Torehan Kolonial

Oleh Shohibul Anshor Siregar

  • Bagikan
<strong>Torehan Kolonial</strong>

Garis spiritualisasi dapat ditemukan dalam arus balik, sebagai aturan yang lebih lemah daripada yang menganggap kekayaan sebagai tanda nikmat Allah, namun masih dapat dilihat dengan jelas—arus yang menolak kekayaan berlebihan dan mengajarkan penghematan dan kesederhanaan, dan kadang-kadang bahkan seakan memuliakan kemiskinan

Dalam karyanya yang terbit tahun 1951 berjudul Oude en nieuwe Islamieten in Indonesië (Muslim lama dan baru di Indonesia), W.F. Wertheim menyebut bahwa citra yang dimiliki orang Eropa Barat tentang agama Islam sebagian besar didominasi oleh ingatan dari masa kecil yang cacat dan berantakan. 

Memperbandingkannya dengan kondisi saat ini, setelah negeri itu beroleh kemerdekaannya hampir satu abad, rasanya dapat tiba pada kesimpulan bahwa sebetulnya tak mengalami banyak perubahan. 

Waktu itu, dibimbing perasaan rasistik yang merasa beroleh pembenaran teologis, dan dalam fakta politik hak-hak istimewa untuk menjajah, yang umumnya dimiliki oleh hampir seluruh bangsa-bangsa di Eropa, dan dalam kelaziman merendahkan semua orang yang mereka anggap barbar dan liar serta pagan, banyak pengetahuan menyesatkan tentang Islam terus berputar-putar dan berakumulasi dalam ingatan mereka. 

Misalnya tentang Perang Salib dan pertempuran melawan bangsa Moor, tentara Turki yang ganas, dan corsair Afrika Utara, yang semua itu mendominasi pembentukan sikap. 

Berbekal telaahan atas naskah yang penulisannya semula dimaksudkan untuk materi kuliah pada Hari Universitas di Amsterdam pada tanggal 14 Oktober 1950, artikel ini ingin menunjukkan jawaban atas faktor-faktor penyebab persamaan pada dua era yang berbeda (era kolonial dan era kemerdekaan). 

Oude en nieuwe Islamieten in Indonesië adalah kajian yang menjadi bagian dari laporan yang dihasilkan untuk konferensi International Institute of Pacific Relations dengan judul Effects of Western Civilization on Indonesian Society.

Snouck Hurgronje

Semua endapan ingatan buruk tentang Islam itu menyatu menjadi gambaran yang, sering kali secara tidak sadar lebih didasarkan pada hanya ingatan akan pertempuran antara salib dan bulan sabit. 

Dengan begitu orang Barat akhirnya tak pernah sadar keberadaannya yang kurang lebih terkurung dan menyenangi diri dalam posisi itu dengan segenap situasi menguntungkan yang memaksanya wajib bermusuhan dengan Islam.

Nama Muhammad, misalnya, hingga kini masihlah seakan dibiarkan terus membangkitkan lebih banyak asosiasi negatif dengan prajurit bengis Turki yang biadab daripada dikaitkan dengan citra bijak yang saleh yang berpaling ke dalam untuk pemberdayaan, kemanusiaan dan perdamaian sesama umat plural. 

Studi mendalam tentang Islam yang dilakukan oleh tak sedikit orang seperti Snouck Hurgronje dan para pendukung alirannya, menurut W.F. Wertheim, tidak banyak mempengaruhi gagasan umum orang awam tentang agama ini. Mengapa begitu? Ternyata hal ini sebagiannya adalah karena fakta bahwa para ilmuan ini memang telah berbicara kepada publik tertentu, tetapi pada bagian lain juga karena mereka lebih peduli dengan masalah akidah dan kepatuhan, dengan ritual dan mistisisme, daripada berusaha dengan jujur menjawab pertanyaan: “apa sebenarnya yang dimaksud Islam dan apa pengaruh Islam yang bukan sebagai kumpulan ajaran belaka, tetapi lebih dari itu ialah sebagai dunia ide terhadap manusia dan masyarakat?” Meminjam kalimat W.F. Wertheim, sosiologi Islam saat itu memang belum ditulis oleh siapa pun. 

Tetapi W.F. Wertheim pun tampak menyembunyikan sesuatu, karena etimbang mengatakan orang sepakar Max Weber, yang memang berusaha mempelajari semua agama besar dalam aspek sosialnya, rasanya tak elok untuk mengatakan bahwa saat itu ia belumlah sampai pada kajian Islam.  

Wertheim benar mengatakan bahwa beberapa baris dari Weber yang dia curahkan untuk Islam, tampaknya dapat menunjukkan bahwa dia juga belum dapat sepenuhnya melepaskan diri dari konsepsi Kristen tradisional tentang Islam sebagai agama para pejuang.

Kata W.F. Wertheim, kami di Belanda masih bingung mengapa Islam yang dipraktikkan oleh sekitar sembilan puluh persen orang dan begitu menarik serta begitu mengakar dalam kehidupan emosional dan intelektual. Baik misi Kristen maupun budaya Barat tidak berhasil mengatasi pengaruh itu. Mengapa modernisme Islam, yang pada abad itu tampak mengarah pada kebangkitan kembali Islam?

Dua Bukti Wertheim

W.F. Wertheim menghadirkan dua pokok bahasan, pertama, Islam di kota-kota pesisir Asia kuno. Kedua, Penetrasi Barat. Islam masuk ke Nusantara, sebagaimana menjadi pemahaman umum hingga saat ini, dimungkinkan dengan interaksi melalui jalur perdagangan. 

Dibawa pada awalnya oleh pedagang dari India, dan muncul di sana dalam bentuk yang telah beroleh bentuk selama dikenal di tempat “persinggahannya” itu. Itulah yang kemudian dikenal dengan Islam yang telah menyesuaikan diri selama berabad-abad dengan struktur sosial kota-kota perdagangan Asia Selatan, yang oleh W.F. Wertheim disebut Islam sekuler, yang berfungsi untuk mendukung struktur sosial yang ada, dengan segala ketidaksetaraannya, untuk mendukung juga yang kuat dan sukses, dengan segala kelemahan manusiawi mereka. 

Agaknya bermanfaat mengutip sepenuhnya ungkapan W.F. Wertheim di sini: Orang saleh, seperti dalam kisah Sindbad si Pelaut, dihadiahi kekayaan. Dia hanya perlu memberikan sebagian dari keuntungannya kepada orang miskin untuk menjaga nikmat Allah. Pangeran yang menjalankan tugas agamanya secara wajar, jenderal yang menang, pedagang yang makmur, semuanya mendapat dukungan dari hukum Islam dan dari para ahli hukum yang diakui secara resmi yang bertindak sebagai kadi atau mufti, sebagai hakim atau penasihat dalam melayani monarki. 

Pedagang kota bukanlah warga negara yang bebas dan mandiri, berpikir secara individu dan dalam hubungan individu dengan dzat yang maha tinggi; mereka yang menginginkan pengalaman religius yang lebih pribadi harus beralih ke mistisisme. 

Tetapi mistisisme itu tak memudahkan kemandirian individu, karena di sini juga dia harus tunduk pada kekuasaan dan otoritas guru agama. 

Mereka tunduk pada otoritas hukum Islam, sebagaimana seharusnya mereka tunduk pada struktur feodal tradisional. 

Namun, selain arus atas yang sekuler dalam Islam, selalu ada arus bawah yang lebih terfokus pada persamaan manusia, nilai individu, spiritualisasi kehidupan. Islam telah berkontribusi banyak terhadap humanisasi banyak adat istiadat di dunia Timur. 

Gagasan kesetaraan tidak tercermin dalam penghapusan perbudakan, tetapi, dalam perlakuan yang lebih baik terhadap mereka dan bahkan dalam adopsi, juga oleh kebebasan, posisi simbolis para budak: posisi duduk, yang di dalamnya ada pengakuan tertentu atas persamaan prinsip bebas. 

Garis spiritualisasi dapat ditemukan dalam arus balik, sebagai aturan yang lebih lemah daripada yang menganggap kekayaan sebagai tanda nikmat Allah, namun masih dapat dilihat dengan jelas—arus yang menolak kekayaan berlebihan dan mengajarkan penghematan dan kesederhanaan, dan kadang-kadang bahkan seakan memuliakan kemiskinan.

Tentang penetrasi Barat dan Penyebaran Islam, W.F. Wertheim melihat adanya paradoks. Dapat dikatakan bahwa penyebaran Islam di Nusantara disebabkan oleh orang Barat. Bagaimana menjelaskan hal ini?

Kedatangan Portugis yang menyebabkan raja-raja masuk Islam secara besar-besaran telah sekaligus sebagai langkah politik tandingan terhadap penetrasi Kristen. Para juru tulis Islam asing dan guru agama yang sering hadir di kota-kota pesisir memainkan peran yang menentukan dalam transisi para pangeran ke Islam. Tradisi yang mengaitkan peran penting dalam proses Islamisasi Indonesia kepada para wali, tentu tidak salah. Peralihan itu semakin mudah bagi para wali dan para pangeran, karena Islam Indonesia pada masa-masa awal dapat terhubung cukup erat dengan tradisi keagamaan periode Hindu.

Pertimbangan politik apa yang sebenarnya membuat para raja, di bawah pengaruh penetrasi Portugis, menerima Islam? Apakah perhatian utama mereka untuk dapat merekrut tentara yang andal dari penduduk perkotaan? Atau apakah kesempatan untuk bersekutu dengan raja Mughal yang perkasa dan raja Islam lainnya menjadi momen kunci? 

W.F. Wertheim melihat keungkinan kedua pertimbangan itu sama-sama berperan. Meskipun pasukan pada waktu itu sebagian besar adalah tentara budak, inti yang dapat diandalkan seringkali menjadi penting, seperti yang ditunjukkan oleh kisah pertempuran Demak melawan Padjang, ketika pasukan budak melarikan diri, tetapi Demak yang asli  yang kemungkinannya dalah Muslim seluruynya, tetap bertempur (HJ de Graaf, 1949). 

Seluruh atmosfer perkotaan mungkin memainkan peran lebih besar dalam hal ini daripada pertimbangan rasional tertentu. Dunia telah melihat bahwa penduduk perkotaan, terutama kota-kota pelabuhan, sering mendominasi yang sekaligus dapat disebut bisa menjadi insentif penting bagi raja di saat kerusuhan untuk tidak ketinggalan. 

Para guru agama dapat memberikan pengaruh yang besar pada kaum borjuis. Dengan mencabut pengakuan mereka dari seorang raja, mereka dapat sangat merusak posisinya dalam perang melawan Portugis, melawan penguasa kerajaan pesisir atau dalam yang berdekatan, atau melawan orang yang berpura-pura naik takhta. 

Pada sisi lain, dengan mengakuinya sebagai ‘raja Islam’, sehingga memberinya semacam pentahbisan, para wali ini mampu memperkuat otoritasnya. Tentu, semakin besar jumlah kekayaan yang diislamkan di Indonesia, semakin besar insentif bagi yang lain untuk tidak ketinggalan.

Begitu para penguasa pelabuhan memeluk Islam, kepentingannya untuk mempromosikan bahwa penduduk pedesaan juga mengikuti teladannya. Sekali lagi, para guru agama memainkan peran penting dalam hal ini. Dari raja mereka diberi desa-desa tertentu, yang dibebaskan dari pajak kepada pemerintah sekuler, dan di mana mereka dapat mendirikan sekolah. Melalui sekolah-sekolah ini dakwah internal dapat berjalan. 

Kadang-kadang sekolah agama, yang disebut pesantren, adalah bekas biara Hindu atau Budha, seperti halnya para wali kadang-kadang bekas penyihir Hindu. 

Penutup

Periode Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) selama berabad-abad menyebabkan situasi politik di Indonesia didominasi oleh hubungan segitiga antara tiga kelompok yang paling berkuasa (keluarga kerajaan Indonesia, penguasa Belanda, dan para guru agama). 

Berabad-abad hubungan Salib dan Bintang Bulan didominasi oleh pertempuran yang kerap mengambil bentuk terbuka, pembajakan dan penyelundupan yang lebih terselubung oleh raja-raja Indonesia untuk merugikan Perusahaan Hindia Timur. 

Tetapi tentu yang lebih sering terjadi adalah pertempuran dalam bidang politik sebagai tekanan untuk menjaga agar unsur-unsur Islam, yang dalam bahasa mereka “ganas”, tetap terkendali. 

Kata “ganas” itu mungkin kini berubah sebutan menjadi radikal, intoleran dan lain-lain ungkapan senada. Satu hal lain, bumbu tuduhan khilafah dengan amat sangat semberono kini menjadi jimat yang cukup diandalkan oleh pengasa yang terkoneksi dengan imperialisme global yang formasinya tak jauh berbeda dengan kekuatan imperialisme lama zaman barbar.

Penulis adalah Dosen Fisip UMSU, Koordinator Umum Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya (‘nBASIS).

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *