Oleh: Farid Wajdi
Bencana selalu memaksa manusia memilih posisi. Bukan hanya posisi fisik, tetapi posisi moral. Ada yang turun ke lumpur, ada yang naik ke linimasa. Ada yang mengangkat korban, ada yang mengangkat narasi. Dari situlah pertarungan sunyi antara relawan dan buzzer bermula.
Relawan datang tanpa pengumuman. Tidak menunggu kamera. Tidak bertanya siapa penguasa. Tidak menakar keuntungan. Mereka hadir karena ada manusia lain yang terluka.
Palang Merah Indonesia menyebut relawan sebagai individu yang menyerahkan waktu, tenaga, dan keahlian demi kemanusiaan tanpa pamrih (PMI, 2023). Definisi ini terdengar sederhana, tetapi justru di situlah letak kemuliaannya.
Sebaliknya, buzzer hadir dengan perhitungan. Perhitungan atensi, impresi, dan dampak opini. Dalam dunia komunikasi digital, buzzer dipahami sebagai aktor terorganisasi yang bertugas memperkuat atau melemahkan persepsi publik terhadap isu tertentu, sering kali dengan kompensasi ekonomi atau politik (CIMB Niaga, 2023). Dalam keadaan normal, praktik ini sudah problematik. Dalam situasi bencana, praktik tersebut menjelma menjadi ironi kemanusiaan.
Bencana semestinya meruntuhkan sekat. Justru sebaliknya, media sosial kerap menjadikannya panggung konflik. Ketika air belum surut dan korban masih mencari anggota keluarga, lini masa dipenuhi perdebatan: siapa salah, siapa benar, siapa pencitraan, siapa bersembunyi di balik bantuan. Empati kalah cepat dari opini.
Megawati Soekarnoputri pernah melontarkan kritik tajam terhadap praktik buzzer dalam isu bencana. Alih-alih fokus pada korban, perhatian justru diarahkan pada siapa menggerakkan buzzer dan untuk kepentingan siapa narasi diproduksi (Detik, 2025). Sindiran ini bukan sekadar keluhan politik, melainkan alarm moral tentang rusaknya sensitivitas publik.
Tempo mencatat buzzer sebagai bagian dari industri opini, pekerja narasi yang menjadikan konflik, tragedi, bahkan duka sebagai bahan bakar konten (Tempo, 2025). Dalam logika ini, penderitaan manusia direduksi menjadi komoditas. Korban bukan subjek yang harus ditolong, melainkan objek yang bisa dipakai untuk menyerang pihak lain.
Relawan dan buzzer sering disamakan secara dangkal. Keduanya dianggap “bergerak”. Keduanya dianggap “membantu”. Namun kesamaan itu berhenti pada permukaan. Relawan bekerja untuk korban. Buzzer bekerja untuk kepentingan. Relawan tunduk pada etika kemanusiaan. Buzzer tunduk pada kontrak dan algoritma.
Manuel Castells mengingatkan dalam masyarakat jaringan, kekuasaan tidak lagi bertumpu pada senjata atau uang semata, melainkan pada kemampuan mengendalikan arus informasi (Castells, 2010). Dalam situasi bencana, kontrol narasi bisa lebih menentukan dibanding jumlah bantuan. Di titik inilah bahaya laten muncul: ketika opini menggantikan empati, dan persepsi mengalahkan kenyataan.
Fenomena ini terlihat jelas di media sosial. Relawan yang mengunggah kondisi lapangan dituding mencari panggung. Dokumentasi dianggap pencitraan. Sebaliknya, serangan buzzer terhadap individu atau kelompok dibungkus sebagai “kritik rasional”. Standar ganda bekerja tanpa malu.
Penulis dan pegiat literasi Boy Candra menyebut serangan buzzer di tengah bencana sebagai bentuk kebodohan kolektif yang kehilangan rasa kemanusiaan paling dasar (Threads, 2025). Musisi Fiersa Besari menyuarakan kegelisahan serupa, menegaskan empati seharusnya datang lebih dulu daripada opini (X, 2025). Suara-suara ini lahir bukan dari kepentingan politik, melainkan dari kelelahan melihat nurani dipermainkan.
Sejarah berpihak pada relawan. Dari Palang Merah Internasional pasca-Perang Dunia hingga relawan tsunami Aceh 2004, pola yang sama selalu terulang: relawan datang lebih cepat dari negara, bekerja lebih sunyi dari media, dan pulang tanpa pamit. Tidak ada monumen besar bagi relawan, tetapi jejaknya tertinggal di ingatan para korban.
Buzzer tidak memiliki sejarah kemanusiaan yang sama. Ia lahir dari rahim propaganda modern, ekonomi atensi, dan polarisasi politik. Tirto mencatat bagaimana propaganda terorganisasi sejak abad ke-20 mampu menggerakkan massa sekaligus merusak nurani publik (Tirto, 2017). Dalam konteks bencana, praktik serupa hanya mengganti musuh politik dengan korban bencana sebagai latar narasi.
Pertanyaan penting kemudian muncul: siapa yang menggerakkan relawan? Jawabannya nyaris klise, tetapi tetap relevan: empati, solidaritas, dan nilai kemanusiaan. Siapa yang menggerakkan buzzer? Modal, kepentingan, dan kekuasaan simbolik. Siapa yang diuntungkan? Relawan menguntungkan korban. Buzzer menguntungkan klien dan algoritma.
Apakah buzzer selalu buruk? Realitas tidak sesederhana itu. Dalam batas tertentu, penyebar informasi terlatih dapat membantu melawan hoaks, mengoordinasikan bantuan, atau menyebarkan informasi darurat. Namun ketika buzzer menyerang relawan, meremehkan korban, atau memelintir bencana menjadi senjata politik, praktik tersebut berubah menjadi perusakan etika publik.
Teropong Senayan menyebut buzzer bencana sebagai gejala matinya empati kolektif akibat polarisasi digital yang ekstrem (Teropong Senayan, 2024). Kompas menempatkan buzzer sebagai aktor dalam pertarungan narasi, sering kali mengorbankan fakta dan rasa kemanusiaan demi kemenangan opini (Kompas, 2024). Dua analisis ini bertemu pada satu titik: bencana tidak lagi diperlakukan sebagai tragedi, melainkan arena.
Relawan tidak kebal kritik. Profesionalisme, koordinasi, dan akuntabilitas tetap diperlukan. Namun kritik yang sehat bertujuan memperbaiki, bukan menghancurkan. Buzzer yang menyerang tanpa empati justru memperpanjang luka sosial, memperdalam kecurigaan, dan menjauhkan solidaritas.
Relawan dan buzzer adalah cermin zaman. Yang satu bekerja dalam diam. Yang lain berisik dalam linimasa. Yang satu mengurangi penderitaan. Yang lain sering menambah kebisingan. Pilihan berpihak menjadi terang ketika bencana datang: berpihak pada manusia atau pada narasi.
Sejarah tidak mencatat tagar terpopuler. Sejarah mencatat siapa yang hadir ketika segalanya runtuh. Relawan akan selalu dikenang melalui nyawa yang tertolong dan luka yang terobati. Buzzer akan diuji oleh waktu: dikenang sebagai penjaga informasi atau sekadar gema kosong dalam hiruk-pikuk digital.
Bencana bukan hanya ujian alam. Bencana adalah ujian nurani. Di antara relawan dan buzzer, publik sedang diuji: memilih empati atau sensasi, kerja nyata atau perang kata, kemanusiaan atau algoritma. Sejarah, seperti biasa, tidak pernah keliru mencatat siapa yang benar-benar bekerja ketika manusia paling membutuhkan manusia lain.
Penulis adalah Founder Ethics of Care, Anggota Komisi Yudisial 2015-2020, dan Dosen UMSU











