Penataan Kembali Manajemen Dakwah

Oleh M Ridwan Lubis

  • Bagikan
<strong>Penataan Kembali Manajemen Dakwah</strong>

Sudah waktunya dipertimbangkan model kegiatan penyelenggaraan dakwah yang bervariasi yang intinya adalah mendorong terjadinya perubahan perilaku dan wawasan pemahaman umat dari yang tidak baik (al fasad) menjadi baik dan dari yang baik (al sholah) menjadi yang lebih baik (al ashlah)

Dakwah merupakan proses komunikasi antara komunikasi hubungan timbal balik dengan tujuan internalisasi ajaran agama. Proses efektivitas dakwah tergantung dari figur seorang da’i, metode, sistimatika serta materi dakwah. Atas dasar itu, dakwah bukanlah pekerjaan sederhana yang dikerjakan secara sambil lalu. Tetapi keberhasilan kegiatan dakwah dari sudut da’inya ditentukan empat faktor di atas sementara itu terdapat faktor lain yaitu lingkungan dakwah baik obyek manusianya maupun lingkungan yang mengitarinya. Hal itulah yang menjadi potensi yang mendorong terwujudnya keberhasilan dakwah. Inti dari keberhasilan itu adalah dakwahj berhasil membangun semangat perubahan.

Secara teoritis, berlangsungnya proses perubahan ditentukan oleh (1) gerakan perubahan akan mengurangi beban masyarakat (2) tidak bertentangan dengan nilai-nila dasar dan idealisme yang sudah diterima dan dihayati sejak lama (3) perubahan tersebut menawarkan jenis-jenis pengalaman baru yang menarik (4) tidak terkesan mengurangi otonomi masyarakat.

Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah seorang da’i hendaknya sudaj selesai memenuhi hajat kehidupannya sehingga kegiatan dakwah tidak menciptakan opini sebagai lahan penghidupan. Karena dakwah sebagai sumbner penghidupan, hakikatnya adalah urusannya pemberi tugas dakwah yaitu Allah SWT. Kegiatan dakwah yang pelaksanaannya berangkat dari sekedar memenuhi formalitas hukum, tidak mengherankan apabila pelaksanaan dakwah sedikit sekali membawa perubahan terhadap peningkatan wawasan perubahan. Pelaksanaan kegiatan dakwah hampir bisa dinyatakan kurang mempertimbangkan aspek pengorganisasia, perencanaan dan evaluasi. Pada sisi lain, persoalan dakwah lebih banyak merupakan kegiatan personal yang sudah baku antara penyampai dakwah dengan jamaah peserta kegiatan dakwah. Atas dasar itu, tidak terhindarkan dakwah merupakan kegiatan perorangan yang berhasil membangunan jalinan personal antara dirinya dengan masyarakatnya. Hal itulah yang menjadi salah satu penyebab terjadinya kelambanan kegiatan dakwah. Betul memang sebagian besar organisasi keagamaan memiliki bidang khusus yang mengurus kegiatan kegiatan tablig atau dakwah akan tetapi kegiatan manajemen dakwah masih kurang terlambagakan secara sistimatis.

Karena kedudukan dakwah adalah proses ikatan hubungan [personal da’i dengan jamaahnya, maka hal itu menjadi penghambat bagi seorang da’i untuk melakukan kritik secara konsepsional terhadap jamaahnya karena dikhawatirkan akan terputus jalinan komunikasi antara da’i dengan pengelola kegiatan dakwah. Sehingga kecil sekali dapat diharapkan adanya dampak perubahan menuju kepada arah yang lebih konstruktif terhadap target yang ingin dicapai oleh kegiatan dakwah.

Pada dasarnya diperlukan perubahan persepsi terhadap dakwah yang selama ini dipahami terbatas hanya pada kegiatan lisan dalam bentuk ceramah yang umumnya berlangsung dengan model satu arah yaitu antara da’i dengan jamaahnya. Sudah waktunya dipertimbangkan model kegiatan penyelenggaraan dakwah yang bervariasi yang intinya adalah mendorong terjadinya perubahan perilaku dan wawasan pemahaman umat dari yang tidak baik (al fasad) menjadi baik dan dari yang baik (al sholah) menjadi yang lebih baik (al ashlah).

Sudah saatnya dakwah ditata kembali sehingga merupakan kegiatan yang terlembaga dan proses pelembagaan perubahan dakwah perlu dipertimbangkan sebagai berikut (1) masyarakat perlu diikutsertakan dalam pemecahan masalah (2) kegiatan dilakukan atas kesepakatan bersama (3) memahami adanya perbedaan dan persepsi dalam masyarakat (4) terjadi mekanisme saling mengisi dalam masyarakat guna melakukan adopsi perubahan (5) memberi peluang adanya revisi dan modifikasi dalam proses perubahan yang sedang berjalan (Soetomo, Pembangunan Masyarakat: 260-261).

Satu fenomena yang perlu mendapat perhatian, kenapa kolonial yang menjajah Indonesia selama ratusan tahun akan tetapi tidak mampu menghapus nilai keberagamaan masyarakat. Inti utamanya adalah karena dakwah berhasil mengajak masyarakat melakukan perubahan terhadap dirinya.

Pada setiap perubahan termasuk membangun keyakinan yang baru, masyarakat harus terlibat aktif didalamnya. Demikianlah proses mengantarkan masyarakat kepada pengenalan keyakinan yang baru, masyarakat terlibat ikut membangun internalisasi keyakinan yang bertemu dengan tradisi budaya yang sudah mengakar. Karena itulah, masyarakat ikut terlibat didalam terhadap pengenalan terhadap kepercayaan yang baru, sehingga masyarakat sendiri membangun keyakinan terhadap agama baru pada dirinya sebagai peralihan dari kepercayaan yang lama. Proses tersebut berlangsung melalui serangkaian kebijakan adaptasi, akomodasi dan terakhir seleksi antara budaya lama dengan keyakinan baru yaitu Islam.

Persoalan kita sekarang pelaksanaan dakwah masih menggunakan pendekatan yang lama sementara masyarakat telah berada pada setting budaya yang baru. Faktor ketertarikan masyarakat kepada dakwah bukan lagi pada muatan pesan pedoman hidup tetapi merasa jenuh dengan kesulitan hidup, sehingga dakwah diharapkan menonjolkan aspek hiburan. Pertimbangan dakwah dari aspek hiburan tidak otomatis keliru apabila hanya sekadar variasi penarik minat terhadap tema besar yaitu peneguhan akidah dan moral sebagai hamba Allah.

Pada awal penyiaran Islam di nusantara, dakwah berjalan dengan sangat efektif padahal kegiatan dakwah hanya kegiatan sekunder selain kegiatan dagang. Tetapi, sekalipun demikian, dakwah menyebar ke seantero nusantara untuk membangun makna kehidupan. Tetapi masyarakat bukan hanya menerima Islam dengan suka rela akan tetapi juga mereka memandang Islam sebagai ajaran yang murni (genuine) sebagai kelanjutan kepercayaan mereka sebelumnya. Dakwah menyatukan kegiatan lewat percakapan, pergaulan, perkawinan, perdagangan dan sebagainya.

Penulis adalah Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

  • Bagikan