TANGERANG SELATAN (Waspada.id): Guru diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, ramah anak, serta mendorong anak untuk bertanya, bermain, berimajinasi, belajar berbagi, bekerja sama, dan berkomunikasi dengan bahasa yang baik. Lingkungan bahasa, sikap pendidik, serta interaksi sosial dinilai menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter anak sejak usia dini.
Hal itu disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, dalam kegiatan sosialisasi Wajib Belajar 13 Tahun yang digelar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia di Tangerang Selatan, Kamis (26/2/2026).
Masa usia dini disebut sebagai masa emas (golden period) yang sangat menentukan fondasi perkembangan anak, baik dari aspek motorik, intelektual, sosial, maupun spiritual. Karena itu, anak-anak perlu mendapatkan kesempatan untuk mengeksplorasi imajinasi, menumbuhkan rasa percaya diri, serta kesiapan belajar pada jenjang berikutnya melalui bimbingan pendidik dan lingkungan belajar yang mendukung.
Terkait Wajib Belajar 13 Tahun, menurut Mendikdasmen Abdul Mu’ti, merupakan bagian dari program prioritas Presiden untuk menyiapkan Generasi Emas Indonesia 2045.
Direktur PAUD, Nia Nurhasanah, menambahkan bahwa pemerintah mendorong pemenuhan Wajib Belajar 13 Tahun yang mencakup pendidikan dasar serta satu tahun kelas prasekolah. Penekanan diberikan pada pentingnya kesiapan anak sebelum memasuki pendidikan dasar melalui layanan prasekolah yang berkualitas, termasuk perluasan akses, penyediaan ruang kelas, peningkatan mutu pendidik, serta komitmen pemerintah daerah.
Sementara itu, Direktur Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal, Baharudin, menegaskan bahwa jalur nonformal memiliki peran penting dalam menuntaskan Wajib Belajar 13 Tahun melalui Program Paket A, Paket B, dan Paket C yang diselenggarakan oleh SKB dan PKBM.
Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan bahwa tren pendidikan nonformal terus meningkat, termasuk bertambahnya PKBM yang dibangun masyarakat melalui jaringan organisasi seperti Aisyiyah dan Muhammadiyah. Pemerintah pun memberikan perhatian setara melalui revitalisasi dan digitalisasi satuan pendidikan nonformal.
Selain penguatan layanan pendidikan, pemerintah juga menaruh perhatian pada pemenuhan gizi anak melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyasar peserta didik, ibu hamil, dan ibu menyusui. Upaya ini dinilai sejalan dengan visi mewujudkan pendidikan bermutu bagi semua serta memastikan tumbuh kembang anak optimal sejak dalam kandungan. (id11)


















