Oleh: Aqila Putri Nasution, Tiara Anggraini, Sariani Simanjuntak
Masyarakat Digital dan Perubahan Cara Membaca
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengumumkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA pada Selasa (23/12/2025) yang menunjukkan penurunan capaian akademik. Rata-rata nilai TKA SMA untuk Bahasa Indonesia tercatat 57,39, Matematika 37,23, dan Bahasa Inggris 26,71. Pada jenjang SMK, nilai rata-rata Bahasa Indonesia 53,62, Matematika 34,74, dan Bahasa Inggris 22,55 (Kemendikdasmen, 2025).
Jika dibandingkan dengan capaian Ujian Nasional (UN) sebelum dihapus, penurunan ini terlihat semakin jelas. Data Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) menunjukkan bahwa rata-rata nilai UN SMA sebelumnya berada pada kisaran 65–70 untuk Bahasa Indonesia, 50–55 untuk Matematika, dan 55–60 untuk Bahasa Inggris (BSNP, 2019). Dengan demikian, terjadi penurunan sekitar 15–18% pada Bahasa Indonesia, 25–30% pada Matematika, dan hingga 40–50% pada Bahasa Inggris.
Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam cara masyarakat berinteraksi dengan informasi. Ponsel pintar, internet, dan media sosial menjadi sumber utama pengetahuan sekaligus hiburan. Arus informasi yang datang tanpa henti membuat membaca tidak lagi dilakukan secara tenang dan mendalam, melainkan cepat dan sambil lalu. Kebiasaan menggulir layar menjadi bagian dari keseharian masyarakat digital (Carr, 2010).
Perubahan ini turut memengaruhi cara otak memproses informasi. Informasi lebih sering diterima dalam bentuk potongan singkat dan konten visual, sehingga konsentrasi untuk membaca teks panjang semakin menurun. Membaca mendalam perlahan kehilangan perannya sebagai sarana memahami makna dan konteks secara utuh (Wolf, 2018).
Budaya Scroll dan Dampaknya terhadap Literasi Akademik
Budaya scroll berkembang seiring desain media digital yang menekankan kecepatan dan daya tarik visual. Pengguna terdorong berpindah cepat dari satu informasi ke informasi lain, membentuk pola konsumsi informasi yang dangkal. Informasi dibaca sekilas, jarang direnungkan, dan mudah dilupakan (Fuchs, 2017).
Dampaknya terasa jelas dalam dunia akademik. Peserta didik kerap kesulitan memahami bacaan dan teks soal. Banyak kesalahan dalam TKA bukan disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, melainkan akibat lemahnya pemahaman teks dan penalaran logis. Ketika kebiasaan membaca tidak dilatih secara konsisten, kemampuan berpikir kritis pun ikut melemah (OECD, 2023; UNESCO, 2021).
Pendidikan di Tengah Arus Informasi Instan
Dunia pendidikan berada di tengah tantangan besar. Sekolah dituntut menghasilkan individu yang mampu berpikir kritis dan analitis, sementara lingkungan digital justru mendorong pola pikir instan. Peserta didik lebih akrab dengan layar ponsel dibandingkan buku pelajaran, sehingga membaca panjang sering dianggap membosankan (Carr, 2010). Jika kondisi ini tidak diimbangi dengan penguatan literasi, kualitas pembelajaran berisiko terus menurun.
Menata Kembali Hubungan dengan Bacaan dan Informasi
Menghadapi kondisi tersebut, diperlukan upaya menata kembali hubungan masyarakat dengan bacaan dan informasi. Teknologi tidak perlu disingkirkan, tetapi digunakan secara lebih sadar. Membaca melalui media digital tetap dapat dilakukan asalkan dengan tujuan yang jelas dan tanpa gangguan. Meluangkan waktu khusus untuk membaca menjadi langkah penting untuk melatih kembali fokus dan ketekunan (Wolf, 2018).
Melalui mata kuliah Digital Society yang diampu oleh Ibu Anim, S.Si., M.Pd., kami sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Asahan menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan terhadap cara membaca dan memahami informasi. Oleh karena itu, pembiasaan membaca perlu ditegaskan kembali di lingkungan pendidikan, bukan sekadar untuk mengejar nilai, tetapi untuk membangun kemampuan berpikir. Penguatan budaya membaca kritis dan mendalam perlu menjadi perhatian bersama agar kemajuan teknologi dapat dimanfaatkan secara bijak demi masa depan generasi muda Indonesia. WASPADA.id
Penulis adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Asahan











