HUJAN turun perlahan di halaman Universitas Medan Area siang itu. Udara dingin terasa lembap, namun suasana di dalam ruangan Rektorat terasa hangat dan tenang. Ruangan itu rapi dan tertata apik. Deretan piagam penghargaan berjajar di lemari pajangan, sementara meja kerja penuh berkas tersusun teratur.
Dari balik meja itu, sosok Prof Dr Dadan Ramdan, M.Eng., M.Sc., menyambut saya dan rekan sejawat dengan senyum ramah dan mempersilahkan kami duduk bersama di sofa untuk mewawancarainya.
Perbincangan pun dimulai, ia Lahir di Bandung pada 5 Februari 1964, memulai pengabdiannya di UMA sejak tahun 1991 sebagai dosen di Fakultas Teknik. Kariernya berlanjut dari kepala laboratorium digital control, pembantu dekan, hingga dua kali menjadi Dekan Fakultas Teknik.
Hingga akhirnya, kepercayaan itu tiba. Ia diangkat menjadi Rektor Universitas Medan Area. Dengan latar belakang pendidikan teknik dan pengalaman panjang di dunia pendidikan tinggi, ia dikenal sebagai sosok yang mendorong inovasi, kedisiplinan, dan prestasi dalam setiap langkah mahasiswa dan dosen di UMA.
Perjalanan pendidikannya panjang dan beragam. Ia menyelesaikan S1 di Universitas Padjadjaran (Unpad) jurusan Fisika Instrumentasi pada tahun 1988, melanjutkan S2 di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan bidang yang sama tahun 1991. Tidak berhenti di situ, ia menempuh S2 kedua di Toyohashi University of Technology, Jepang dalam bidang Production Systems Engineering pada tahun 2000, dan akhirnya meraih gelar Doktor (S3) di Universiti Sains Malaysia pada tahun 2013 dalam bidang Mechanical Engineering.
Ia bercerita bahwa dulu tidak pernah terpikir akan menjadi rektor. “Yang ada di daftar mimpi saya dulu yaitu menjadi dosen,” ujarnya sambil tersenyum. Kini, cita-cita sederhana itu telah membawanya memimpin kampus yang ia cintai. Selama menimba ilmu, ia juga menekuni bahasa Inggris, Malaysia, dan Jepang, yang sangat membantunya dalam dunia akademik internasional.
Di tengah jadwal yang sangat padat, ia memiliki hobi sederhana, ”Saya hobinya berolahraga, kadang dilakukan di rumah, di depan rumah, atau di tempat lain. Biasanya dengan berjalan kaki, dulu juga suka voli, bulu tangkis, basket, bola—semua saya suka,” katanya ringan. Selain olahraga, hobi lainnya yang masih dijaga hingga kini adalah membaca, karena menurutnya membaca membuat pikiran tetap terbuka dan segar.
Sampai pada pertanyaan saya mengenai makna prestasi, ia tertawa kecil menyorot bahwa saya masih mengingat ucapannya saat PKKMB 2023 bahwa ia sangat senang dan mengapresiasi mahasiswa atau seseorang yang memiliki prestasi.
“Saya sampaikan bahwa prestasi itu harga mati, kalau tidak berprestasi mati saja, hahahaha! Adik kan hidup ni? Pasti berprestasi ya kan, tapi pasti kan berbeda-beda. Jadi, prestasi bagi bapak saat ini dan sampai kapan pun adalah ia bisa bermanfaat untuk dirinya sendiri dan orang lain,” ujarnya.
Lalu, ia melanjutkan dengan memberi tips dan rumus prestasi, “Tapi syaratnya ada empat, yaitu A×B×C×D. “Yang pernah bapak sampaikan juga, supaya bermanfaat bagi semua orang harus punya A — A-nya alat, B-nya bekerja atau belajar, C-nya cita-cita, harus ada keinginan, dan D-nya yang paling dekat yaitu doa. Dan itu semuanya dikali, bukan plus, bukan minus.”
Ia menegaskan kembali makna rumus itu dengan contoh, “Kalau misalnya A-nya ada banyak buku, pulpen, kerjanya sungguh-sungguh, cita-citanya tinggi, tapi tidak pernah berdoa — nol hasilnya. Jadi kita harus punya keyakinan, doa, belajar agama, dan karakter. Tapi kalau doa terus tanpa bekerja juga tidak bisa. Harus ada nilai masing-masing: alat kita punya, bekerja sungguh-sungguh, cita-cita jelas, dan tidak lupa berdoa. Dari situ muncul, dan jadilah sebuah prestasi itu.”
Saat ini, di bawah kepemimpinanya, Universitas Medan Area terus menghadirkan berbagai inovasi. Seperti program UMA Green Digital, aplikasi akademik berbasis digital, dan penerapan konsep kampus hijau. Ia juga mendorong kreativitas mahasiswa melalui kegiatan digital dan lomba konten edukatif agar UMA semakin maju dan adaptif di era teknologi.
Di penghujung perbincangan, Dari ruangan rektor yang penuh penghargaan itu, saya belajar satu hal — prestasi bukan sekadar hasil, melainkan perjalanan untuk terus bermanfaat. Pesan ia agar mahasiswa sukses dan lulus tepat waktu bukan hanya motivasi, tapi juga pengingat bahwa setiap langkah kecil menuju tujuan adalah bagian dari prestasi itu sendiri.(azzura nazhifa)











