Oleh: Indra Efendi Rangkuti
All England adalah turnamen bulutangkis tertua di dunia dan paling bergengsi. Begitu hebatnya kharisma All England hingga All England dianggap hanya kalah dari Olimpiade dan Kejuaraan Dunia untuk turnamen bulutangkis perorangan. Bahkan muncul anggapan “belum lengkap” kehebatan atlet bulutangkis jika belum pernah menjuarai All England.Tahun 2026 ini All England digelar pada 3 – 8 Maret 2026 di Utilita Arena Birmingham.
Sejak digelar pertama kali pada 1899 telah terjadi beberapa kali perubahan arena penyelenggaraan All England. Pada tahun 1899 – 1901 All England digelar di Buckingham Gate Drill Halls. Kemudian pada 1902 digelar di Crystal Palace Transept.Pada 1903-1909 digelar di London Rifle Brigade. Pada 1910-1939 digelar di Lindley Hall.
Sempat terhenti akibat Perang Dunia II, All England kembali digelar pada tahun 1947 di Harringay Arena hingga 1949. Pada 1950-1956 digelar di Earls Court Exhibition Centre. Pada 1957 – 1993 digelar di Wembley Arena. Dan sejak 1994 hingga saat ini digelar di Birmingham.
Ketika All England digelar di Wembley Arena popularitas dan gengsi All England semakin meningkat. Apalagi suasana pertandingan di Wembley Arena terkesan “angker” bagi para pemain yang berlaga. Begitu sakralnya Wembley Arena hingga Wembley Arena menjadi arena legendaris All England.
Pada tahun 1993 adalah tahun terakhir All England digelar di Wembley Arena.Saat itu Indonesia sukses meraih gelar juara di nomor tunggal putra oleh Hariyanto Arbi dan tunggal putri oleh Susy Susanti.

Tahun 1994 All England pindah arena pertandingan ke Utilita Arena Birmingham. Ini sekaligus babak baru dalam penyelenggaraan All England karena sebelumnya All England walau berpindah – pindah arena pertandingan namun arena pertandingan tersebut berada di London.
Tahun 1994 merupakan tahun dominasi tunggal putra Indonesia. Kesuksesan Hariyanto Arbi yang menjuarai Chinese Taipei Open 1994 dan Ardi B.Wiranata yang menjuarai Korea Open 1993 dan Japan Open 1993 membuat keduanya difavoritkan untuk menjadi Juara All England 1993. Ditambah kehadiran Alan Budikusuma yang merupakan peraih Medali Emas Olimpiade Barcelona 1992, Joko Suprianto yang saat itu menduduki peringkat satu dunia dan Hermawan Susanto yang kerap menembus Final maka kekuatan tunggal putra Indonesia semakin kuat saat itu. Ditambah lagi Fung Permadi yang juga kerap membuat kejutan saat itu.
Namun Joko Suprianto harus absen di All England 1994 akibat kondisi fisiknya yang kurang fit sehingga difokuskan untuk persiapan Indonesia menghadapi Piala Thomas 1994 yang akan digelar di Jakarta. Di All England 1994 ini di nomor tunggal putra Indonesia menurunkan Hariyanto Arbi, Ardi B.Wiranata, Alan Budikusuma, Hermawan Susanto, Fung Permadi, Lioe Tiong Ping.
Alan Budikusuma memulai langkahnya di All England 1994 ini dengan menghadapi pebulutangkis China Chen Gang. Alan sukses menaklukkan Chen Gang dengan straight set 15-1 dan 15-12. Kemudian di babak 16 besar Alan sukses menaklukkan bintang Thailand Sompol Kukasemkij dengan straight set 18-15 dan 15-3.di babak 8 besar Alan sukses menyingkirkan pebulutangkis Denmark Poul Erik Hoyer Larsen dengan straight set 15-10 dan 15-3.
Fung Permadi memulai langkahnya dengan berhadapan dengan pebulutangkis Denmark Soren B.Nielsen dan menang dengan rubber set 14-17,15-9 dan 15-3. Di babak 16 besar Fung Permadi menaklukkan rekan senegaranya Lioe Tiong Ping dengan straight set 15-7 dan 15-9. Namun langkah Fung Permadi terhenti di babak 8 besar setelah takluk dari rekan senegaranya Ardi B.Wiranata dengan rubber set 18-14,4-15 dan 4-15.
