AcehOpini

Ketika Matahari Terus Beredar, Manusia Sibuk Berpura-pura

Ketika Matahari Terus Beredar, Manusia Sibuk Berpura-pura
Ilustrasi, Rabu (28/1).Waspada.id/Syafrizal 
Kecil Besar
14px

“..banyak orang waras berpura-pura gila, karena kegilaan seringkali lebih aman daripada kejujuran” [Syafrizal]

Matahari tidak pernah bernegosiasi dengan waktu. Ia terbit, bergerak, lalu tenggelam setia pada peredarannya sendiri. 

Dari sanalah kita diingatkan: tak ada satu pun di dunia ini yang benar-benar bertahan. Kekuasaan, kemiskinan, cinta, bahkan kegilaan, semuanya sementara.

Apa yang kita sebut “hari ini” sejatinya sedang bersiap menjadi masa lalu. Namun manusia sering lupa. Kita terlalu sibuk memoles hari ini agar tampak abadi, seolah sejarah bisa ditipu oleh pencitraan.

Di negeri ini, drama paling laris bukan sinetron, tapi drama kehidupan. Drama cinta, drama kepedulian, drama kesederhanaan. Banyak yang mengaku tulus, tapi takut transparan. Banyak yang mengaku peduli rakyat, tapi alergi pada data.

Kita diajari percaya pada kisah klasik, orang kaya yang menyamar jadi orang miskin demi memahami penderitaan.

Masalahnya, di dunia nyata, tidak ada orang kaya yang benar-benar menyamar jadi miskin, kecuali ketika ada bantuan langsung tunai. Di situlah kesederhanaan menjadi kostum dan kemiskinan berubah menjadi tiket antrian. Ironisnya, yang miskin sungguhan justru jarang pandai menyamar.

Hari ini kita hidup di era yang lebih ganjil: banyak orang waras berpura-pura gila, karena kegilaan seringkali lebih aman daripada kejujuran. Berpura-pura tidak tahu saat tahu.

Berpura-pura tidak mampu saat mampu.

Berpura-pura peduli agar tetap disukai. Kewarasan menjadi risiko. Kegilaan menjadi strategi. Di media sosial, kegaduhan dianggap keberanian. Di panggung politik, kebohongan dianggap keluwesan. Di ruang publik, suara paling keras sering disalahartikan sebagai kebenaran.

Padahal matahari tetap beredar, diam-diam mencatat semuanya. Ia menyaksikan janji yang tak ditepati, empati yang diperdagangkan, dan kepedulian yang hanya aktif saat kamera menyala. Karena itu, nasihat paling penting hari ini bukanlah cara menjadi pintar, kaya, atau terkenal.

Nasihatnya sederhana, tapi mahal: jangan ikut menjadi gila.

Waras mungkin tidak populer. Waras sering sendirian. Tapi hanya orang waras yang mampu membedakan mana drama, mana kenyataan; mana sandiwara, mana kebenaran. Selebihnya, biarlah waktu yang bekerja. Matahari akan terus beredar. Dan, sejarah seperti biasa tidak pernah salah alamat. Syafrizal/WASPADA.id

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE