Wakil Ketua Umum PSSI Aceh, Irfansyah. Waspada.id/Ist
BANDA ACEH (Waspada.id): Stadion Blang Paseh hari ini tidak hanya menjadi saksi duel si kulit bulat. Lebih dari itu, stadion bersejarah di Sigli ini menjadi monumen ketangguhan masyarakat Aceh.
Setelah sempat ‘dipaksa’ berhenti oleh hantaman bencana yang memutus ritme kompetisi sejak babak 16 besar, babak 8 Besar Liga 4 (Liga 3) Regional Aceh akhirnya resmi digulirkan kembali hari ini.
Jeda panjang yang menyiksa penantian para pecinta bola kini tuntas. Lapangan hijau kembali menjadi tempat pelampiasan energi positif bagi delapan tim terbaik yang tidak membiarkan semangatnya padam tertimbun lumpur bencana.
Grup E yang dihuni Al Farlaky FC, Persas Sabang, PSST Simpang Tiga, dan Kuala Nanggroe FC, serta Grup F yang mempertemukan PSAP Sigli, PSAB Aceh Besar, PSGL Gayo Lues, dan Persabar, kini siap membuktikan bahwa mereka adalah para pejuang yang mampu menjaga performa di tengah situasi sulit.
Wakil Ketua Umum PSSI Aceh, Irfansyah, memantau atmosfer di Blang Paseh, Selasa (31/03/2026) menegaskan bahwa kembalinya kompetisi ini adalah kemenangan mental bagi seluruh insan bola di Aceh.
Menurutnya, bencana mungkin bisa merombak jadwal kita, tapi ia tidak punya kuasa untuk memadamkan gairah sepak bola di tanah ini. Jeda panjang kemarin adalah ujian kesabaran yang luar biasa bagi pemain, pelatih, dan ofisial.
“Hari ini, saat peluit kick-off dibunyikan, kita sedang mengirim pesan ke seluruh penjuru: Bahwa Aceh selalu punya cara untuk kembali berdiri tegak,” ujar sosok yang akrab disapa Dek Fan ini.
Bagi Irfansyah, konsistensi delapan tim kontestan yang tetap mampu menjaga stabilitas tim di tengah ketidakpastian adalah bukti bahwa profesionalisme mulai mengakar kuat di kasta amatir Aceh.
Ia memposisikan PSSI Aceh bukan hanya sebagai penyelenggara, tapi sebagai penjaga marwah dari setiap keringat yang jatuh di lapangan.
“Saya meminta setiap tim membayar lunas penantian masyarakat dengan permainan yang bersih dan bernyali. Jangan ada ruang untuk drama di luar teknis. Di Blang Paseh ini, kita tidak hanya mencari juara, tapi kita sedang merawat harapan masyarakat yang baru saja melewati masa sulit. Jadikan setiap gol sebagai energi kebangkitan kita bersama,” jelasnya.
Kembalinya keriuhan di tribun Blang Paseh diharapkan menjadi katalisator bagi pemulihan psikologis warga terdampak. Dengan kembalinya Liga 4, Aceh sekali lagi membuktikan bahwa sepak bola adalah instrumen pemersatu yang paling ampuh saat keadaan sedang tidak baik-baik saja.
“Pertarungan di Grup E dan F hari ini menjadi babak baru bagi ambisi Aceh untuk kembali menembus panggung nasional dengan kepala tegak,” imbuh Irfansyah yang juga Ketua Badan Legislasi (Banleg) DPR Aceh ini. (Id74)


















