BOGOR (Waspada.id): Umat Hindu memperingati Tumpek Uye dengan melakukan aksi pelestarian lingkungan melalui penanaman 14.580 pohon dan pelepasliaran 4.690 satwa secara serentak di seluruh Indonesia.
Pada pelaksanaan peringatan Tumpak Uye di Pura Parahyangan Agung Jagatkarta, Gunung Salak, Kabupaten Bogor, Jumat (6/2/2026), ratusan umat Hindu menanam 1.200 pohon dan melepasliarkan 700 ekor burung dari berbagai jenis.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama, Prof. I Nengah Duija, mengatakan Tumpek Uye merupakan momentum suci umat Hindu yang diperingati setiap 210 hari sekali untuk memuliakan hewan dan satwa sebagai bagian dari dharma kehidupan.
“Tumpek Uye adalah momentum suci bagi umat Hindu untuk memuliakan para hewan dan satwa yang tumbuh di atas bumi ini,” ujar Duija dalam sambutannya.
Peringatan Tumpak Uye, dikatakan Duija, sebagai bagian dari program Green Dharma Bakti Pertiwi untuk Nusantara Jaya yang digelar Kementerian Agama.
Ia menjelaskan, peringatan Tumpek Uye tahun ini mengusung tema Green Dharma Bakti Pertiwi untuk Nusantara Jaya, yang mengandung makna filosofis mendalam tentang kesadaran manusia akan ketergantungannya pada keseimbangan alam, termasuk pelestarian satwa sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
Menurut Duija, program Green Dharma tidak hanya berhenti pada ritual keagamaan, tetapi diwujudkan melalui aksi konkret yang sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto serta kebijakan Kementerian Agama dalam penguatan ekoteologi.
“Green Dharma bukan sekadar ritual, tetapi aksi nyata umat Hindu dalam merawat alam semesta. Ini juga sejalan dengan Gerakan Indonesia Asri yang dicanangkan Presiden,” katanya.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, aksi ekologis dilakukan secara nasional di 36 provinsi dengan total capaian 14.580 pohon tertanam dan 4.690 satwa dilepasliarkan.
Duija menegaskan, aksi tersebut merupakan simbol bakti umat Hindu kepada alam semesta dan Ibu Pertiwi, sekaligus wujud nyata kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan hidup.
Selain aksi ekologis, kegiatan juga dirangkai dengan penyerahan mesin pengolah sampah organik sebagai pilot project pengelolaan sampah di rumah ibadah. Program ini bertujuan mewujudkan tempat ibadah yang ramah lingkungan, sehat, dan bersih.
Pada kesempatan yang sama, turut diluncurkan buku berjudul “Ekoteologi Hindu: Dari Esoterik Menuju Eksoterik”.
Buku tersebut menegaskan bahwa ajaran Hindu memiliki fondasi ekologis yang kuat melalui konsep-konsep dasar seperti Rta dan Tri Hita Karana, yang perlu diwujudkan secara nyata dalam kehidupan sosial, pendidikan, kebijakan publik, dan gerakan komunitas.
Peringatan Tumpek Uye di Bogor diikuti sekitar 500 peserta yang terdiri dari jajaran Bimas Hindu pusat dan daerah, penyuluh agama Hindu, akademisi, mahasiswa, serta lembaga keagamaan Hindu dari DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.
Kegiatan ini juga dirangkai dengan pelayanan cek kesehatan gratis bagi masyarakat sekitar.
Dirjen Bimas Hindu menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkolaborasi menyukseskan kegiatan tersebut, termasuk pengelola Pura Gunung Salak, komunitas adat, TNI–Polri, pecalang, serta organisasi keumatan Hindu.
“Melalui peringatan Tumpek Uye ini, kami berharap umat Hindu semakin meneguhkan komitmen spiritual dan sosial dalam menjaga keharmonisan alam sebagai bagian dari pengabdian kepada bangsa dan negara,” pungkas Duija.

















