Seruan Referendum Melayu Raya Bergema Dari Tanjungbalai-Asahan

Bantu Doa Untuk Rempang

  • Bagikan
Seruan Referendum Melayu Raya Bergema Dari Tanjungbalai-Asahan
Indra Syah. Waspada/Ist

TANJUNGBALAI (Waspada): Proyek Strategis Nasional (PSN), Rempang Eco City di Rempang Galang Kota Batam semakin banyak mendapat penolakan dari masyarakat. Tak sedikit yang memberikan simpati atas penindasan yang dialami warga di sana.

Ketua Barisan Masyarakat Melayu Tanjungbalai Asahan, Indra Syah, Minggu (17/9) mengatakan, sesuai informasi diperolehnya, Artha Graha Network (AG Network) disebut-sebut induk usaha dari PT Makmur Elok Graha (MEG). Sedangkan PT MEG sendiri merupakan perusahaan yang mendapatkan hak pengelolaan terhadap 17.000 hektar lebih lahan di kawasan Rempang sejak 2004 hingga kini.

Sekitar 2.000 hektar dari lahan itu akan dijadikan sebagai tempat pembangunan Rempang Eco City, lokasi pabrik produsen kaca China, Xinyi Glass Holdings Ltd. Sedangkan perusahaan tersebut merupakan milik salah satu pentolan sembilan naga yaitu TW. Akibatnya, rakyat Melayu Rempang terpaksa harus digusur, padahal mereka sudah mendiami pulau itu turun temurun sejak ratusan tahun lalu.

Mereka tertindas, terusir dari kampung halaman sendiri demi kepentingan asing. Untuk itu, dirinya sebagai Ketua Barisan Nasyarakat Melayu Tanjungbalai Asahan mengaku sangat khawatir dengan negara yang tidak lagi punya kedaulatan di hadapan pengusaha China.

Istilah orang Melayu katanya, seperti kerbau sudah dicucuk hidungnya oleh pengusaha China dan Negara China. Negara seakan turut dan tunduk dengan kemauan bangsa asing.

“Saya mencurigai jangan-jangan ini adalah janji politik atau seperti MoU pemenangan Pilpres 2019 lalu yang dibiayai China dan sembilan Naga, sehingga barternya adalah rakyat dan tanah Melayu yang dijualbelikan dengan alasan investasi,” ujar Indra Syah.

Akibatnya pemerintah menghalalkan berbagai cara termasuk menzalimi rakyat Melayu untuk dijadikan “pembayaran janji politik”. Menurutnya, pemenuhan hasrat politik itu terlihat sangat dipaksakan karena jelas di depan mata, mereka menggunakan kekuatan tangan besi, mengusir, menembak, menakut-nakuti, dan menangkap masyarakat.

Padahal tanah Melayu itu sudah ada sebelum Indonesia ada, bahkan seorang Sultan Melayu yang bernama Sultan Syarif Kasim II pernah menyumbangkan 13 Juta Gulden Belanda atau jika dirupiahkan sekitar seribu triliun rupiah untuk kemerdekaan Bangsa Indonesia. Selain itu, para Sultan Melayu menyerahkan wilayahnya untuk bergabung kepada NKRI dengan harapan adanya jaminan keadilan sosial bagi rakyatnya.

Akan tetapi ujarnya, penggabungan wilayah Kesultanan Melayu ke Indonesia ini tidak sesuai harapan. Banyak penindasan, diskriminasi, pembunuhan, bahkan pembantaian yang dialami rakyat Melayu sejak Indonesia Merdeka.

Penindasan dan pembantaian ini katanya juga pernah terjadi di Melayu Sumatera Timur, demi merampas tanah-tanah Melayu, maka dibuat suatu gerakan yang diberi nama revolusi sosial di tahun 1946. Padahal itu merupakan tipu muslihat untuk membantai orang-orang Melayu agar tanah, harta, dan wilayah baik perkebunan, pertanian, orang-orang Melayu dapat dirampok.

Dan pemerintah Soekarno paparnya, seolah-olah lepas tangan atas kejadian yang merenggut ribuan rakyat dan anggota Kesultanan Melayu Sumatera Timur.

