Di era modern saat ini, manusia hidup di antara dua dunia, yaitu dunia nyata dan dunia digital. Perkembangan teknologi memudahkan manusia dalam berkomunikasi, bekerja, belajar, serta membangun hubungan sosial. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul berbagai tantangan yang berkaitan dengan identitas, keseimbangan hidup, dan kesehatan mental.(Jalilah, 2021)
Batas antara dunia nyata dan dunia digital semakin kabur. Manusia tidak lagi harus berjumpa secara fisik untuk saling terhubung. Melalui ponsel dan layar, seseorang dapat berkomunikasi melalui pesan maupun panggilan video. Ruang interaksi yang dahulu terbatas pada lingkungan rumah, sekolah, kampus, dan tempat kerja kini meluas ke ruang digital yang tidak berbatas. Berdasarkan laporan We Are Social dan Kepios yang dirilis pada 31 Januari 2024, lebih dari 77 persen penduduk Indonesia aktif menggunakan internet dengan rata-rata waktu penggunaan lebih dari tujuh jam per hari, dan berdasarkan Data Badan Pusat Statistik pada tahun 2024 Sumatera Utara 72,84 persen aktif menggunakan. Data ini menunjukkan bahwa dunia digital telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.(Astageni & Wijanarko, 2025)
Dunia digital menawarkan kecepatan dan kemudahan, tetapi juga membawa konsekuensi. Aktivitas sederhana seperti makan bersama keluarga sering kali terganggu karena perhatian teralihkan pada pesan yang belum dibalas atau unggahan yang belum sempat dibagikan. Kehadiran secara fisik tidak selalu berarti kehadiran secara emosional.(Khowim, 2025).
Dalam kehidupan modern, banyak orang menjalani dua versi diri. Di dunia nyata, seseorang tampil apa adanya. Sementara di dunia digital, yang ditampilkan sering kali merupakan versi terbaik melalui foto yang dipilih dengan cermat, tulisan yang disusun rapi, serta kehidupan yang tampak lebih tertata. Penelitian Boyd dan Ellison pada tahun 2007 menjelaskan bahwa media sosial menjadi ruang representasi diri, bukan gambaran utuh dari kehidupan seseorang.(Jalilah, 2021)
Hidup di antara dua dunia membawa dampak emosional yang sering tidak disadari. Di satu sisi, ruang digital membuat manusia merasa lebih terhubung. Namun, di sisi lain, muncul rasa cemas akibat kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di media sosial. Sejumlah laporan psikologi yang dirilis oleh American Psychological Association pada tahun 2023 menunjukkan adanya keterkaitan antara penggunaan media sosial secara berlebihan dengan meningkatnya tekanan emosional dan kecemasan, terutama pada generasi muda.
Dunia digital pada dasarnya bukanlah masalah. Persoalan muncul ketika manusia kehilangan kendali dan membiarkan layar mengambil alih kehidupan nyata. Oleh karena itu, menemukan keseimbangan menjadi hal yang penting. Membatasi waktu penggunaan gawai, mematikan notifikasi pada waktu tertentu, serta meluangkan waktu untuk berinteraksi secara langsung dapat membantu menjaga hubungan dengan realitas.
Hidup di antara realita dan dunia digital merupakan bagian dari identitas manusia modern. Kita tidak dapat sepenuhnya meninggalkan salah satunya. Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk menempatkan keduanya secara proporsional. Ketika keseimbangan tercapai, dunia nyata dan dunia digital dapat saling menguatkan, sehingga manusia tetap dapat terhubung, produktif, dan hadir sepenuhnya dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui mata kuliah digital society dosen pengampu Anim S.Si, M.Pd. Kami sebagai mahasiswa Prodi Bahasa Inggris Universitas Asahan ingin menyampaikan melalui artikel ini bahwa Jangan sampai kita terlalu sibuk di dunia digital sampai lupa hidup di dunia nyata. HP bisa ditutup, notifikasi bisa menunggu, tapi waktu bersama orang sekitar nggak bisa diulang. Sesekali berhenti scroll, lihat sekitar, ngobrol langsung, dan nikmati hidup yang benar-benar nyata. WASPADA.id
By: Casie Carnadea Sagita, Nabila Hakimah, Reyna Ade Andrea











