Oleh Drs. Isa Alima
Di tengah perubahan lanskap media yang kian cepat, penobatan Muhammad Riza, wartawan Harian Waspada, sebagai Wartawan Waspada Berdedikasi 2025 patut dimaknai lebih dari sekadar agenda internal redaksi.
Penghargaan ini merupakan refleksi penting tentang nilai, etika, dan arah jurnalisme khususnya di Aceh yang kini diuji oleh derasnya arus informasi, kepentingan politik, serta godaan popularitas instan.
Muhammad Riza, yang akrab disapa Boim, adalah potret jurnalis yang memilih jalan sunyi. Ia bekerja tanpa hiruk-pikuk, tanpa sensasi berlebihan, dan tanpa menjadikan profesinya sebagai alat pencitraan.
Dalam dunia yang kerap mengukur keberhasilan wartawan dari seberapa viral sebuah berita, Boim justru menunjukkan bahwa integritas, ketekunan, dan konsistensi masih memiliki tempat terhormat.
Saya mengenal Boim sebagai wartawan yang tekun turun ke lapangan, sabar mendengar, dan cermat memverifikasi setiap data. Ia memahami bahwa berita bukan sekadar teks yang cepat tayang, melainkan tanggung jawab moral kepada publik.
Dalam setiap liputannya, terlihat kehati-hatian memilih kata, keberanian menyajikan fakta, serta komitmen menjaga keberimbangan. Inilah kualitas yang semakin langka, tetapi justru semakin dibutuhkan.
Jurnalisme sejatinya bukan hanya soal menyampaikan peristiwa, melainkan tentang memberi makna pada peristiwa itu. Di sinilah peran wartawan berdedikasi menjadi krusial. Boim tidak sekadar melaporkan apa yang terjadi, tetapi berupaya menghadirkan konteks mengapa peristiwa itu penting, siapa yang terdampak, dan apa implikasinya bagi kepentingan publik.

Pendekatan ini menjadikan tulisannya relevan, mencerahkan, dan berdaya guna. Di Aceh, pers memiliki sejarah panjang sebagai bagian dari denyut sosial dan politik masyarakat. Pers bukan hanya saksi, melainkan juga penjaga ingatan kolektif.
Karena itu, wartawan Aceh memikul tanggung jawab ganda, menjaga profesionalisme jurnalistik sekaligus kepekaan sosial. Muhammad Riza menunjukkan bahwa kedua peran itu dapat dijalankan secara seimbang tanpa harus mengorbankan etika.
Pada era ketika opini kerap disamarkan sebagai berita dan kepentingan dibungkus dalam narasi informatif, keberanian menjaga batas profesional menjadi ujian utama. Boim tidak larut dalam arus tersebut.
Ia memilih berdiri pada posisi yang mungkin tidak selalu populer, tetapi konsisten dengan prinsip jurnalistik kebenaran, akurasi, dan keberimbangan. Sikap ini bukan hanya soal idealisme, tetapi juga soal keberanian moral. Tulisan-tulisan Boim jarang bombastis, namun selalu bermakna.
Ia tidak mengejar judul sensasional, tetapi memastikan isi berita dapat dipertanggungjawabkan. Ia memahami bahwa kepercayaan pembaca dibangun perlahan, melalui kerja yang konsisten dan jujur. Dalam konteks ini, dedikasi bukan sekadar soal jam kerja panjang, melainkan kesetiaan pada nilai.
Penghargaan Wartawan Berdedikasi 2025 yang disematkan kepadanya pada HUT ke 79 Harian Umum Waspada, menjadi penanda bahwa kerja sunyi tetap memiliki gema. Bahwa media yang sehat masih memberi ruang bagi jurnalis yang bekerja dengan hati dan pikiran jernih.
Penyerahan penghargaan oleh Pemimpin Redaksi Harian Waspada juga menegaskan komitmen institusi pers tersebut dalam menjaga kualitas dan martabat jurnalistik. Bagi generasi muda wartawan Aceh, sosok Muhammad Riza dapat menjadi rujukan penting.
Ia menunjukkan bahwa menjadi wartawan bukan sekadar profesi, melainkan panggilan etis. Bahwa independensi bukan jargon, melainkan pilihan yang harus diperjuangkan setiap hari sering kali dengan konsekuensi tidak populer. Penghargaan ini tentu bukan titik akhir.
Justru ia adalah amanah yang lebih besar. Tantangan ke depan semakin kompleks disrupsi digital, tekanan ekonomi media, hingga polarisasi sosial-politik. Dalam situasi seperti ini, wartawan berdedikasi dituntut untuk semakin tajam dalam analisis, semakin hati-hati dalam menyimpulkan, dan semakin kuat dalam menjaga integritas.
Muhammad Riza telah membuktikan bahwa pers yang kuat tidak lahir dari kegaduhan, melainkan dari ketekunan. Bahwa cahaya kebenaran tidak selalu datang dari sorotan terang, tetapi sering muncul dari kerja yang konsisten dan senyap. Inilah makna dedikasi yang sesungguhnya.
Di tengah dinamika Aceh dan Indonesia yang terus bergerak, nama Muhammad Riza (Boim) berdiri sebagai pengingat bahwa jurnalisme yang bermartabat masih hidup dan layak diperjuangkan. Semoga ke depan ia tetap setia pada nurani, semakin tajam dalam membaca realitas, dan terus berpihak pada kepentingan publik.
Selamat atas penghargaan Wartawan Waspada Berdedikasi 2025. Teruslah menulis dengan hati, Boim. Aceh membutuhkan pers yang jujur, berani, dan bertanggung jawab.
Penulis adalah Pemerhati Sosial dan Kebijakan Publik Aceh











