TANGERANG (Waspada.id): Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah IV Jawa Barat dan Banten, Lukman, menegaskan bahwa profesi perawat dan bidan tidak akan pernah tergantikan oleh kecerdasan buatan (AI) maupun robot, karena pelayanan kesehatan membutuhkan empati dan sentuhan kemanusiaan.
“Robot bisa memberikan obat, AI bisa membaca data, tetapi keduanya tidak bisa memberi harapan dan menyentuh hati pasien. Karena itu profesi perawat dan bidan tidak akan tergantikan,” ujar Lukman saat memberikan sambutan dalam acara Wisuda Universitas Bhakti Asih Tangerang (UNIBANG) sekaligus Dies Natalis ke-2 di Hotel Atria, Tangerang, Banten, Senin (19/1/2026).
UNIBANG adalah perguruan tinggi di bawah naungan Yayasan Bhakti Asih Karang Tengah Tangerang. Hadir dalam kesempatan itu Pembina Yayasan Hj. Dedeh Nurhayati, Ketua Yayasan dr. Sulaiman Ratman, MPH serta Rektor UNIBANG Dr Paristiyanti Nurwardani.
Menurut Lukman, seluruh proses akademik wisudawan telah memenuhi ketentuan administrasi nasional. Sebanyak 92 lulusan dari program studi S1 Keperawatan, Profesi Ners, dan D3 Kebidanan telah mengantongi nomor PIN nasional sehingga wisuda dinyatakan sah.
Ia juga mengingatkan bahwa tantangan dunia kerja semakin kompetitif, termasuk dengan hadirnya teknologi AI. Namun, sektor kesehatan dinilai tetap memiliki peluang besar, mengingat kebutuhan tenaga kesehatan terus meningkat, baik di dalam maupun luar negeri.
“Indonesia membutuhkan banyak tenaga kesehatan. Bahkan permintaan dari luar negeri seperti Jepang, Italia, Portugal, dan negara lain juga sangat tinggi. Ini peluang besar bagi lulusan,” katanya.
Mahasiswa
Baru Naik Tajam, Target 920 Wisudawan
Dalam kesempatan yang sama, Rektor UNIBANG Paristiyanti Nurwardani menyampaikan bahwa jumlah mahasiswa UNIBANG mengalami peningkatan signifikan. Jika tahun lalu mahasiswa baru hanya 196 orang, tahun ini jumlahnya melonjak menjadi 938 mahasiswa baru.
“Kami mewisuda 92 orang hari ini. Tahun lalu 62. Dengan pertumbuhan mahasiswa baru yang sangat besar, kami optimistis dalam 3–4 tahun ke depan jumlah wisudawan bisa mencapai 920 orang,” ujar Paristiyanti.
Ia menyebut lonjakan tersebut tidak lepas dari kepercayaan masyarakat dan dukungan berbagai pihak, termasuk peran media dalam memperkenalkan UNIBANG kepada publik.
Paristiyanti juga mengungkapkan bahwa UNIBANG memperoleh 105 penerima beasiswa KIP Kuliah pada tahun ini, meningkat drastis dibanding tahun lalu yang hanya lima penerima.
“Universitas yang baru berusia dua tahun dipercaya menerima 105 KIP Kuliah. Ini bentuk kepercayaan negara kepada kami,” katanya.
Selain itu, Yayasan Bhakti Asih melalui Ketua Yayasan dr. Sulaiman dan Pendiri Hj. Dede memberikan beasiswa bebas UKT kepada 400 mahasiswa. Kebijakan tersebut dinilai sebagai bentuk komitmen sosial dalam memperluas akses pendidikan tinggi.
Dalam dua tahun berdiri, UNIBANG telah mencatat sejumlah capaian akademik. Dua program studi, yakni S1 Keperawatan dan D3 Kebidanan, berhasil meraih akreditasi ‘Baik Sekali’. Selain itu, kelulusan uji kompetensi mahasiswa D3 juga mencapai 100 persen (one shoot).
Di bidang tridharma, UNIBANG mencatat 94 penelitian dosen per tahun, 32 Hak Kekayaan Intelektual (HKI), serta publikasi yang telah terindeks secara internasional.
Untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia, UNIBANG juga menyiapkan program studi lanjut dosen. Sebanyak 14 dosen akan dikirim studi lanjut ke dalam dan luar negeri, dengan target 40 persen dosen bergelar doktor dalam 2–4 tahun ke depan.
Paristiyanti menyebut UNIBANG menargetkan status Perguruan Tinggi Unggul pada 2028, bahkan didorong oleh LLDikti agar bisa dipercepat.
“Kami juga ditantang menyiapkan pembukaan Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Gigi dalam 2–4 tahun ke depan,” katanya.
Lukman turut mendorong UNIBANG agar berani membuka program studi strategis tersebut. Menurutnya, kebutuhan tenaga medis di Banten masih sangat besar dan peluang pengembangan institusi terbuka lebar.
UNIBANG juga mengembangkan program internasionalisasi melalui fasilitasi magang mahasiswa ke Jepang.
Mahasiswa, sejak semester lima telah difasilitasi magang selama 2–4 semester, disertai pelatihan bahasa Jepang gratis hingga level N4.
“Program tersebut memberikan peluang penghasilan hingga sekitar Rp18 juta per bulan bagi mahasiswa, serta didukung jejaring internasional yang dibangun oleh pihak yayasan,”tutup Paristiyanti.












