Oleh: Maria Ulfa Batoebara
“Kemajuan teknologi membuat komunikasi semakin mudah, tetapi kedekatan justru terasa menjauh” (Maria Ulfa Batoebara)
Di tengah ramainya kehidupan, tidak sedikit orang yang justru merasa semakin sepi. Kota terus bergerak, kendaraan lalu lalang, aktivitas seakan tak pernah berhenti. Namun, di balik semua itu, ada banyak hati yang menyimpan kegelisahan. Inilah yang tergambar dalam Ratapan Solo, sebuah simbol jeritan batin tentang kesendirian dan kerinduan akan kepedulian.
Ratapan bukan sekadar keluhan, tapi peluh yang tak pernah ada jawaban. Ia adalah pesan. Dalam teori komunikasi Gerald R. Miller, setiap ekspresi manusia—baik kata-kata, gestur, maupun diam mengandung makna. Ketika seseorang meratap, sejatinya ia sedang menyampaikan bahwa ada beban yang terlalu berat untuk dipikul sendiri.
Fenomena ini semakin terasa di zaman sekarang. Kemajuan teknologi membuat komunikasi semakin mudah, tetapi kedekatan justru terasa menjauh. Kita rajin berbalas pesan di ponsel, aktif di media sosial, namun sering lupa menyapa orang di sekitar. Obrolan hangat semakin jarang, digantikan oleh layar dan notifikasi.
Di Sumatera Utara, masyarakat dikenal ramah, terbuka, dan menjunjung tinggi kebersamaan. Nilai gotong royong dan kepedulian sosial menjadi bagian dari identitas. Namun, perubahan gaya hidup pelan-pelan menggerus kebiasaan itu. Kesibukan kerja, tekanan ekonomi, dan tuntutan hidup membuat banyak orang terjebak dalam rutinitas, hingga lupa membangun relasi yang hangat.
Ratapan Solo seakan menjadi cermin kondisi tersebut. Ia menggambarkan bagaimana seseorang bisa merasa sendirian di tengah keramaian. Banyak orang ingin didengar, tetapi tidak tahu harus berbagi kepada siapa. Akhirnya, kesepian dipendam, kegelisahan disimpan sendiri, hingga berubah menjadi ratapan batin.
Gerald R. Miller menekankan bahwa komunikasi sejati membutuhkan empati dan perhatian. Tanpa keduanya, komunikasi hanya menjadi formalitas. Kita mungkin saling berbicara, tetapi tidak sungguh-sungguh mendengar. Kita bertemu setiap hari, tetapi jarang benar-benar memahami.
Padahal, sering kali yang dibutuhkan seseorang hanyalah telinga yang mau mendengar dan hati yang mau peduli. Sapaan sederhana, obrolan ringan, atau sekadar menemani bisa menjadi obat bagi kesepian. Hal-hal kecil semacam ini justru memiliki dampak besar dalam menjaga kesehatan mental dan keharmonisan sosial.
Ratapan juga menjadi pengingat bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri. Kita membutuhkan kehadiran orang lain, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional. Kebersamaan, empati, dan solidaritas adalah kebutuhan dasar yang tidak tergantikan oleh teknologi secanggih apa pun.
Sudah saatnya kita kembali menghidupkan komunikasi yang lebih manusiawi. Di rumah, di kampus, di tempat kerja, dan di lingkungan sekitar, mari membuka ruang dialog yang tulus. Mendengar tanpa menghakimi, memahami tanpa memaksakan.
Dengan begitu, Ratapan Solo tidak lagi menjadi jeritan sunyi, melainkan berubah menjadi ajakan untuk saling merangkul. Sebab, di tengah hiruk-pikuk zaman, kepedulian sederhana justru menjadi hal yang paling dirindukan. WASPADA.id
Penulis adalah Kaprodi Ilmu Komunikasi Universitas Dharmawangsa Medan