“Untuk itu, sudah sepantasnya para Kesultanan Melayu Raya untuk kembali memikirkan rakyat Melayu, jika memang rakyat terus dizalimi, maka saya sebagai Ketua Barisan Masyarakat Melayu mengajak seluruh Bangsa Melayu yang ada di Indonesia untuk melakukan referendum, apakah masih pantas bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia ataukah lepas dengan bebas menjadi negara Melayu Raya,” tegas Indra Syah.

Camkanlah katanya, Bangsa Melayu adalah pengingat, Bangsa Melayu bukan bangsa pelupa, kezaliman demi kezaliman yang mereka lakukan katanya akan menyatukan Melayu itu sendiri, sebagaimana sumpah Hang Tuah, esa hilang dua terbilang, tak kan Melayu hilang di bumi,” tegas Indra Syah.

Menurutnya, referendum ini harus gencar digelorakan ke seluruh pelosok negeri, sebab negara sudah tidak lagi memiliki marwah, tunduk dengan asing, tega menghabisi rakyatnya sendiri. Referendum ini katanya sah dilakukan, tidak melanggar konstitusi yang ada.

Sementara, Ramadhansyah sebagai Puak Melayu Asahan merasa kecewa terhadap pemerintah RI karena saudara mereka yang ada di Rempang Galang diperlakukan sebagai penjahat dan pendatang haram. Padahal banyak fakta sejarah membuktikan bahwa mereka lebih dulu ada, bahkan jauh sebelum negara RI dibentuk.

Seharusnya ucap Ramadhan, kebijakan negara terhadap investasi, terlebih dahulu menjalani kajian lingkungan, termasuk dampak sosial dan kultur masyarakat yang ada. Relokasi paparnya, bukanlah sebuah solusi terhadap masyarakat yang sudah turun temurun mendiami suatu kampung atau wilayah.

Walau diberikan fasilitas pengganti yang menurut pemerintah lebih baik, tetapi tidak akan mampu memindahkan kenangan, sakralitas bahkan situs budaya atau makam para nenek moyang yang ada di kampung tersebut.

“Sebagai Rumpun Puak Melayu, andai persoalan ini terjadi di Asahan, kami juga tidak akan diam, kami pasti melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan saudara-saudara kami di Rempang Galang,” tegas Ramadhansyah.

Rempang Galang ucapnya, bukanlah persoalan lokal, melainkan sudah menjadi permasalahan kultur, sehingga wajar seluruh Bangsa Melayu mengambil sikap. Solusinya ujar Ramadhan, pemerintah harus membatalkan investasi tersebut di Tempang Galang.

Bantu Doa Rempang

Sementara, Ustadz Abdul Somad (UAS) mengajak seluruh masyarakat yang ada ikatan dengan rakyat Rempang Galang baik ikatan rumpun Melayu maupun dalam satu akidah, satu negara Kesatuan Republik Indonesia untuk mendoakan mereka, sebab, doa merupakan senjatanya seorang muslim.

Saat ini hanya doa yang bisa diperbuat, sebab kalau berkumpul ramai-ramai sudah banyak tertangkap, orang tak bisa ke laut, tak bisa mencari makan, dikirimkan makanan, yang mengasih makan pun ditangkap. Ke mana lagi tempat mengadu ujar UAS, kecuali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Negeri ini tegasnya, punya orang Melayu orang yang sangat cinta kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berjuang karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala. UAS memohon kepada semua dalam ikatan persaudaraan Melayu, Islam, Negara Kesatuan Republik Indonesia baik yang ada di Brunei Darussalam, Malaysia di Singapura, yang ada di perantauan dari Sabang sampai Papua agar berdoa.

Doa bersama setelah salat Subuh dan Magrib serta salat tahajud, membaca Surah Yasin meminta kepada Allah yang punya kekuasaan untuk memberikan pertolongan agar masyarakat yang ada di Rempang dan Galang diberikan keselamatan.

“Insya Allah kita laksanakan habis salat Magrib hari ini hari Ahad bulan Rabiul Awal penanggalan Islam, membaca Surah Yasin dilanjutkan terus sampai pada hari di mana Allah memberikan pertolongan,” harap UAS. (a21/a22)

  • Bagikan