PendidikanSumut

Di Balik Algoritma, Kesehatan Mental Terancam

Di Balik Algoritma, Kesehatan Mental Terancam
Ilustrasi
Kecil Besar
14px

Oleh: Puan Rahma Andari Br. Manurung dan Sri Wahyu Handayaningsih

     Di zaman sekarang, hidup rasanya tak pernah benar-benar lepas dari layar. Bangun tidur, tangan refleks meraih ponsel. Sebelum tidur, jari masih sibuk menggulir media sosial. Dunia digital memang membuat segalanya terasa dekat, cepat, dan praktis. Namun tanpa disadari, di balik semua koneksi itu, manusia justru makin sering merasa sendirian.

     Media sosial awalnya hadir sebagai ruang berbagi. Sayangnya, kini ia juga menjadi ruang pembanding. Banyak pemberitaan menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan berdampak pada kesehatan mental, terutama pada generasi muda. Anak muda menjadi kelompok paling rentan karena hampir seluruh aktivitas sosial mereka berlangsung di ruang digital mulai dari pertemanan, pencitraan diri, hingga pencarian pengakuan.

     Kasus kematian remaja Inggris, Molly Russell, memicu sorotan terhadap peran media sosial. Laporan Sky News menyebutkan bahwa algoritma Instagram dan TikTok diduga menampilkan konten terkait depresi, self-harm, dan bunuh diri secara berulang kepada remaja, sehingga berpotensi berdampak buruk pada kesehatan mental mereka.(“TikTok and Instagram Accused of Targeting Teens with Suicide and Self Harm Content,” 2022).

     Para ahli pun tidak tinggal diam. Dalam berbagai pemberitaan, psikolog mengingatkan bahwa media sosial dapat memperburuk kondisi mental ketika digunakan tanpa batas. Kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna di layar dapat mengikis rasa percaya diri. Tekanan untuk selalu terlihat bahagia, sukses, dan “baik-baik saja” membuat banyak orang memendam lelahnya sendiri.

      Dampak ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Perlahan namun pasti, penggunaan gawai yang berlebihan membuat seseorang mengalami kelelahan emosional, sulit tidur, sulit fokus, dan menarik diri dari lingkungan sekitar. Ironisnya, di tengah ratusan notifikasi dan ribuan pengikut, rasa sepi justru semakin nyata. Kita terhubung ke mana-mana, tetapi kehilangan kedekatan yang sebenarnya.

      Karena itu, dunia digital perlu disikapi dengan lebih bijak. Membatasi waktu layar, berani rehat dari media sosial, serta kembali membangun interaksi nyata adalah langkah kecil yang berarti besar. Teknologi seharusnya membantu manusia menjalani hidup, bukan membuat manusia lupa bagaimana rasanya menjadi manusia.

      Melalui matakuliah Digital Society  dengan dosen pengampu Ibu Anim S.Si, M.Pd, kami sebagai mahasiswa Prodi Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Asahan ingin menyampaikan melalui artikel ini bahwa media sosial bukan lagi sekadar ruang berinteraksi, melainkan telah menjadi kekuatan sosial yang memengaruhi cara manusia berpikir, merasa, dan menilai dirinya sendiri. Algoritma bekerja secara senyap, menyaring dan menyajikan konten yang terus dikonsumsi pengguna, termasuk oleh generasi muda yang paling rentan. Akibatnya, dunia digital yang seharusnya mendekatkan justru kerap melahirkan tekanan, perbandingan, dan rasa kesepian yang tak terlihat. WASPADA.id

Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Asahan

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE