Opini

Restorasi Etika di “Universitas Ramadhan”

Menyongsong Transformasi UTU 2026: Komitmen Integritas, Kewajiban Mulia Pemimpin dan Hilirisasi Berbasis Ekologi di Tanah Barsela Aceh

Restorasi Etika di “Universitas Ramadhan”
Kecil Besar
14px

Oleh: Said Fadhlain, S.IP., M.A.

Di penghujung sepuluh malam terakhir Ramadhan 1447 H, jagat raya seolah melambat, memberi ruang bagi manusia untuk melakukan kontemplasi sedalam-dalamnya. Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan menahan lapar dan dahaga; ia adalah laboratorium agung untuk memanusiakan manusia, sebuah fase asketisme untuk meruntuhkan ego dan kesombongan intelektual kita.

Di sinilah kita kembali menyadari jati diri sebagai hamba yang dhaif di hadapan Ilahi Rabbi, namun memegang mandat besar sebagai khalifatullah (QS. Al-Baqarah: 30) yang akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap kebijakan, ucapan, dan jejak langkah kita di ruang publik.

Dalam kacamata Ilmu Komunikasi, Ramadhan adalah momentum krusial untuk melakukan Restorasi Etika. Kita hidup di era kebisingan digital yang destruktif, di mana algoritma sering kali lebih berkuasa daripada nurani, dan viralitas dipuja melampaui validitas. Fenomena post-truth telah mengaburkan batas antara fakta dan manipulasi informasi.

Bagi seluruh civitas akademika Universitas Teuku Umar (UTU), momentum ini adalah panggilan suci untuk menemukan kembali “Khitah Dakwah”: sebuah pola komunikasi yang mencerahkan, menyatukan, dan yang paling utama, menjaga marwah ruang publik (public sphere) dari polusi kepentingan sesaat. Komunikasi profetik yang jujur adalah fondasi utama bagi kesehatan sebuah institusi pendidikan yang mengklaim diri sebagai pusat peradaban.

Kewajiban Mulia: Hak Istimewa sebagai Beban Moral

Membangun peradaban menuju suksesi kepemimpinan pada Mei 2026 mendatang harus berpijak pada tiga pilar utama: Equality (Persamaan), Humanity (Kemanusiaan), dan Dignity (Harkat). Dalam konteks pemilihan Rektor UTU, kita harus menyadari bahwa kepemimpinan adalah sebuah Kewajiban Mulia—sebuah prinsip moral yang menekankan bahwa kedudukan yang tinggi menuntut tanggung jawab yang jauh lebih besar. Hak istimewa (privilege) yang melekat pada jabatan bukanlah alat untuk memuaskan syahwat kekuasaan atau kepentingan golongan, melainkan beban moral untuk melayani semesta. Menjadi Rektor bukan tentang fasilitas mewah atau simbol prestise, melainkan tentang pengabdian total kepada umat dan ilmu pengetahuan.

Integritas dan Moral Quality adalah harga mati yang tidak bisa ditawar dalam kondisi apa pun. Saat ini, proses penjaringan telah mengerucut pada 4 (empat) figur Bakal Calon Rektor (Bacalon) yang sah. Para Bacalon akan melakukan sosialisasi dihadapan civitas akademika Universitas Teuku Umar seraya menyampaikan visi dan misi, serta program kerja dijadwalkan berlangsung pada tanggal 23 April 2026 s/d 3 Mei 2026. Yaitu Dr. Ir Irwansyah, S.T., M. Eng, IPM dari Universitas Syiah Kuala, Prof Dr Nyak Amir, S. Pd., M. Pd dari Universitas Syiah Kuala, Prof Dr. Ir Dahlan Abdullah, S.T., M. Kom, IPU, ASEAN Eng dari Universitas Malikussaleh, serta Prof Dr. Iskandar AS, S. Pd., M. App Ling dari Universitas Syiah Kuala.

Keempat figur ini memikul beban sejarah untuk membuktikan bahwa kontestasi ini bukan sekadar ajang perebutan kursi, melainkan kompetisi gagasan dan integritas. Kita harus menutup rapat pintu bagi praktik eufemisme politik—sebuah cara memperhalus kebusukan transaksional dengan bahasa diplomatis yang manipulatif dan menyesatkan.

Di lingkungan akademik, kejujuran intelektual adalah mata uang yang paling berharga. Sesuatu yang busuk tetaplah busuk, dan marwah UTU terlalu mahal untuk digadaikan demi kepentingan tim sukses atau faksi tertentu.

Estafet “Sanad” Perjuangan UTU

UTU bukanlah entitas yang lahir dari ruang hampa atau sekadar proyek administratif sekejap mata. Memahami masa depan UTU menuntut kita untuk membaca kembali genetika sejarahnya dengan kacamata kejujuran dan penghormatan kepada para pionir.

Estafet kepemimpinan ini bermula dari era perintisan yang penuh tantangan di bawah kendali Drs. Alfian Ibrahim, MS, yang kemudian bersambung lidah melalui Ir. Rusydi Faizim, M.Si, dan Ir. Malek Ali, M.Si. Fase ini adalah pertaruhan eksistensi, di mana Drs. Alfian kembali memimpin untuk memastikan ruh pendidikan di Barsela tetap menyala di tengah badai dinamika sosiopolitik yang melanda.

Evolusi visi ini terus bertransformasi mengiringi zaman: dari era 2006–2013 sebagai “Jantong Hate Masyarakat Barsela Aceh”, berlanjut ke era 2014–2022 di bawah Prof. Dr. Jasman J. Ma’ruf, SE., MBA, dengan visi “Source of Inspiration, Source of References”, hingga diperteguh oleh Prof. Dr. Drs. Ishak Hasan, M.Si, dengan filosofi “Menyemai Ilmu, Menanam Mutu, Memetik Kemakmuran”. Keempat Bacalon rektor yang akan bertarung pada Mei 2026 nanti harus mampu menyerap energi kepemimpinan dari para pendahulu ini, sekaligus membawa inovasi yang melampaui zamannya.

Barsela: Antara “Anugerah” dan “Ujian Amanah”

Kita harus berani jujur pada realitas sosiopolitik : Barsela masa depan adalah Aceh masa depan. Wilayah ini diberkahi dengan kekayaan Sumber Daya Alam yang luar biasa; dari hamparan sawit yang hijau, karet yang melimpah, hingga potensi tambang emas dan batu bara yang menggiurkan.

Namun, kekayaan alam Barsela adalah Anugerah yang sekaligus menjadi Ujian Amanah. Sejarah dunia mencatat betapa banyak wilayah kaya justru berakhir dalam kubangan kemiskinan dan keterbelakangan akibat ketidakmampuan mengelola amanah sumber daya tersebut.

Tanpa kawalan etika dan sains dari kampus, anugerah besar ini justru berisiko menjadi beban sosial bagi masyarakat kita. Di sinilah peran UTU sebagai “Dapur Peradaban” menjadi mutlak. UTU harus menjadi “benteng terakhir” di mana keabsahan sebuah kebijakan pembangunan diuji melalui riset yang independen dan integritas akademik yang kokoh. Kepemimpinan masa depan hasil pemilihan tahun 2026 harus mampu menjaga agar anugerah SDA ini tidak berubah menjadi bencana ekologi, melainkan kemaslahatan melalui prinsip keadilan antar-generasi (Intergenerational Justice). Kampus tidak boleh diam saat ekologi Barsela memerlukan panduan sains yang tuna-kepentingan.

Hilirisasi Intelektual: Komitmen Komunikasi Profetik

Dalam tataran operasional, Etika Lingkungan di UTU harus diwujudkan melalui hilirisasi riset yang membumi. Komunikasi profetik menuntut kita untuk tidak menjadi “menara gading” yang asing di tanah sendiri. Ilmu pengetahuan harus bisa berbicara dengan bahasa yang dimengerti oleh rakyat; berbicara kepada petani sawit tentang keberlanjutan, dan kepada nelayan pesisir tentang kedaulatan laut.

Hilirisasi intelektual adalah amanah ilmiah yang berat (QS. Al-Ahzab: 72). Riset tidak boleh hanya berakhir sebagai tumpukan kertas di perpustakaan, melainkan harus bertransformasi menjadi solusi nyata bagi persoalan ekologi dan ekonomi di pesisir. Inilah wujud nyata dari pengabdian yang jujur—menyampaikan kebenaran sains dengan keberanian moral demi memuliakan martabat rakyat sebagai subjek utama pembangunan di Barat Selatan Aceh.

Konklusi: Menjaga Ekosistem Terumbu Karang Akademik

Ibarat sebuah Ekosistem Terumbu Karang di pesisir Barsela, UTU adalah rumah bagi ribuan biota intelektual yang bergantung pada kejernihan arus etika. Terumbu karang hanya bisa tumbuh di air yang bersih; demikian pula inovasi akademik hanya bisa berkembang dalam iklim yang penuh integritas.

Jika arus kepemimpinan pada suksesi Mei 2026 nanti tercemar oleh limbah politik transaksional, maka seluruh ekosistem riset dan pengabdian akan kehilangan daya hidupnya sebelum sempat memberi manfaat bagi rakyat.

Sebagai bagian dari restorasi etika ini, siapa pun penyambung sanad kepemimpinan nantinya harus memegang teguh lima manifesto integritas: transparansi tata kelola yang akuntabel, kemaslahatan ekologi (Green University), perlindungan terhadap kebebasan mimbar akademik, penolakan tegas terhadap intervensi politik transaksional, serta penguatan diplomasi global tanpa mencabut akar kearifan lokal.

Mari jadikan sisa Ramadhan ini sebagai ajang “Iktikaf Intelektual”. Kita membutuhkan pemimpin yang memiliki “Wangi Integritas”—sosok yang takut kepada Allah, mencintai ilmu pengetahuan, dan berkomitmen menjadikan UTU sebagai lokomotif peradaban yang membumi namun bervisi global. Mei 2026 adalah gerbang takdir keemasan kita; sebuah usia di mana UTU harus benar-benar menjadi “Rumah Kita” yang teduh, kuat, dan bermartabat. Mari kita jemput takdir itu dengan tangan yang jujur dan hati yang bersih. Hasbunallah wanikmal wakil, Nikmal Maula Wanikman Nasir.

Penulis adalah Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Teuku Umar

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE