Soekarno – Inggit Ganarsih

Oleh Budi Agustono

  • Bagikan
<strong>Soekarno - Inggit Ganarsih</strong>

Inggit Ganarsih dan Soekarno menikah tahun 1923. Usia Soekarno masih muda 22 tahun, sedangkan Inggit 33 tahun. Sebagai istri yang memahami aktivitas politik Sukarno, Inggit Ganarsih menyokong seisi raganya memerhatikan dan menghidupi kewirausahaan politik suaminya u melawan kekuasaan kolonial menuju Indonesia merdeka

Soekarno lahir Juni 1901. Pendidikannya bermula di Surabaya. Di masa Soekarno sekolah Surabaya sebagai kota kosmopolitan, modern dan industrial. Kapal besar datang dan pergi ke pelabuhan Surabaya untuk transaksi perdagangan. Industri bertumbuhan banyak memerkerjakan buruh. Gedung -gedung besar melayani keperluan perdagangan dan industrial. Jalur kereta api diletakkan menjelang paruh ketiga abad ke sembilan belas. Juga sekolah modern satu demi satu bermunculan.

Jumlah mobil makin bertambah dalam waktu singkat. Apalagi ada jalan beraspal mendorong tmasuknya mobil dan kendaraan lainnya ke Surabaya. Sejalan dengan ini organisasi pergerakan Sarekat Islam (SI) berdiri merupakan gerakan politik dan ekonomi melawan penguasa kolonial. SI merupakan organisasi massa berpengaruh dalam menentang kapitalisme kolonial. Pemimpin SI Tjokroaminoto menggalang massa petani dan buruh melawan kekyasasn kolonial.

Di masa modernisasi inilah Soekarno mengenyam pendidikan di Surabaya. Soekarno indekos sekolah di rumah Tjokroaminoto. Selama indekos di rumah Ketua SI langsung atau tidak berguru politik dengannya. Ia belajar berpidato dengan Tjokroaminoto sewaktu menyaksikan rapat-rapat akbar dipenuhi lautan massa melawan penguasa kolonial. Di rumah ini juga Soekarno bertemu Kartosuwiryo dan Musso kawan indekosnya yang berbeda ideologi namun tetap berkawan dan acap membahas persoalan kebangsaan dan perihnya kesengsaraan rakyat akibat kekuasaan kolonial. Di rumah ini pula Soekarno yang sedang sekolah bertemu Oetari, anak perempuan Tjokroaminoto. Soekarno akrab dan selalu bertemu Oetari saling suka dan mengakhiri lajangnya dengan menyuntingnya sebagai istri.

Dari Surabaya Soekarno meneruskan studinya ke Techniche Hoge School (THS) Bandung. Di masa Soekarno bersekolah Bandung terkenal di dunia lantaran promosi pariwisatanya oleh kalangan pengusaha dan penggiat pariwisata kolonial mengenalkan kota ini ke penjuru dunia. Kegiatan bisnis di sekitar Braga mengangkat Bandung sebagai kota bisnis ditambah lagi udaranya yang sejuk menyedot orang datang ke Bandung.

Selain Surabaya dan Semarang, Bandung sebagai kota pergerakan. Studi klub, organisasi keagamaan dan organisasi massa yang bergeliat melawan penguasa kolonial dan menyuarakan keinginan merdeka bermunculan. Sebagai mahasiswa THS yang berubah menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB) nantinya Soekarno bergabung di kelompok studi Algemene Studie Club. Pikiran Soekarno radikal, analisisnya tajam, pemahamannya atas kondisi sosial ekonomi dan politik kolonial mendalam dan kecaman atas beroperasinya sistem pilitik kolonial sangat keras. Pelibatan diri yang aktif dalam mengecam dan menentang kekuasaan kolonial membuat Soekarno cepat terkenal di lingkaran gerakan kebangsaan. Sebagai aktivis pergerakan di garis depan Soekarno memerlukan tempat tinggal tempat, berteduh, berdiskusi, dan berkumpul dengan kawan seperjuangannya.

Tjokroaminoto mertua Soekarno yang mempunyai kenalan di Bandung mengenalkan dan mengantarkan menantunya ini dengan Sanusi. Sanusi adalah anggota SI Bandung dan akrab dengan Tjokroamoto. Sanusi beristri Inggit Ganarsih yang dekat dengan kegiatan SI malah Inggit Ganarsih bersama suaminya mengikuti kegiatan organisasi massa Islam ini. Inggit Ganarsih dan Sanusi menyewakan kamar untuk orang sekolahan di rumahnya sebagai tambahan penghasilan.

Sewaktu bersekolah di THS Soekarno dititip mertuanya Tjokroaminoto tinggal di rumah pasangan Inggit Ganarsih dan Sanusi.

Soekarno yang menyatukan diri dalam arus besar gerakan kebangsaan mondok di rumah Inggit Ganarsih tanpa membawa istrinya Oetari. Selain studi saban harinya Soekarno bersama kawan-kawan membahas tanah jajahan dari cengkeraman kolonialisme dan imperialisme.

Di rumah Soekarno membaca buku, surat kabar dan mengamati perkembangan politik. Ia acap terbangun tengah malam dan melanjutkan membaca sampai menjelang pagi memertemukannya dengan Inggit Ganarsih yang selalu terbangun dan tidak dapat memejamkan matanya kembali di tempat tidur.

Inggit Ganarsih dan Soekarno yang selalu bertemu ini saling kasmaran dan jatuh hati.

Bingkai. Soekarno yang masih beristrikan Oetari yang dianggapnya adik sendiri menyampaikan ke mertuanya Tjokroaminoto untuk berpisah. Juga Inggit Ganarsih berpisah dengan suaminya Sanusi. Ia hidup sendiri bersama orang indekos di rumahnya untuk menambah penghasilan rumah tangganya.

Inggit Ganarsih dan Soekarno menikah tahun 1923. Usia Soekarno masih muda 22 tahun, sedangkan Inggit 33 tahun. Sebagai istri yang memahami aktivitas politik Sukarno, Inggit Ganarsih menyokong seisi raganya memerhatikan dan menghidupi kewirausahaan politik suaminya u melawan kekuasaan kolonial menuju Indonesia merdeka.

Kewirausahawan politik Soekarno tanpa ditopang ekonomi cukup tak membuat daya lenting pergerakan politiknya mengemuka kuat. Ia menyadari tanpa amunisi ekonomi daya lenting pegerakan politik akan tersendat. Keberlanjutan pergerakan harus terjaga survivalitasnya agar cita-cita politik itu terealisasi.

Inggris Ganarsih bekerja apa saja demi keberlanjutan nafas gerakan kebangsaan Soekarno. Ia berdagang apa saja mencari tambahan hidup dan menafasi pergerakan bangsa suaminya. Ia memutar otak berupaya membantu hudup Soekarno sewaktu berpolitik di Bandung.

Kawan-kawan lingkaran suaminya selalu berkumpul di rumah tentu memerlukan dana perjuangan layaknya jika digelar perhelatan di rumah akan mengeluarkan dana ekstra untuk konsumsi menjamu tamu.

Mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) tahun 1927 dan sesudahnya saat mana Soekarno membangkitkan dan membakar semangat rakyat secara terbuka menghantam kekuasaan dan mengobarkan nasionalisme dari satu tempat ke tempat lain bersama PNI yang menyihir ribuan massa tanpa ada tangan terselubung Inggit Ganarsih yang selalu menemaninya manalah mungkindapat bertahan hidup jika tak dibantu keuangannya tanpa peran istrinya

Pidato, rapat besar dan kecaman atas praktik kekuasaan menyebabkan pemerintah kolonial marah dan cemas atas apa yang dikerjakan Soekarno mobilisasi rakyat, memermalukan dan merongrong digdaya kekuasaan kolonial, pemerintah kolonial mengambil tindakan menghabisi kekuatan PNI dengan menangkap pemimpin utamanya. Dalam logika kekuasaan kolonial jika pemimpin pergerakan ditangkap akan mematikan kekuatannya.

Untuk melumpuhkan mobilisasi rakyat, menghentikan serangan rakyat dan mematahkan PNI yang radikal pemerintah kolonial menangkap Soekarno. Soekarno dipenjara dua tahun di Bandung. Penjara dan penangkapan pemimpin utama PNI ini sama sebangun dengan penghancuran partai. PNI terhuyung dan padam kebesarannya sesudah Soekarno dipenjara.

Soekarno yang mampu menghipnotis massa, menimbun kagum dan sebagai singa podium di depan massa merasa sendiri dan tak bisa menahan sepi meringkuk di penjara.

Sesudah hampir tiga minggu lamanya berada di penjara Inggit Ganarsih beroleh izin mengunjungi suaminya. Dari rumah ke penjara Sukamiskin Inggit Ganarsih mengunjungi suaminya secara teatur. Setiap kali melihat suaminya ia bersepeda ke penjara. Saban ke penjara berkabar tentang situasi politik yang didapatnya dari lingkaran pergerakan kebangsaan. Informasi politik mutakhir itulah yang disampaikan ke dalam penjara. Tersebab ketatnya pengawasan sipir penjara kepada Sukarno, Inggit Ganarsih menyampaikannya dengan kode tertentu. Misalnya jika ada penangkapan pengurus partai ia menggerakkan jarinya tangan beberapa kali atau bila ada penangkapan besar-besaran gerakan tangannya berubah pertanda apa yang sedang terjadi di luar penjara.

Selama di penjara Soekarno membutuhkan bacaan. Inggit Ganarsih mengerti betul Soekarno sangat memerlukan gizi bacaan untuk mengikuti perkembangan politik di tanah jajahan. Untuk mengikuti perkembangan situasi pergerakan kebangsaan di tanah jajahan dan memasok situasi politik Inggris Ganarsih berpuasa mengempiskan perutnya menyelundupkan guntingan koran ke dalam perutnya agar sampai ke tangan Soekarno.

Siapapun yang di penjara memerlukan biaya hidup untuk menegakkan survivalitas keluarga. Selama Soekarno di penjara Inggit Ganarsih menafkahi keluarganya dengan berjualan apa saja agar dapur keluarga mengepul. Setiap harinya berjualan pakaian, jamu dan sebagainya mencari pendapatan keluarga. Meski mempunya pendapatan dari orang yang indekos di rumahnya karena belum mencukupi haruslah ditambah berjualan.

Masa tahanan Soekarno berakhir 1931. Sebagai tokoh gerakan garis depan nasionalisme Soekarno tidak pernah berhenti memompa massa melawan kekuasasn kolonial. Rumahnya tetap berfungsi sebagai tempat berkumpul dan bertemunya kalangan kaum pergerakan membincangkan strategi perjuangan. Inggit Ganarsih tetap mengikuti bergeraknya nyala api gerakan kebangsaan manakala strategi perjuangkan dibahas dan diputuskan dari rumahnya.

Intelijen polisi tidak pernah putus mengawadi kewirausahaan politik Soekarno yang terus memobilisasi massa. Tersebab mendisrupsi ideologi keamanan dan ketertiban bangunan sistem politik kolonial Soekarno kembali ditangkap tahun 1933.

Penangkapan Soekarno tidak diteruskan ke penjara tetapi akan dibuang atau diasingksn ke tempat lain. Tentang pengasingan Soekarno ini pernah menjadi perdebatan kontroversial. Ada yang mengatakan karena akan dibuang ke Boven Digul Soekarno meminta ampun kepada pemerintah kolonial. Inggit Ganarsih menangis meminta maaf agar tidak diasingkan ke Boven Digul.

Namun yang pasti Soekarno diasingkan ke Ende Flores. Inggit Gnarsih berssma keluarga dekat dan anak angkatnya menemani Soekarno ke pengasingan di Ende Flores. 1934.

Tahun 1938 pengasingan Soekarno dipindah dari Ende Flores ke Bengkulu. Selama di Bengkulu Soekarno dan Inggit Ganarsih hudup bersama terus meniupkan semangat kebangsaan. Menyaksikan bakti hidupnya kepada Soekarno dari Bandung sampai ke pengasingan Endeh Flores dan Bengkulu Inggit Ganasih membingkai kebangsaan Soekarno muda.

Selama di Bengkulu Soekarno dan Inggit bertemu seorang pemimpin Muhammadiyah setempat. Pemimpin Muhammadiyah ini mempunyai anak perempuan bernama Fatmawati yang sering bermain dengan anak angkat Soekarno yang Inggit Ganarsih dianggap anak sendiri.

Di pengasingan Bengkulu Soekarno tertarik dan jatuh cinta dengan Fatmawati. Tahun 1943 Soekarno dan Inggit berpisah. Soekarno kawin dengan Fatmawati.

Inggit Ganarsih kembali tinggal di rumahnya Bandung tempat membingkai arah kebangsaan Soekarno muda sepanjang dua puluh tahun dari 1923 – 1943.

Penulis adalah Guru Besar Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *