Politik Yang Menguap: Paradoks – Sinisme

  • Bagikan
Politik Yang Menguap: Paradoks - Sinisme

Dr Suheri Sahputra Rangkuti, M.Pd.

Dulu, ideologi politik seringkali menjadi pilar utama yang membimbing partai politik dan para pemimpinnya dalam mengambil keputusan serta membentuk kebijakan. Namun, saat ini, tampaknya semakin sulit untuk menemukan konsistensi ideologis yang kokoh di kalangan para politisi

Hingar bingar nuansa dan dinamika politik di Indonesia sering kali mengundang pertanyaan fundamental. Katakanlah misalnya Putusan Mahkamah Konstitusi yang dianggap menguntungkan segelintir pihak, serta aksi loncat sana-loncat sini dari beberapa aktor politik, menciptakan citra ketidakpastian dan ketidakjelasan. Masyarakat sering kali merespon kondisi ini dengan rasa resignasi, menerima bahwa politik memang memiliki sifat dinamis dan terkadang sulit dipahami. Namun, pertanyaan mendasar tetap mengemuka mengapa politik kita tidak mampu menampilkan warna yang jelas sesuai dengan prinsip negara demokrasi?

Pembenaran bahwa politik kadang kala zik-zak dan di lain waktu harus tegak lurus tidak seharusnya menjadi alasan untuk ketidakjelasan tersebut. Karena hanya akan menguntungkan segilintir pihak. Ditambah lagi dengan realitas politik kita hari ini seringkali menunjukkan adanya penumpukan kekuasaan pada orang-orang tertentu atau kelompok, yang dapat membahayakan esensi demokrasi itu sendiri. Padahal demokrasi seharusnya menjadi mekanisme yang menjamin distribusi kekuasaan jadi merata, sehingga setiap warga negara dapat menikmati hak-hak dan kebebasan yang setara.

Slavoj Zizek, seorang filsuf yang dikenal sebagai filusuf paling berbahaya karena kritiknya yang tajam terhadap demokrasi di Eropa, menyatakan bahwa akar dari permasalahan politik kita akhir-akhir ini terletak pada struktur berpikir yang paradoks dan sinisme. Paradoks menciptakan inkonsistensi yang melekat pada tindakan aktor politik, sementara sinisme menjadi alat untuk mendulang dukungan. Apa yang diungkapkan oleh Zizek mungkin tidak jauh berbeda dengan situasi yang terjadi di Indonesia saat ini. Pada awalnya, masyarakat Indonesia berharap kepada calon pemimpin yang dianggap mampu meningkatkan kesejahteraan mereka dan memberikan perubahan positif.

Namun, harapan ini malah berubah menjadi frustrasi karena melihat paradoks yang ditunjukkan secara vulgar tanpa rasa malu. Persaingan politik juga diperlihatkan dengan warna sinisme, di mana kebenaran dan kesalahan dimanifulasi untuk menarik simpati dari pengikut fanatik yang kurang memahami arah politik secara menyeluruh. Mau tidak mau tindakan paradoks dan sinisme tersebut akan melahirkan perasaan kekecewaan dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap representasi politik.

Kondisi politik yang semakin kabur saat ini menandakan bahwa ideologi yang mendasari tindakan politik semakin sulit dikenali atau diidentifikasi. Dulu, ideologi politik seringkali menjadi pilar utama yang membimbing partai politik dan para pemimpinnya dalam mengambil keputusan serta membentuk kebijakan. Namun, saat ini, tampaknya semakin sulit untuk menemukan konsistensi ideologis yang kokoh di kalangan para politisi. Dalam konteks ini, keberlanjutan politik menjadi lebih penting daripada mempertahankan kesetiaan terhadap ideologi tertentu. Lebih jelasnya, politisi akhir-akhir ini hanya berupaya menyesuaikan diri dengan peluang untuk berkuasa tanpa mengikuti suatu landasan ideologis yang konsisten.

Dampak dari ketidakjelasan ideologi politik ini dapat dirasakan oleh masyarakat. Pemilih menjadi kesulitan untuk memahami dan menilai visi dan misi setiap aktor politik, serta mengukur konsistensi tindakan mereka dalam menghadapi isu-isu tertentu. Hal ini dapat merugikan proses demokrasi, di mana transparansi ideologis dan konsistensi tindakan politik memegang peranan penting dalam membentuk kepercayaan masyarakat terhadap para pemimpinnya.

Selain itu, sinisme dihidupkan oleh para aktor politik untuk mendulang suara. Tanpa harus memperhatikan mana yang benar dan mana yang salah, khususnya di media sosial. Sinisme dimanfaatkan sebagai strategi untuk mendulang dukungan dan suara, terlepas dari pertimbangan etika dan kebenaran. Sinisme ini menciptakan lingkungan politik di mana retorika dan tindakan tidak lagi mencerminkan substansi moral atau tujuan positif, melainkan lebih ditujukan untuk meraih keuntungan politik sesaat. Sinisme sangat dominan menggunakan praktik manipulasi fakta mengaburkan batas antara fakta dan opini, dan membingungkan pemilih.

Dalam lingkungan politik yang sarat dengan sinisme, sangat sulit untuk membedakan antara informasi yang akurat dan propaganda yang sengaja disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Akibatnya, masyarakat dapat mengalami kebimbangan dan mudah terjebak perangkap.

Selama paradoks dan sinisme terus menghiasi panggung politik, jangan harap bangsa ini akan berubah. Sebab pemimpin yang dihasilkan dari dua sisi buruk tersebut cenderung tidak konsisten dalam mengimplementasikan kebijakan yang mendukung kepentingan rakyat.

Di sisi lain, sinisme hanya akan menghasilkan pemimpin yang lebih mementingkan retorika kosong dan pencitraan daripada pemenuhan janji dan tanggung jawab terhadap rakyat. kesadaran akan dampak paradoks dan sinisme menjadi kunci dalam membentuk pandangan masyarakat yang cerdas dan kritis terhadap politik. Proses pemilihan pemimpin harus menjadi ajang evaluasi ketat terhadap karakter, integritas, dan komitmen para calon terhadap kepentingan rakyat. Hanya dengan perubahan ini, panggung politik yang diwarnai paradoks dan sinisme dapat beralih menjadi panggung yang mewakili aspirasi dan kepentingan masyarakat secara menyeluruh.

Dalam tulisan ini saya hanya ingin menekankan bahwa perubahan radikal itu penting dalam merespon tindakan politik. Panggung politik sebagai ajang merebut pengaruh memang sering kali menampilkan sesuatu yang dibungkus dengan dengan rapi agar bisa menarik perhatian. Namun masyarakat sebagai subjek dan objek politik mesti sadar bahwa bungkus kadang lebih indah daripada fakta. Bahkan kata Goenawan Muhammad (tokoh budayawan ternama) kebenaran pun harus diseleksi, apalagi dusta, tentu tidak boleh dimaklumi. Masyarakat harus belajar untuk melampaui penampilan spektakuler dan berusaha memahami substansi dari kebijakan dan tindakan politik yang diajukan oleh para pemimpin.

Penulis adalah Dosen Pascasarjana UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *