Opini

Menata Arah Hotel di Aceh: Dari Sekadar Hunian Menuju Industri Bernilai Strategis

Menata Arah Hotel di Aceh: Dari Sekadar Hunian Menuju Industri Bernilai Strategis
Kecil Besar
14px

Oleh: Iwan Wahyudi

Industri perhotelan di Aceh saat ini berada pada titik penting. Di satu sisi, pertumbuhan hotel terus meningkat, namun di sisi lain tantangan operasional, persaingan harga, dan ketergantungan pada pasar pemerintah masih menjadi persoalan utama. Kondisi ini menuntut adanya arah pembangunan industri hotel yang lebih jelas, terukur, dan berorientasi jangka panjang.

Selama ini, hotel kerap diposisikan hanya sebagai penyedia kamar. Padahal, dalam konteks ekonomi daerah, hotel memiliki peran strategis sebagai penggerak aktivitas bisnis, pusat pertemuan, hingga wajah pelayanan sebuah daerah. Tanpa arah yang tepat, industri ini berpotensi berjalan stagnan meski jumlah hotel terus bertambah.

Aceh memiliki keunikan yang tidak dimiliki daerah lain, yakni kekuatan nilai syariat Islam dan budaya lokal. Nilai ini seharusnya tidak dipahami sebagai batasan, melainkan sebagai diferensiasi.

Hotel di Aceh perlu diarahkan menjadi hotel yang berkarakter—menjaga etika, kenyamanan keluarga, serta pelayanan yang bermartabat—sekaligus tetap kompetitif secara bisnis.

Persoalan utama industri hotel saat ini bukan semata rendahnya okupansi, melainkan lemahnya standar pelayanan dan kualitas sumber daya manusia.

Persaingan harga tanpa diimbangi peningkatan kualitas hanya akan menurunkan nilai industri secara keseluruhan. Oleh karena itu, investasi terbesar ke depan seharusnya diarahkan pada pembangunan SDM, budaya kerja, dan kepemimpinan hotel.

Di era digital, transformasi juga menjadi keniscayaan. Hotel tidak bisa lagi bergantung pada pola penjualan konvensional.

Penguatan pemasaran digital, optimalisasi OTA, serta pengelolaan reputasi online harus menjadi strategi utama agar hotel di Aceh mampu bersaing di pasar nasional.

Lebih jauh, hotel seharusnya diposisikan sebagai simpul ekonomi daerah. Kegiatan meeting, event, pariwisata religi, hingga kolaborasi dengan UMKM lokal dapat menciptakan efek berganda bagi perekonomian.

Dengan pendekatan ini, hotel tidak hanya mengejar okupansi, tetapi turut berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Aceh secara berkelanjutan.

Ke depan, dibutuhkan sinergi yang kuat antara pelaku industri, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya untuk menyusun peta jalan (roadmap) industri perhotelan Aceh. Tanpa arah kebijakan yang jelas, industri hotel akan terus bergerak sendiri-sendiri dan sulit naik kelas.

Menata arah hotel di Aceh bukan sekadar persoalan bisnis, melainkan bagian dari strategi pembangunan daerah. Ketika hotel dikelola secara profesional, berkarakter, dan berdaya saing, maka Aceh tidak hanya dikenal sebagai daerah religius, tetapi juga sebagai wilayah dengan industri hospitality yang matang dan bermartabat.

Penulis adalah Director Calandra And Sativa Management

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE