Pendidikan

Safeguard VR: Strategi Tim Siswi SMAN 8 Jakarta Perkuat Literasi Digital Terhadap Bahaya Online Grooming

Safeguard VR: Strategi Tim Siswi SMAN 8 Jakarta Perkuat Literasi Digital Terhadap Bahaya Online Grooming
Kecil Besar
14px

JAKARTA (Waspada.id): Ancaman online grooming atau manipulasi psikologis terhadap anak di dunia maya kini memasuki fase yang semakin mengkhawatirkan seiring transisi menuju ekosistem metaverse.

Menanggapi urgensi ini, tim peneliti yang juga merupakan murid SMA Negeri 8 Jakarta (SMANDEL) terdiri dari Ajeng Salma Layla Amira, Isabel Adora Putri Swastika dan Syahgita Zaffarina Azzahra, memperkenalkan sebuah terobosan pedagogis berbasis teknologi tingkat tinggi.

Karya mereka yang bertajuk “Safeguard VR: VR-Based Education Against Online Grooming” sukses menyabet Medali Perak dalam ajang Youth International Science Fair (YISF) 2026 yang diselenggarakan atas kerja sama Indonesian Young Scientist Association (IYSA) dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Digelar di Yogyakarta sejak 31 Maret sampai 2 April 2026, kompetisi hybrid ini diikuti 592 tim berasal dari 16 negara; Indonesia, Amerika Serikat, Russia, China, Korea Selatan, Hongkong, Turki, Singapura, India, Pakistan, Mesir, Vietnam, Brazil, Filipina, Thailand dan Uni Emirat Arab.

Inti dari riset yang dilakukan tim SMANDEL ini adalah mengatasi “celah desensitisasi” pada remaja. Banyak anak muda merasa kebal terhadap penipuan digital (illusion of invulnerability), padahal grooming modern sering kali dimulai dengan persahabatan yang tampak tulus. Melalui perangkat Virtual Reality (VR), Safeguard VR menciptakan “simulator penerbangan digital”.

Di dalamnya, siswa tidak hanya menonton, tetapi menjadi partisipan aktif yang harus menavigasi area abu-abu dalam interaksi sosial secara real-time. Proyek ini menggabungkan mesin pengembang dengan sensor biometrik untuk memantau tingkat stres pengguna. Jika siswa merasa tertekan, sistem secara otomatis memicu mode “Pause & Reflect” agar mereka dapat berdiskusi dengan konselor virtual. Inovasi ini menawarkan pergeseran dari metode ceramah kelas yang statis menuju pengalaman imersif yang interaktif.

Adapun kerangka kerja VR yang mereka rancang terdiri dalam empat tingkatan yang masing masing memiliki skenario berbeda.

• Level I (The Hook): Siswa belajar mengenali hyper-validation atau pemberian hadiah digital berlebihan (love bombing) dari avatar AI.
• Level II (The Shift): Melatih kepekaan saat percakapan mulai berpindah ke ranah pribadi atau rahasia yang mengisolasi anak dari orang tua.
• Level III (The Pressure): Siswa berlatih melakukan penolakan tegas (Assertive Refusal) melalui perintah suara yang dianalisis oleh teknologi Natural Language Processing (NLP).
• Level IV (The Exit): Edukasi teknis mengenai pelaporan, pemblokiran, dan identifikasi “orang dewasa yang aman” untuk bercerita. (id29)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE