Oleh: Dr. Suheri Harahap, M.Si
Dinamika Golkar di Sumatera Utara sangat dinamis dan menarik bagi berbagai kalangan untuk terus diperbincangkan. Apalagi pasca pencopotan Ijeck sebagai Ketua DPD Partai Golkar Sumut, seolah ada sesuatu di balik pencopotan ini: apakah akan melemahkan Golkar, atau sebaliknya akan melahirkan konsolidasi baru?
Plt. Ketua DPD Partai Golkar Sumut, Ahmad Doli Kurnia Tandjung, memiliki keinginan merajut dan merangkul yang terbuang, membangun harmonisasi serta soliditas yang kuat antar kader Golkar, serta memberi ruang demokrasi di tubuh Golkar menjelang Musyawarah Daerah (Musda) ke-XI Golkar Sumut.
Akankah Doli sebagai Plt. dan pengurus DPP Partai Golkar mengubah jalan baru Golkar dengan mencari figur calon ketua yang mampu merekat semua pihak dan berkolaborasi untuk mencapai target Golkar di Pemilu 2029? Akankah model kolaborasi politik jalan tengah itu selalu berdampingan dengan pemerintah di Provinsi Sumut? Tradisi perhelatan Musda selalu berakhir dengan kompromi politik, sehingga Musda digelar dengan calon tunggal alias aklamasi. Bagaimana dinamika calon ketua yang beredar? Dua calon yang muncul adalah Hendri Yanto Sitorus dan Andar Amin Harahap.
Jika melihat dua kutub kekuatan yang kini saling mencari dukungan, misalnya Andar Amin Harahap dan Hendri Yanto Sitorus, akankah kekuatan poros ini melanggeng sampai ke Musda? Ini adalah sebuah strategi melahirkan pemimpin Golkar Sumut yang direstui DPP. Seperti apa pemimpin Golkar yang akan muncul? Ini masih menjadi teka-teki menjelang Musda.
Bagaimana dengan strategi calon Hendri Yanto Sitorus dan Andar Amin Harahap? Strategi yang condong pada politik jalan tengah Golkar dan “restu DPP serta pemerintah” jauh lebih elegan bagi pemimpin baru Golkar ke depan. Jika merujuk pada dinamika dukungan elit pengurus, maka arahnya lebih pada Andar Amin Harahap, namun jika merujuk pada politik jalan tengah, maka lebih pada Hendri Yanto Sitorus.
Kedua calon ketua Golkar yang mumpuni berasal dari Labura dan Paluta (Tabagsel), di bawah regenerasi baru sang tokoh H. Buyung Sitorus dan H. Bachrum Harahap. Kekuatan Golkar wilayah Timur dan Barat Sumatera Utara menunjukkan karakteristik yang dalam tulisan Sirajuddin Gayo berjudul “Dua Poros, Dua Karakter” disebutkan bahwa pertarungan ini lebih dari sekadar perebutan jabatan; ini adalah benturan dua karakter politik yang berbeda namun sama-sama mematikan. Sebenarnya kedua kandidat ini sangat dibutuhkan oleh Golkar Sumut. Artinya, pemilik suara didorong agar objektif dalam menentukan nakhoda baru pemimpin Golkar Sumut pasca-Ijeck yang diterima semua pihak dan mampu membangun harmonisasi serta soliditas yang kuat.
Penulis adalah mantan Sekretaris DPD KNPI Sumut