Hermawan Susanto memulai langkahnya dengan menghadapi pebulutangkis Belanda Jeroen Van Dijk dan menang dengan straight set 15-1 dan 15-77. Di babak 16 besar Hermawan Susanto yang juga keponakan Liem Swie King ini sukses menyingkirkan pebulutangkis Denmark James Meiborn dengan straight set 15-6 dan 15-14. Di babak 8 besar Hermawan Susanto sukses menaklukkan bintang Denmark Thomas Stuer Lauridsen dengan rubber set 15-12,14-18 dan 15-7.

Juara All England 1991 Ardy B.Wiranata memulai langkahnya dengan menghadapi pebulutangkis Denmark Henrik Sorensen dan menang dengan straight set 15-3 dan 15-4. Di babak 16 besar Ardy sukses menaklukkan pebulutangkis Malaysia Ong Ewe Hock dengan straight set 15-12 dan 15-12. Di babak 8 besar Ardi menaklukkan rekan senegaranya Fung Permadi dengan rubber set 14-18,15-5 dan 15-4.
Juara bertahan Hariyanto Arbi memulai langkahnya dengan menghadapi pebulutangkis Denmark Jan Jorgensen dan menang straight set 15-8 dan 15-6. Di babak 16 besar Hariyanto Arbi sukses menaklukkan pebulutangkis Korea Selatan Kim Hak Kyun dengan rubber set 6-15,15-13 dan 15-7. Di babak 8 besar Hariyanto Arbi dengan perkasa menaklukkan bintang top Malaysia Rashid Sidek denganstraight set 15-1 dan 15-5.
Semifinal tunggal putra All England 1994 ini menjadi catatan sejarah baru bagi Indonesia di All England. Untuk pertama kalinya semifinal tunggal putra All England diisi oleh seluruhnya tunggal putra Indonesia. Hal ini membuat duet pelatih tunggal putra Indonesia Indra Gunawan dan Triadji mendapat pujian dari seluruh tokoh bulutangkis dunia kala itu.
Semifinal mempertemukan Ardy B.Wiranata dengan Hermawan Susanto dan Hariyanto Arbi dengan Alan Budikusuma.Ardy B.Wiranata sukses menaklukkan Hermawan Susanto dengan straight set 15-8 dan 15-3.
Di pertandingan lain Hariyanto Arbi sukses menaklukkan Alan Budikusuma dengan straight set 15-5 dan 15-7. Ini merupakan kemenangan pertama Hariyanto Arbi atas Alan Budikusuma setelah dalam dua pertemuan sebelumnya Alan Budikusuma yang unggul.
Final tunggal putra All England 1994 yang mempertemukan Hariyanto Arbi dengan Ardy B.Wiranata berlangsung di Utilita Arena Birmingham pada 20 Maret 1994. Ini adalah All Indonesian Final kedelapan sepanjang sejarah penyelenggaraan All England.
Para pengamat memperkirakan “perang saudara” ini akan berjalan seru dan susah memprediksi pemenang dari laga Final tersebut karena Hari dan Ardy cukup dominan pada awal 1994.
Bagi Ardy B.Wiranata sendiri ini adalah keduakalinya berlaga di Final All England.Sebelumnya pada tahun 1991 Ardy sukses menembus Final All England dan menorehkan prestasi hebat dengan menjadi Juara setelah menaklukkan bintang Malaysia Foo Kok Keong dengan straight set 15-12 dan 15-10. Ardy sukses menjadi tunggal putra Indonesia ketiga yang menjuarai All England setelah Rudy Hartono dan Liem Swie King.

Hariyanto Arbi sendiri adalah juara bertahan tunggal putra All England setelah pada Final tunggal putra All England 1993 menaklukkan rekan senegaranya Joko Suprianto dengan rubber set 15-7,4-15 dan 15-11. Hariyanto Arbi sukses mengikuti jejak Rudy Hartono, Liem Swie King dan Ardy B.Wiranata yang sukses menjuarai tunggal putra All England.
Meskipun Hariyanto Arbi adalah juara bertahan All England, namun di Final ini Ardy B.Wiranata lebih diunggulkan untuk memenangkan pertandingan Final. Ini karena Ardy memenangkan 6 dari 7 pertemuan mereka sebelumnya. Apalagi dalam pertemuan terakhir mereka beberapa minggu sebelumnya di Final Japan Open 1994 Ardy sukses menaklukkan Hariyanto Arbi dengan rubber set 12-15,15-6 dan 15-3.
Gaya permainan Ardy yang ulet dalam mengejar bola dan memiliki pertahanan yang rapat seolah menjadi penangkal ketangguhan jumping smash milik Hariyanto Arbi. Apalagi ketika mereka bertarung hingga rubber set Hari kerap antiklimaks di set ketiga.
