Opini

Makna Kritis Isra’ Mi‘raj

Makna Kritis Isra’ Mi‘raj
Kecil Besar
14px

Oleh Muhammad Thariq

Isra’ Mi‘raj sering dipahami peristiwa luar biasa sekaligus menguatkan keagungan Nabi Muhammad SAW dan kekuasaan Allah SWT. Berdasarkan kalender Hijriah, peringatan Isra’ Mi’raj pada tahun 2026 jatuh pada 27 Rajab 1447 H bertepatan dengan Jumat 16 Januari 2026 M.

Ia dikenang sebagai perjalanan spiritual yang melampaui batas ruang dan waktu. Namun, jika peristiwa ini hanya berhenti pada kekaguman terhadap keajaiban, maka sebagian besar maknanya justru terlewatkan.

Isra’ Mi‘raj bukan sekadar kisah tentang “naik ke langit”, melainkan tentang pembentukan kesadaran yang lahir dari krisis, diuji oleh realitas dan diarahkan untuk membangun kemanusiaan.

Isra’ Mi‘raj, secara historis, terjadi ketika Nabi Muhammad SAW berada dalam fase paling berat dalam hidupnya. Wafatnya Khadijah RA (istri) dan Abu Thalib (paman sekaligus pelindung politik) kemudian terjadi penolakan sosial yang keras, menempatkan Nabi dalam kondisi keterasingan yang nyata.

Peristiwa spiritual ini, jika kita tarik secara logis, maka tidak hadir dalam situasi kemenangan atau kenyamanan, melainkan dalam keadaan rapuh dan tertekan. Muncul premis penting bahwa pengalaman keimanan mendalam sering kali lahir dari krisis bukan dari kemapanan.

Isra’ Mi‘raj menjadi peneguhan tentang penderitaan bukan tanda kegagalan iman, melainkan ruang pembentukannya.

Pengalaman transendental inilah Nabi Muhammad SAW menerima perintah shalat. Secara logika, jika shalat merupakan hasil langsung dari perjumpaan manusia dengan Tuhan, maka shalat tak mungkin hanya bermakna ritual formal. Shalat seharusnya membentuk cara pandang, sikap dan tindakan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Ia melatih kesadaran, mendisiplinkan ego, dan mengingatkan tentang hidup tidak sepenuhnya berada di bawah kendali manusia.

Setiap takbir adalah penegasan tidak ada yang lebih besar dari Tuhan, dan dengan sendirinya, tidak ada kekuasaan duniawi yang layak diabsolutkan.

Di sinilah Isra’ Mi‘raj mengandung kritik yang halus, namun tegas terhadap kecenderungan manusia memuja kekuasaan, harta, dan prestise. Logikanya sederhana, begini: jika hanya Tuhan yang Mahabesar, maka segala bentuk kekuasaan manusia bersifat relatif dan dapat dikritik. Ketika agama justru digunakan untuk membenarkan ketidakadilan atau membungkam nurani, maka agama tersebut telah kehilangan ruh profetiknya.

Isra’ Mi‘raj justru menempatkan iman sebagai sumber keberanian moral, bukan sebagai alat legitimasi kepentingan.

Hal yang paling menentukan dari Isra’ Mi‘raj adalah kenyataan Nabi Muhammad SAW kembali ke bumi. Perjalanan ke langit tidak berakhir dengan pengasingan diri, melainkan dengan tanggung jawab yang lebih besar terhadap realitas sosial. Untuk itu dapat ditarik kesimpulan etis yang jelas, yaitu spiritualitas sejati tidak menjauhkan manusia dari dunia, tetapi memperkuat komitmennya untuk memperbaiki dunia. Semakin tinggi kesadaran spiritual seseorang, maka semakin besar tuntutan etis yang melekat padanya.

Pesan ini menjadi sangat relevan dalam konteka dunia modern. Manusia hari ini hidup dalam kemajuan teknologi luar biasa, tetapi menghadapi krisis makna dan kemanusiaan. Kita cepat dalam produksi, tetapi lambat dalam refleksi. Kita maju dalam sains, tetapi tertinggal dalam empati. Isra’ Mi‘raj hadir sebagai koreksi arah, mengingatkan tentang kemajuan sejati tidak hanya diukur dari capaian material, melainkan dari kualitas kesadaran dan tanggung jawab sosial.

Dengan demikian makna kritis Isra’ Mi‘raj terletak pada kesatuannya yang utuh, yaitu antara iman dan akal, ibadah dan keadilan, langit dan bumi. Ia mengajarkan tentang iman yang tidak melahirkan kepedulian akan kehilangan maknanya dan spiritualitas yang tidak membela kemanusiaan akan kehilangan arahnya. Isra’ Mi‘raj bukan sekadar peristiwa yang diperingati, tetapi kesadaran yang harus terus dihidupkan yaitu kesadaran untuk naik dalam kualitas iman, kemudian turun dalam keberanian membela manusia. Di sanalah Isra’ Mi‘raj menemukan maknanya yang paling utuh dan paling manusiawi.

Penulis adalah Pengajar di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE