ini juga berperan besar dalam penyerapan tenaga kerja. Industri agro saat ini menyerap sekitar 10 juta pekerja secara langsung di berbagai subsektor.

Di sisi lain, kapasitas produksi industri agro masih memiliki ruang untuk ditingkatkan. Kemenperin mencatat tingkat utilisasi atau kapasitas terpasang sektor ini baru mencapai sekitar 57,28 persen.

“Artinya masih ada peluang untuk meningkatkan produksi guna memenuhi permintaan pasar domestik maupun ekspor,” ujarnya.

Indikator lain yang menunjukkan optimisme industri adalah Indeks Kepercayaan Industri (IKI) atau PMI manufaktur yang dirilis Kemenperin. Pada Februari 2026, indeks tersebut berada di atas angka 50 yang menandakan sektor industri masih berada dalam fase ekspansi.

Merrijantij menilai Indonesia memiliki sejumlah keunggulan struktural untuk memperkuat industri agro, mulai dari kekayaan sumber daya alam hingga besarnya pasar domestik.

Komoditas unggulan seperti kelapa sawit, kelapa, rumput laut, kopi, rempah-rempah, hingga hasil perikanan dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

“Dengan populasi lebih dari 260 juta jiwa, pasar domestik Indonesia sangat besar. Ini menjadi peluang bagi pengembangan industri berbasis bahan baku lokal,” kata dia.

Pemerintah juga mendorong kebijakan strategis seperti program biodiesel B50 untuk memperkuat pemanfaatan komoditas domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasar ekspor.

Selain itu, meningkatnya kesadaran konsumen terhadap kualitas produk dan sertifikasi halal dinilai menjadi peluang tambahan bagi produk agro Indonesia untuk memperluas pasar.

Namun demikian, sektor industri agro masih menghadapi sejumlah tantangan mendasar. Salah satunya adalah ketergantungan terhadap impor bahan baku tertentu seperti kakao, kopi, dan kedelai.

Menurut Merrijantij, kondisi ini terjadi karena pertumbuhan industri tidak selalu diikuti peningkatan produksi sektor pertanian secara seimbang.

Tantangan lain datang dari keterbatasan teknologi, inovasi, serta tingginya biaya faktor produksi, termasuk energi, air, logistik, dan bahan baku impor. Kondisi tersebut membuat harga pokok produksi industri di Indonesia relatif tinggi dibandingkan produk impor.

“Akibatnya daya saing produk dalam negeri di pasar global masih menghadapi tekanan,” ujarnya.

Kualitas sumber daya manusia juga menjadi perhatian, terutama dalam menghadapi percepatan transformasi teknologi di sektor industri.

Karena itu, Merrijantij menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat untuk memperkuat sektor industri agro.
Upaya strategis yang perlu dilakukan antara lain peningkatan produksi bahan baku domestik, penguatan inovasi teknologi, efisiensi biaya produksi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Dengan langkah-langkah tersebut, industri agro diharapkan dapat terus menjadi penggerak utama perekonomian nasional sekaligus mendukung target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen,” kata Merrijantij.(id89).

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE