Kesalahan Pimpinan Penyebab Kegagalan

  • Bagikan
Kesalahan Pimpinan Penyebab Kegagalan

Oleh Zulkarnain Lubis

Pemimpin yang akan gagal adalah yang tidak demokratis, jauh dari objektivitas, mengedepankan kemauan dan kehendak sendiri, tidak cerdas baik kecerdasan intelaktual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual

Banyak pemimpin yang merupakan pemimpin nasional, pemimpin daerah, pemimpin perusahaan, instansi, institusi, lembaga, atau organisasi baik disadari maupun tanpa disadari menyimpan kesalahan dalam sikap dan sifat dalam menjalankan kepemimpinannya menjadi penyebab kegagalan dalam memimpin lembaga institusi atau organisasi yang dipimpinnya. Sikap dan sifat tersebut tercermin dari kebijakannya, keputusannya, cara pengambilan keputusannya, serta tindakannya, baik dalam membuat perencanakan, mengeksekusi, melakukan evaluasi, dan melakukan tindaklanjut atas hasil evaluasi yang dilakukan, serta dalam mencari solusi terhadap masalah yang dihadapi.

Sikap dan sifat tersebut di atas akan berdampak kepada kondisi yang kurang sehat pada instansi atau organisasi yang dipimpin seperti munculnya apatisme, hilangnya semangat bekerja, terpasung dan tidak berkembangnya pendapat, menurunnya produktivitas dan kinerja lembaga yang dipimpin yang akan berujung pada kegagalan. Dampak lainnya adalah adanya ketidakpastian, munculnya keresahan dan ketidaknyamanan, menurunnya gairah dalam bekerja sehingga akan menurunkan kinerja secara keseluruhan dan berakibat pada kegagalan. Dampak lainnya adalah munculnya persaingan antar bawahan yang tidak sehat, sistem karir dan jabatan menjadi tidak jelas, karyawan dan bawahan akan berebut mengambil hati pimpinan, orientasi bekerja juga akan menjadi bergeser, memunculkan kekecewaan dan ketidakpuasan bawahan dan masyarakat, gairah kerja untuk berprestasi akan menjadi pudar.

Akhirnya akan merusak dan membuat merosotnya kinerja perusahaan ataupun lembaga yang dipimpinnya, kinerja tidak berkesinambungan yang akan berujung dengan kegagalan. Sifat dan sikap serta kebiasaan pimpinan yang menjadi penyebab kegagalan tersebut adalah (i) Merasa paling benar dan paling pintar, (ii) Tidak konsisten dan tidak konsekwen, (iii) Mengambil Keputusan Secara Parsial untuk Persoalan General, (iv) Bersikap subjektif dan diskriminatif, (v) Kurang punya empati, (vi) Dzolim dan tega melihat bawahannya menderita.

Merasa Paling Benar dan paling pintar. Sikap merasa paling benar dan paling pintar membuat pemimpin tidak mau menerima saran, masukan, dan pendapat bawahannya. Dia merasa serba benar dan orang lain tidak benar, apa yang diyakininya saja yang dianggapnya benar, padahal orang lain juga memiliki kebenaran. Karena rasa percaya dirinya yang berlebihan, dia hanya menganggap yang diketahuinya saja yang benar dan yang tidak diketahuinya dianggapnya salah sehingga pengetahuan yang dimiliki orang lain yang tidak diketahuinya dianggapnya salah. Pemimpin seperti ini selalu memonopoli kebenaran, sehingga akan sulit menerima kebenaran yang dimiliki orang lain dan akan menolak gagasan, ide, ataupun pandangan orang lain, apalagi dari bawahannya.

Baginya bawahannya hanya boleh mendengarkan dan mematuhi semua apa yang disampaikannya. Lebih parah lagi bagi pemimpin seperti ini, seringkali malahan sesuatu yang benar secara umumpun bisa saja dinyatakannya sebagai sesuatu yabg salah, sebaliknya sesuatu yang nyatakan salah secara umum, bisa saja dianggapnya sebagai sesuatu yang benar. Dengan demikian pemimpin seperti ini tidak demokratis dan akan menciptakan suasana yang tidak demokratis pada organisasi dan lembaga yang dipimpinnya. Dalam kondisi seperti ini akan menimbulkan apatisme, kehilangan semangat bekerja, dan memasung berkembangnya pendapat yang pada akhirnya menurunkan produktivitas dan kinerja lembaga dan akan berujung pada kegagalan.

Tidak konsisten dan tidak konsekwen. Tidak konsisten bisa juga diartikan sebagai “plin-plan”. Beda waktu, beda tempat, beda kesempatan, dan beda lawan bicaranya, beda pula ucapannya, beda pula keputusannya, beda pula sikapnya. Tidak konsekwen bisa diartikan sebagai lain yang diucapkan, lain yang dilakukan, lain kebijakan yang dibuatnya, lain pula yang dilakukannya, dia yang membuat aturan, dia pula yang melanggarnya. Dia juga suka berubah-ubah sikapnya tergantung ditujukan kepada siapa yang dikehendakinya dan oleh siapa yang menghendakinya.

Tentunya pemimpin demikian tidak bisa menjadi teladan dan tidak mungkin menjadi inspirasi bagi staf dan bawahannya, padahal dalam kepemimpinan, keteladanan sangat diperlukan. Sikap pemimpin seperti ini sangat berbahaya karena akan mengakibatkan ketidakpastian, bawahan menjadi susah bekerja karena berubah-ubahnya kebijakan. Selain itu, pemimpin sifat dana sikap seperti ini akan menimbulkan keresahan dan ketidaknyamanan dalam bekerja sehingga akan menurunkan gairah dalam bekerja yang akan berdampak pada menurunnya kinerja secara keseluruhan dan berakibat pada kegagalan.

Mengambil keputusan secara parsial untuk persoalan general. Pemimpin demikian sering kali hanya melihat secara mikro padahal urusannya adalah urusan makro. Pemimpin seperti ini kemana-mana hanya membawa “mikroskop”, sehingga persoalan kecil dianggapnya besar dan dibesar-besarkan, padahal semestinya yang dibawa-bawa adalah “teleskop”, sehingga pemimpin adalah yang bisa memandang ke depan lebih jauh lagi dan menjadikannya sebagai pemimpin yang visioner.

Sebaliknya, pemimpin yang kemana-mana membawa “mikroskop” dan hanya mampu melihat secara mikro, hanya berpikir dan bertindak parsial, sering kesimpulannya tidak menyeluruh, sehingga akibatnya kesimpulan yang diambil yang ditujukan untuk mengatasi satu masalah malah memunculkan masalah lain yang mungkin saja lebih besar dan lebih kompleks daripada masalah sebelumnya. Hal ini terjadi karena pemimpin seperti ini, pemikirannya sempit, mengambil kesimpulan secara gegabah, tidak berbasis data, dan hanya diputuskan sendiri. Pemimpin seperti ini biasanya juga berwawasan sempit dan kurang bekal sebagai pemimpin tapi merasa paling tahu dan lebih tahu. Tentulah pemimpin begini akan gagal karena akan sering salah dalam pengambilan keputusan.

Bersikap subjektif dan diskriminatif. Banyak pemimpin yang mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan subjektif seperti atas dasar suka atau tidak suka, didasarkan atas kepentingan sekelompok tertentu dengan mengorbankan kelompok tertentu lainnya, berbuat tidak adil dan pilih kasih terhadap bawahan dan staf, menggunakan pertimbangan atas dasar kesamaan atau perbedaan agama, etnik, kedaerahan, kedekatan kekerabatan, kepintaran mengambil hati, dan lain sebagainya.

Jika pemimpin seperti demikian yang terjadi, maka persaingan antar bawahan dan staf akan tidak sehat, sistem karir dan jabatan menjadi tidak jelas, karyawan dan bawahan akan berebut mengambil hati pimpinan, orientasi bekerja juga akan menjadi bergeser, gairah kerja untuk berprestasi akan menjadi pudar, akhirnya kinerja perusahaan atau lembaga yang dipimpin akan merosot yang akan berujung pada kegagalan.

Kurang punya empati. Banyak pemimpin yang hanya menuntut prestasi dan kinerja bawahan dan orang-orang yang dipimpinnya tapi tidak perduli dan tidak mau tahu tentang kondisi yang sedang dihadapi bawahannya, serta tidak pernah mencari tahu bagaimana sesungguhnya kondisi mereka, seperti kondisi ekonominya, kondisi psikologisnya, kondisi pikirannya, kondisi emosinya, serta berbagai masalah yang mungkin sedang membelitnya. Tanpa empati dari pimpinan, jangan harap akan muncul loyalitas dan kepatuhan yang sesungguhnya.

Andaikan mereka patuh atas aturan yang dibuat, kepatuhan yang ada hanya karena takut, takut akan sanksi dan hukuman yang mungkin diberikan, bukan karena kesadaran dan bukan karena keikhlasan dalam menjalankan tugas, bukan pula karena loyalitas dan kesetiaan, serta disiplin yang sesungguhnya. Jadi dengan kepemimpinan seperti ini, akan susah mendapatkan kinerja secara berkesinambungan dari instansi atau lembaga yang dipimpin dan dalam jangka panjang akan berakhir dengan kegagalan.

Dzalim dan tega melihat bawahannya menderita. Pemimpin yang dzalim akan berakibat buruk kepada bawahan dan suasana lingkungan pekerjaan. Biasanya orang yang dzolim juga akan bertindak tidak adil, mengutamakan kepentingannya, membuat kebijakan yang merugikan dan menyengsarakan bawahannya, dan tega melihat bawahannya menderita. Pemimpin demikian akan mengakibatkan ketidakpuasan bawahannya dan masyarakat luas serta sering menimbulkan kekecewaan baik jangka pendek maupun jangka panjang dan akan merusak kinerja perusahaan ataupun lembaga yang dipimpinnya. Pemimpin seperti ini pada akhirnya akan berujung dengan kegagalan, karena tidak akan mendapatkan dukungan yang mumpuni dari bawahan dan orang-orang yang dipimpinnya.

Dari apa yang disampaikan di atas, pada intinya pemimpin yang akan gagal tersebut adalah pemimpin yang tidak demokratis, jauh dari objektivitas, mengedepankan kemauan dan kehendak sendiri, serta tidak cerdas baik kecerdasan intelaktual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual. Jika ingin berhasil, mestinya para pemimpin yang ada di negeri ini, baik di pemerintahan, di lembaga dan organisasi sosial, institusi ekonomi dan bisnis, maupun organisasi profesi. Hal-hal di atas perlu dihindari, agar apapun instansi atau institusi yang dipimpin bisa selamat untuk jangka panjang serta prestasi dan kinerjanya dapat berkelanjutan, dan terhindar dari kegagalan. Jadilah pemimpin yang melihat, mendengar, dan memahami suara hati stafnya, bawahannya, dan rakyatnya.

Penulis adalah Ketua Program Doktor Ilmu Pertanian UMA dan Rektor IB IT&B.

  • Bagikan