Set pertama berlangsung dengan ketat dan sempat diwarnai kejar mengejar angka diantara keduanya. Namun kemudian Hariyanto Arbi mampu mengendalikan permainan dan akhirnya menang 15-12.
Di set kedua Ardy mencoba bangkit namun Hariyanto Arbi mampu meredam permainan Ardy. Aksi memukau diperlihatkan keduanya dan mendapat aplaus dari penonton yang hadir di arena. Hariyanto Arbi akhirnya menemukan formula untuk mengatasi keuletan Ardy dengan mengatur tempo permainan dengan tidak jor-joran melepaskan jumping smash andalannya.
Akhirnya Hariyanto Arbi sempat terlihat bakal menang mudah karena unggul 14-7 atas Ardy B.Wiranata. Namun dengan keuletannya Ardy B.Wiranata berhasil bangkit dan menyamakan kedudukan menjadi 14-14. Aksi Ardy ini mendapat aplaus meriah dari penonton. Hariyanto Arbi seolah – olah bakal kembali takluk dari Ardy kali ini.
Namun disinilah Hariyanto Arbi seperti mendapat energi baru.Kesalahan sendiri yang banyak dilakukannya karena buru – buru ingin menyelesaikan pertandingan berhasil diminimalisir. Akhirnya dengan permainan taktis yang diterapkannya Hariyanto Arbi berhasil meredam kebangkitan Ardy B.Wiranata dan memenangkan pertandingan set kedua dengan skor 17-14.
Begitu lambungan bola pengembalian Ardy B.Wiranata keluar Hariyanto Arbi langsung melompat sambil berteriak dan mengangkat kedua tangannya diiringi tepuk tangan meriah dari seluruh penonton yang hadir di arena. Bahkan bendera Merah Putih juga turut dilambaikan oleh para penonton termasuk warga Inggris yang hadir menonton di arena.
Bagi Hariyanto Arbi sendiri kemenangan ini sangat berarti. Ini disebabkan oleh keberhasilan dirinya memupus rekor dan trauma buruk kekalahan yang dialaminya ketika berhadapan dengan Ardy B.Wiranata. Dan yang tak kalah pentingnya Hariyanto Arbi berhasil mempertahankan gelar juara tunggal putra All England yang diraihnya pada tahun 1993.

Keberhasilan Hariyanto Arbi menjuarai All England 1993 dan 1994 ini membuat dirinya menjadi tunggal putra Indonesia ketiga yang mampu menjadi Juara tunggal putra All England secara berturut – turut. Sebelumnya Rudy Hartono dan Liem Swie King tercatat sebagai tunggal putra Indonesia yang menjadi Juara tunggal putra All England secara berturut – turut.
Indonesia sukses meraih tiga gelar juara di All England 1994 ini. Dua gelar lagi dipersembahkan oleh Susy Susanti yang menjuarai tunggal putri setelah menaklukkan bintang China Ye Zhaoying dan pasangan ganda putra Gunawan/Bambang Suprianto yang menjuarai ganda putra setelah menaklukkan rekan senegaranya pasangan Ricky A.Soebagdja/Rexy Mainaky.
Dan pada tahun 1994 ini seiring pindahnya All England ke Birmingham Arena maka Hariyanto Arbi, Susy Susanti dan pasangan Gunawan/Bambang Suprianto tercatat sebagai tunggal putra, tunggal putri dan ganda putra pertama yang menjuarai All England di Birmingham.
Sayangnya setelah Hariyanto Arbi menjuarai tunggal putra All England 1994, Indonesia harus menunggu 30 tahun untuk kembali berjaya di tunggal putra All England. Pada tahun 2024 Jonatan Christie akhirnya memutus “puasa gelar juara” Indonesia di nomor tunggal putra All England setelah di Final menaklukkan rekan senegaranya Anthony Ginting Sinisuka dengan straight set 21-15 dan 21-14.
Namun pada All England 2025 tunggal putra All England gagal berprestasi.Jonatan Christie gagal mempertahankan gelarnya setelah takluk dari bintang India Lakshya Sen di babak 16 besar. Tentu kini harapan kembali muncul agar tunggal putra Indonesia kembali berjaya di All England 2026.
Tentu ini tantangan yang harus dijawab oleh Jonatan Christie dan Alwi Farhan sebagai wakil Indonesia di nomor tunggal putra All England 2026 ini.Semoga Jonatan Christie dan Alwi Farhan sukses berjaya di all England 2026 ini. WASPADA.id
Penulis adalah pemerhati olahraga












