Oleh: Ami Aulia Nurhasanah, Nayla Amalia, Zihan Fazira Manik
Pertumbuhan Digital Tanpa Pertumbuhan Sikap
Indonesia tengah menunjukkan ledakan digital. Menurut laporan Digital 2026, Indonesia pada akhir 2025 menunjukkan 230 juta orang telah online, setara dengan 80,5% dari total populasi (DataReportal, 5 November 2025). Survei APJII pertengahan tahun lalu pun mencatat angka serupa, yakni 229,4 juta pengguna internet, menandakan tren pertumbuhan yang konsisten.
Yang lebih mencengangkan, pengguna media sosial melejit tajam. Dari awal 2025 yang tercatat 143 juta orang (50,2%), kini sudah 180 juta orang (62,9%) aktif di berbagai platform. Data ini diolah Kepios dari analisis iklan digital dengan penghapusan duplikasi identitas, sehingga jumlahnya mencerminkan pengguna unik sebenarnya. Namun, tingginya tingkat partisipasi publik di ruang digital tidak selalu mecermininteraksi yang berkualitas.
Tapi, apakah teknologi ini menumbuhkan kecerdasan kita, atau cuma membuat jari-jari kita lebih cepat menekan tombol like dan berkomentar?
Netizen +62 yang Kehilangan Nurani
Dalam laporan Digital Civility Index (DCI) yang dirilis oleh Microsoft para tahun 2021, temuan tersebut menyoroti ironi di balik pertumbuhan pesat pengguna media sosial di Indonesia: Indonesia termasuk salah satu pengguna media sosial paling tidak ramah se-Asia Tenggara.
Fenomena ini mudah ditemui di media sosial sehari-hari. Komentar seperti “bodoh,” “murah,” atau “mencari sensasi, ya?” terasa sangat familiar. Dalam kajian Digital Society, fenomena ini dikenal sebagai attention economy: perhatian menjadi komoditas utama. Algoritma media sosial cenderung mempromosikan konten yang memicu berbagai emosi, marah, takut, atau sensasional. Namun lucunya, konten seperti itulah yang menarik banyak viewers dan comment seolah itu dinormalisasi. Akibatnya, ruang digital dipenuhi oleh noise alih-alih ideas.
Tren Respon Instan
Memang benar bahwa jempol lebih cepat daripada otak di media sosial. Kiky Saputri, misalnya, mengakui bahwa ia sengaja menanggapi penggemar Blackpink agar orang-orang dapat membedakan antara opini, kesaksian, dan hinaan (Kompas.com, 23 Maret 2023). Contoh lain adalah Bilqis, putri Ayu Ting Ting, yang sekali lagi menjadi sasaran hinaan di media sosial, memaksa ibunya untuk merespons dengan tegas (Kentung AJ, 20 Agustus 2024). Kedua kasus ini menunjukkan bagaimana reaksi jempol yang cepat seringkali mengalahkan logika, yang menyebabkan komentar yang menyakitkan atau tidak pantas.
Di bagian komentar, arah percakapan sering kali ditentukan oleh siapa yang pertama kali mengangkat topik tersebut. Sebuah komentar sarkastik dapat memicu ratusan komentar selanjutnya ke arah yang sama. Ini bukan berarti mayoritas setuju, tetapi karena respons langsung lebih mudah ditiru daripada respons yang lebih bijaksana. Suara pertama sangat penting dan memegang kunci bagaimana alur di kolom komentar ditentukan.
Menunda Komentar, Menyelamatkan Akal Sehat
Solusi untuk masalah ini sebenarnya cukup simple: pikirkan sebelum menulis. Tetapi masalahnya adalah solusi yang paling sederhana justru paling sulit untuk diterapkan. Bahkan, jika kita ingin ruang digital tetap manusiawi, satu langkah kecil saja sudah cukup: pikirkan sebelum berkomentar.
Melalui mata kuliah Digital Society ini yang diampu oleh Ibu Anim, S.Si., M.Pd., kami sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Asahan ingin menyampaikan bahwa pada akhirnya Struggle dalam digital society bukan terletak pada kecanggihan teknologi, melainkan pada kemampuan manusia mengendalikan pikirannya. Jempol vs Otak bukan sekadar metafora, tetapi potret nyata ruang digital hari ini: Jempol melaju kencang, sementara otak tertinggal.
Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Asahan










